Takdir Cinta Twins

Takdir Cinta Twins
Penyelamatan


"Kak Nathan!


Vana berlari dan menghampiri Nathan yang setengah tubuh nya masih berada di dalam mulut ular itu. Dua orang Pria itu berlari kearah Nathan dan menarik tubuh Nathan keluar dari mulut ular piton.


Vana bernafas lega saat Nathan sudah berhasil di selamatkan dan keluar dari mulut ular melata yang menjijikkan tersebut. Vana menatap dua orang pria yang datang menolongnya hingga mata mereka saling bersitatap.


"KAU! pekik Vana.


"Kak David? kenapa bisa berada disini?


Pria itu menatap Vana penuh Tanya. "Kenapa kau terkejut? bukan saat nya bertanya." Pria itu seperti tahu apa yang sedang Vana Pikirkan "Lebih baik kita bawa Nathan ke rumah sakit sebelum terlambat. Ia hampir saja kehilangan nyawa karena sudah menolong mu berkali-kali." tukasnya lalu mengalihkan pandangan matanya dari wanita yang berjongkok di samping nya.


Pria itu menarik nafas dalam dan di raih nya tangan sahabatnya "Nathan bertahan lah, aku akan secepatnya membawa mu kerumah sakit."


"Kak Nathan! Vana menatap iba kondisi kekasih nya yang banyak di penuhi luka. kondisi Nathan sangat mengenaskan saat ini, banyak cairan lendir ular ditubuhnya dan sudah tidak bergerak sama sekali.


"Kak Nathan.." hiks.. hiks... Vana menangis tersedu-sedu sambil terus menatap wajah pria yang sangat ia cintai.


"Lihat ular besar pemakan manusia ini ada di dalam hutan yang dekat dari penduduk, sudah pasti banyak korban jiwa yang ia makan." David berkata pada anak buahnya.


"Benar bos, ini sangat berbahaya bagi penduduk sekitar. lebih baik hubungi pihak terkait biar tidak ada korban jiwa lagi, takutnya masih ada ular-ular lainnya yang sedang berlindung."


"Kau benar, saya akan hubungi pihak kepolisian dan akan menangani kasus ini. Yang terpenting kita harus membawa Nathan ke rumah sakit segera, sahabat ku butuh pertolongan."


Dengan cepat David menghubungi anak buahnya. Tak lama kemudian beberapa orang pria datang dengan membawa tandu dan mengangkat tubuh Nathan keatasnya untuk membawanya keluar dari hutan.


Melihat kondisi Vana yang syok, membuat David prihatin. Ia mengambil botol air dalam tas ranselnya dan memberikan pada Vana "Minumlah dulu, kau pasti syok!"


Vana menerima botol air mineral itu, lalu meneguknya hingga tandas. Vana memang membutuhkan air, sebab sudah beberapa hari berada di dalam hutan tidak meminum air bersih. Tandu yang berada Nathan diatasnya diangkat oleh empat orang dan dibawanya keluar hutan.


"Apa kau butuh tandu juga? kalau kau lemas aku akan suruh orang bawa tandu kesini."


"Tidak usah Kak, aku masih kuat berjalan." Vana terus mengikuti langkah mereka tanpa mengeluh, walau sebenarnya ia sangat lapar dan lelah, namun Vana tetap bertahan dan berjalan di belakang David. Tiba-tiba kepala Vana pusing dan pandangan matanya mengabur. Tanpa bisa bertahan lagi tubuhnya oleng ke belakang, beruntung ada anak buah David di belakang Vana dan menangkap tubuh gadis cantik yang sudah pingsan.


"Bos, nona muda pingsan!"


David menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang, di dekatinya tubuh Vana yang sudah lemas tak berdaya "Biar saya saja yang gendong." David mengangkat tubuh Vana ala bridal style.


Beberapa puluh meter perjalanan, akhirnya mereka sampai diluar hutan. Di tanah lapang yang luas David membawa Vana dan Nathan kedalam helikopter dan pergi meninggalkan hutan yang penuh dengan kenangan mengerikan.


Helikopter terbang dengan kecepatan tinggi, kurang dari dua jam helikopter sudah mendarat dengan sempurna di sebuah lapangan terbang. Sebuah mobil ambulance yang sudah David pinta dari pihak rumah sakit, berhenti tepat di depan pintu helikopter. David membuka pintu helikopter dan mengeluarkan tubuh Nathan bersama Vana di bantu oleh petugas medis kedalam mobil ambulance. Selang infus dan oksigen sudah terpasang di tubuh Nathan dan Vana, dua orang sepasang kekasih dalam kondisi memprihatinkan.


"Cepat! bawa sahabatku dan kekasihnya kerumah sakit! perintah David pada supir ambulance. Pria itu mengangguk dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Suara sirene ambulance menggema di jalanan raya pulau Bali, melintas di jalanan yang tidak begitu padat pengendara roda dua dan empat.


Setengah jam kemudian mobil ambulance berhenti tepat di lobby rumah sakit. Petugas medis mengeluarkan tubuh Vana dan Nathan keatas brangkar, tak jauh dari mobil ambulance yang terparkir David Keluar dari mobil dan mengikuti langkah petugas menuju ruangan UGD.


David mundar-mandir di depan pintu yang tertutup saat menunggu kondisi sahabatnya yang sedang terluka parah. 20 menit kemudian pintu UGD terbuka lebar, dua orang suster mendorong brankar keluar dari ruangan yang diatasnya ada tubuh Vana yang terbujur lemah.


"Mau dibawa kemana pasien inj sus?


"Tolong tempatkan dalam satu ruangan dengan sahabat ku di ruangan VIP."


"Baik Tuan!


Suster dan petugas medis lainnya mendorong brankar menuju ruangan VIP yang sudah David pesan.


"Bagaimana dengan agenda hari ini? jam berapa akan diadakan nya penyuluhan para Dokter baru, Dok? tanya seorang Dokter senior yang berjalan berdampingan dengan pria paruh baya berusia 48 tahunan.


"Tetap di adakan di Aula ? Pria itu mengangkat pergelangan tangannya dan menatap Arloji branded. "Tepat pukul dua siang aku sendiri yang akan menjadi mentor nya."


"Baik Dok, akan saya persiapkan semuanya."


Pria berkharisma itu mengangguk.


"Om Robert!


Suara panggilan seseorang mengentikan langkahnya, lalu ia menoleh "Dokter Ilyas?


pria muda itu berjalan mendekat dan mereka saling berangkulan "Apa kabar mu? kapan kau kembali dari Australia?" tanya Dr Robert seraya menepuk pundak Pria tampan berjas putih-putih itu.


"Sudah dua hari yang lalu, kebetulan hari ini saya membantu Dokter senior untuk menjadi pembicara di forum nanti."


"Bagus! kau bisa bantu Om juga nanti. Ohya bagaimana kesehatan ayahmu?


"Alhamdulillah sudah lebih baik setelah jantungnya di pasang ring Om."


Baguslah kalau begitu."


"Permisi Dokter." suster dan petugas medis laki-laki yang mendorong brankar vana menganggukkan kepala sebagai bentuk hormat pada pemilik rumah sakit, lalu melewati dua orang Dokter beda generasi itu.


"Tunggu!


Pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu menghentikan langkah Suster dan perawat laki-laki. Dokter Robert seperti mengenal Pasien diatas brankar. Dengan langkah cepat dan rasa penasaran ia meninggalkan dokter Ilyas. Saat sudah di depan brankar Dokter Robert terkejut dengan mata membulat.


"Zevana!


"Apa yang sudah terjadi dengan mu nak!" Robert menatap iba wajah keponakannya dan mengusap lembut kepalanya "Cepat kalian bawa anakku ke ruangan rawat VVIP!" perintah Robert dan membuat Suster dan lainnya di buat bingung.


"Kenapa kalian diam semua! cepat bawa anakku kerungan VVIP! dia juga pemilik rumah sakit ini!"


"Ba-ik Dok! mereka mengangguk dan melangkah keruangan VVIP di ikuti langkah Robert di belakang nya."


💜💜💜💜


@Sebelumnya bunda minta Ma'af kalau jarang update. pasti kalian kecewa, sama juga halnya dengan Bunda yang kecewa dengan "MT" Kenapa? karena pihak MT yang tidak berpihak pada Author yang sudah bekerja keras selama ini. Sudah masuk dua bulan hak Author belum juga di berikan. Bunda bukan mau curhat tapi juga mohon pengertiannya dari kalian. Jujur saja kita disini bekerja untuk MT, jadi dimana toleransi nya? Kami para Author yang bergabung di MT berharap masalah kami cepat selesai dan kembali aktif lagi dalam menulis 🙏🙏🙏


@Terima kasih banyak Pada kalian yang masih terus mendukung karya-karya Bunda dan komentar yang membangun 🙏🥰🥰