Sakitnya Berkorban

Sakitnya Berkorban
sebuah rencana


Yoongi tergesa masuk ke dalam rumahnya, matanya merah menahan amarah sembari melihat ke sekeliling. Ia pun menemukan hani yang tengah membereskan semua pakaiannya.


Meski tau akan kehadiran yoongi, hani dengan tenang memasukkan semua pakaiannya dan pakaian yoongi ke dalam koper.. ''kita akan kembali ke korea hari ini, aku akan membereskan semuanya dulu'' ucap hani dengan tenang.


Yoongi mendekat dan membalik koper yang sudah hani rapikan


''kenapa kau melampiaskan amarahmu padanya? kau tau betul dia tidak bersalah. Haaahh?'' teriak yoongi penuh amarah.


''dia menghancurkan rumah tanggaku, dan aku hanya menamparnya sekali, apa itu membuatmu begitu sangat marah?'' nada suara hani ikut tinggi menyamakan suara yoongi. ''dia mungkin berusaha menolakmu karna rasa kecewanya. Tapi, dengan ia bertingkah begitu membuatmu jadi tidak karuan, tingkahnya membuatmu merasa hidup dalam selimut penyesalan, hingga akhirnya kau berpikir kembali dengannya adalah jalan terbaik'' hani mengungkapkan pendapatnya, suaranya melemah karna sesak di hatinya.


''aku mencintainya? di hatiku dia satu satunya.'' ucap yoongi dengan jelas.


Mendengar orang yang ja cintai mencintai orang lain membuat dunia hani terasa hancur, ia berusaha tegar di depan yoongi ''bagaimana denganku?, aku sangat mencintaimu yoongi, kau cinta pertamaku, kau memenuhi seisi hatiku'' ucapnya sambil menahan perasaan yang hancur.


''berhentilah terobsesi, aku menyerah akan dirimu'' ucap yoongi seusai membalik kopernya.


''kau tidak menyerah beberapa minggu lalu, kini kau menyerah saat baru bertemu dengannya''


''aku sudah cukup berusaha, tapi masalah yang belum selesai membuat hatiku semakin rumit menerimamu''


''apa rumitnya yoongi, dia tidak lagi mencintaimu, kesalahanmu meninggalkannya saat hamil sudah berlalu tahunan lalu, tidak ada yang bisa merubah kenyataannya'' hani berdiri sembari melempar pakaian yang ada di tangannya, ia sangat kesal karna yoongi masih kekeh ingin kembali pada sarah dan ingin menceraikannya.


''aku tidak meninggalkannya, kau sendiri tau aku ingin bersamanya saat itu. Kau yang membuatku menjadi penghianat, jika kau sangat mencintaiku, seharusnya kau mengingatkanku tentang sarah saat aku hilang ingatan. Bukan malah memaksaku untuk tetap menikahimu'' amarah yoongi memuncak mengingat kejadiannya.


''apa kau pikir ini semua salahku, aku hanya mencintaimu'' ucap hani dengan suara tersendat karena menangis ''aku pikir dia setuju untuk aborsi, dan,,,,'' hani menghentikan ucapannya, dan menatap yoongi gugup.


''apa yang baru saja kau katakan?'' yoongi menatap hani dengan tajam ''apa kau dan mama sengaja melakukan itu semua pada sarah,? apa kau,,, Astagaa, aku benar benar tidak menyangka kau juga ikut terlibat'' Yoongi sekuat tenaganya menahan agar tidak menangis, namun pendiriannya pun runtuh, ia berbalik dan menampar kaca rias di sampingnya hingga pecah untuk melampiaskan amarahnya.


Praaaaannnnggg


Pecahan kaca mengejutkan hani, matanya menggambarkan ketakutan karna amarah yoongi.


''yoongi,,, ini semua ide mama, saat itu aku sangat patah hati kau tidak memilihku, aku hanyaa,,,,'' hani mencoba mendekati yoongi dan memegang lengannya


''aku sudah kehabisan kata kata padamu,,, jadi sebaiknya kau diam'' yoongi menangkis tangan hani dan berniat untuk pergi. Namun langkahnya terhenti melihat ibunya kim dami berada di ambang pintu memperhatikan mereka yang sedang berdebat.


''kalian meributkan wanita itu'' ucap dami sambil melipat kedua tangannya. Ia lalu melihat ke arah yoongi yang terlihat kesal ''mama memang bersalah sayang,,''


Yoongi yang tak ingin mendengar ibunya langsung pergi melewati ibunya begitu saja.


''yoongii,,,'' lirih hani sambil mencoba mengejar yoongi yang mulai menjauh.


''biarkan dia tenang dulu, dia tidak akan menerima alasan apapun saat sedang marah begini'' ucap dami mencoba menghentikan menantunya.


''maa, gimana ini, yoongi kekeh ingin bercerai denganku'' rengek hani.


''tenanglah, mama punya sebuah rencana''


''rencana?, bagaimana?''


''kau tidak perlu tau dulu, kau akan tau sendiri nanti.. Ingat ini,, kau harus bertingkah baik pada yoongi, berusahalah agar tidak membuatnya kesal''


''tapi bagaimana jika dia akan menceraikanku?'' hani ketakutan setengah mati dengan hanya membayangkan yoongi akan menceraikannya.


''tenang saja, jika dia benar benar menyayangi jungkook, dia tidak akan menceraikanmu'' kim dami tersenyum jahat dengan idenya.


Di sisi lain jungkook tengah sibuk dengan pekerjaannya, sekretarisnya tiba tiba mengetuk dan masuk saat itu juga.


''ada apa?'' tanya jungkook dengan santai sambil tetap fokus pada pekerjaannya.


''sidangnya akan di laksanakan besok, tapi park hara tidak muncul juga, tidak mungkin ia tidak tau'' ucap rebecca.


''buatkan aku kopi'' ucap jungkook tak mengherankan ucapan rebecca.


''astaga,,,'' ucap sarah terkejut sembari memegang dadanya.


''maaf. Iyaa saya bawa bekal'' jawab sarah dengan sopan karna ia tau rebecca ada senior dan juga sekretaris jungkook.


''kau begitu terkejut, apa kau melamun?''


''tidak, saya hanya memperhatikan botol minuman ini saja'' jawab sarah sembari menunjuk botol yang ia pegang.


Rebecca mengambil gelas dan mulai membuat kopi, sarah sedikit bergeser saat rebecca mencoba mengambil air panas yang ada di belakang sarah.


''saya harus mencuci ini dulu'' ucap sarah saat ia sadar ia belum mencuci kotak makan siangnya. Ia pun dengan cepat mencucinya.


Suara gemerincing dari cucian sarah menarik perhatian rebecca.


''apa kau tidak berani ke kantin?'' tanya rebecca.


Sarah diam tak menjawab, bukan tak ingin menjawab, tapi sarah bingung bagaimana cara menjawab pertanyaan itu.


''aku harap kau baik baik saja, begitulah jika kita adalah orang yang tidak punya kekuasaan, orang orang lebih berani menginjak injak harga diri kita. Padahal mereka juga orang yang biasa seperti kita'' ungkap rebecca mencoba menghibur sarah.


''saya baik baik saja'' sarah mengelap tangannya sehabis mencuci, ia pun berniat pergi namun langkahnya terhenti karna ada pertanyaan yang terlintas dalam pikirannya.


''maaf, apa pak jungkook sedang sibuk?'' tanya sarah.


''iya, dia sedang sangat sibuk sekarang. Apa kau ingin bicara dengannya?''


''iya, ini tentang masalah pribadi, bisakah anda menyampaikan padanya''


''baiklah, aku akan menelpon mu nanti'' ucap rebecca yang tau semua tentang sarah dan jungkook.


Rebecca kembali ke ruangan jungkook dengan membawa secangkir kopi, ia menaruh kopi itu di meja kerja jungkook.


''ini kopinya''


''hmm, terima kasih'' sahut jungkook tanpa menoleh sedikitpun.


''aku bertemu sarah tadi di pantry, sepertinya dia tidak berani untuk makan siang di kantin''


Jungkook tak menghiraukan apa yang rebecca ucapkan, ia tetap memandang laptopnya dan tangannya memegang sebuah pulpen.


''jika ada waktu dia bilang ingin bicara''


''aku sibuk'' jawab jungkook jutek.


Rebecca hanya memandang dingin wajah jungkook, 'dia kembali pada sifat awalnya lagi' batin rebecca, ia pun berbalik dan keluar dari ruangan jungkook.


Sesaat setelah rebecca keluar jungkook langsung menutup laptopnya dan sedikit memijat keningnya. ''kenapa aku jadi begini?'' gumam jungkook karna merasa akhir akhir ini ia menjadi tidak bersemangat. Ia menatap ponselnya sejenak ''hari ini adalah pengecekan kandungan sarah'' ucapnya setelah memperhatikan tanggal di ponselnya.


''aku tidak harus melakukannya, aku akan minta kak yoongi yang mengantarnya nanti''


Saat semua karyawan pulang, jungkook juga ingin kembali ke apartemennya, ia menuruni lift sendirian, saat lift berhenti di lantai tiga liftpun terbuka memperlihatkan sarah yang tengah menunggu lift untuk turun.


Keduanya saling terdiam setelah menatap satu sama lain, sarah memberanikan dirinya untuk ikut masuk dalam lift.


Cukup hening sampai mereka pun sudah turun di lantai satu, jungkook dengan cepat pergi berjalan meninggalkan sarah.


''seharusnya aku yang bersikap begitu'' kesal sarah melihat tingkah jungkook yang langsung pergi meninggalkannya.


Sedangkan jungkook tergesa gesa masuk ke mobilnya ''kenapa aku begini, seharusnya aku bertanya setidaknya tentang kandungannya'' batin jungkook juga bingung dengan tingkahnya yang tak ingin menemui sarah.