Sakitnya Berkorban

Sakitnya Berkorban
persiapan pernikahan


Dengan langkah bak seorang ratu dami dengan tegap berjalan di sebuah kantor perusahaan yang sangat besar, semua orang tersenyum menghormatinya, dengan langkah percaya diri ia menemui suaminya yang menjadi pimpinan di perusahaan itu.


Tanpa mengetuk dami langsung memasuki ruangan suaminya ''bagaimana bisa dia ingin menikahi wanita itu secepat ini,?'' ucap dami tak percaya.


''jangan melakukan apapun kali ini, biarkan anakku menemukan kebahagiaannya tersendiri'' sambil membaca sebuah lembaran ayah jungkook memperingatkan istrinya seolah ia tau istrinya akan melakukan sesuatu.


''kau benar benar tidak pernah menghargaiku, aku sudah melakukan apapun agar jungkook bahagia tapi selalu salah di matamu''


Ayah jungkook menaruh lembaran yang ia baca dan melepas kaca matanya ''jangan membohongi diri sendiri dami, kau tidak pernah menyayangi jungkook, jika kau ingin jungkook bahagia seharusnya dari awal kau tidak perlu mengatakan bahwa kau bukan ibu kandungnya''


''lagi lagi kau mengungkitnya'' elak dami sambil membelakangi suaminya.


''kini aku tidak mempercayai kebahagiaan anak anakku padamu, bebaskan mereka memilih untuk hidupnya, apa lagi tentang pasangan''


''kenapa kau berkata begitu, kau merasa menjadi salah satu korban pernikahan paksa, kau tidak bahagia? hah? kau ingin mengatakan bahwa kau satu satunya orang yang tersakiti atas pernikahan kita'' ucap dami dengan lantang karna sangat marah


''aku tidak ingin lagi membahas tentang hubungan kita, ini tentang anak anak kita''


''Jangan Menyangkalnyaa!'' teriak dami


Suaminya melihat dami dengan sinis, ia menarik nafasnya perlahan ''menyangkal apa yang kau maksud?''


''kau menyesalkan akan hubungan kita''


''aku tidak tau ini sudah yang ke berapa kalinya kita membahas ini, kita sudah berumur, jadi mari kita hidup tenang sekarang, biarkan anak anak menjalani hidupnya''


Perkataannya mampu membuat dami diam, hanya suaminya yang mampu menurunkan egonya dami, meski fakta bahwa suaminya lah penyebab luka terbesarnya.


Sarah dan jungkook mulai menyiapkan pernikahan mereka, meski akan di rencanakan secara sederhana berita itu tetap tersebar di kalangan terdekat mereka.


''apa kau masih bisa melakukannya?'' tanya jungkook pada sarah yang baru memasuki mobilnya.


''tidak apa apa, ini hanya pekerjaan biasa''


''jangan terlalu lelah, jika merasa lelah beristirahatlah'' ucap jungkook yang panik pada kesehatan sarah karna tengah mengandung.


Sesampainya di kantor semua orang tercengang melihat sarah dan jungkook datang bersamaan, meski mereka sudah di beritakan berhubungan tapi datang dalam satu mobil dan berjalan beriringan membuat orang orang tercengang.


''kau memakai sepatu hak tinggi?'' ucap jungkook kaget setelah melihat bahwa sarah memakai sepatu hak tinggi.


''tidak apa apa, aku akan melepaskannya jika sampai di ruangan nanti''


''belilah yang datar nanti''


''baiklah''


Sarah sudah sampai di tempat kerjanya, ia melihat semua rekannya tengah sibuk dengan pekerjaannya masing masing.


''tumben sekali hari ini kau datang yang paling akhir?'' tanya nari setelah melihat sarah yang baru datang


''apa kau tidak lihat obrolan di grub chat pagi ini?'' lisa menyeka pertanyaan nari.


''apa?'' nari membuka ponselnya dan melihat obrolan chat.


''wah sarah hari ini kau di jemput ya?'' tanya nari


''i-iyaa''


''pantas saja terlambat'' nari tersenyum licik.


''aku tidak terlambat nari, lihat jamnya!'' ucap sarah tidak ingin di ejek.


Kehamilan kali ini sarah terlihat sangat tenang, ia merasa tidak mengkhawatirkan apapun, pekerjaannya pun terasa ringan. Saat masih tengah mengerjakan pekerjaannya sarah tertegun karna di panggil.


''ibu sarah?''


''iya kenapa pak'' jawab sarah melihat salah satu karyawan kebersihan menemuinya


''ini dari bapak pimpinan'' orang itu menyerahkan sebuah bingkisan pada sarah.


''oh ya, terimakasih ya pak'' sambit sarah menerimanya.


''apa itu?'' heboh lisa menghampiri sarah. Sarahpun membuka bingkisan itu.


''flat shoes?'' lisa terkejut sambil melihat sarah


''kenapa dia memberi mu flat shoes bukan sepatu mewah berhak?''


''memangnya kenapa jika ini flat shoes?'' tanya sarah sambil tersenyum.


''bukankah bagus yang punya hak, agar menunjang penampilan''


''terserah yang mau memberi saja'' jawab sarah, sesekali ia tersipu malu menatap sepatu itu.


Sarahpun duduk di kursinya dan mencoba sepatunya.


'ini pas' batin sarah sambil memperhatikan kakinya.


tiiinnng


Notifikasi pesan membuat sarah segera memeriksa ponselnya.


/apa sepatunya pas?/ tanya jungkook dalam pesannya


/iya, sepatunya pas/ jawab sarah, ia kembali tersenyum melihat sepatu itu.


Tak terasa hari sudah sangat sore, semua karyawan memenuhi koridor untuk pulang ke tempatnya masing masing. Saat sudah di luar ada seorang yang mampu membuat sarah terhenti dari langkahnya. Seseorang itu ialah maura, wanita itu berdiri di samping mobilnya menggunakan pakaian mini dan kaca mata.


Saat melihat sarah ia pun menghampirinya.


''boleh kita bicara?'' ucap maura


Karna tak punya alasan untuk menolak sarahpun mengiyakan permintaan maura untuk berbincang di cafe tak jauh dari kantornya.


''mau bicara apa?'' tanya sarah lembut


''apa berita yang aku dengar itu benar, apa kalian benar benar akan menikah?''


Sarah menatap mata maura cukup lama ''iya, rencananya kami akan melangsungkan pernikahannya bulan depan''


''benarkah?'' maura tersenyum getir


''kenapa tidak bertanya langsung pada jungkook?''


''aku tidak bisa menghadapinya, aku pasti akan sangat sakit hati jika mendengar itu darinya''


''jadi kau ingin terang terangan mengatakan padaku bahwa kau menyukainya?''


''iya, aku menyukainya, tidak rasa ini sudah jadi cinta'' ucapnya penuh penekanan


''kau terlambat!, seharusnya kau mengatakan itu lebih awal sebelum kau berpura pura tidak mencintainya''


''apa kalian benar benar saling mencintai?'' maura mulai berlinang air mata.


Sarah diam terpaku mendengar pertanyaan maura, ia membeku tak mampu menjawab.


''apa itu pertanyaan penting?'' tiba tiba jungkook datang mengejutkan sarah dan maura.


''ayo pulang,! kau harus beristirahat'' ucap pria itu lagi lalu menarik tangan sarah dan meninggalkan maura sendirian di cafe itu.