Sakitnya Berkorban

Sakitnya Berkorban
rahasia yoongi


''tunggu sebentar aku sedang mencari gelangku'' ucap seorang wanita berparas sangat cantik pada suaminya.


''aku sudah menyuruhmu bersiap dua jam lalu, apa yang kau lakukan dari tadi'' suaminya menghampiri perempuan yang tengah mengacak laci perhiasannya


''maaf sayang sebentar,,, ini dia aku menemukannya!'' ucapnya setelah akhirnya menemukan gelang yang ia cari.


''ayo penerbangannya sebentar lagi'' suaminya pun langsung bergegas keluar.


Begitulah kehidupan rumah tangga yoongi dan hani, rumah tangga yang terbilang harmonis karna hanya ada pertengkaran pertengkaran kecil, hani wanita yang bekerja sebagai model dan punya paras sangat cantik dan tubuh indah tak menjadikannya keras kepala. Meski berparas sempurna hani adalah orang yang selalu meminta maaf terlebih dahulu jika bertengkar meskipun ia salah ataupun tidak.ia selalu berusaha membuat mood suaminya harus baik, sedangkan suaminya gampang sekali untuk berubah moodnya.


''sayang,,,'' panggil hani sambil sedikit berlari menyamakan langkahnya dengan suaminya.


''apa mama tau kita akan kesana hari ini?'' tanya hani


''tidak, aku ingin memberinya kejutan'' jawab yoongi tanpa menoleh sedikitpun.


''oh ya aku dengar calon adik ipar single parents, apa itu benar?''


''iya, katanya dia punya seorang putra''


''oo, pasti wanita itu sangat cantik sampai membuat jungkook terpesona dan memilihnya''


''apa kau pikir semua hanya di ukur dengan kecantikan?''


''tentu saja, pria selalu memandang fisik saat pertama kali bertemu''


''sebenarnya kecantikan itu harus, tapi tidak jadi point utama dalam hubungan yang sehat''


''lalu?''


''lihat gadis itu'' yoongi menunjuk seorang gadis ''cantikkan?''


''hmm'' jawab hani


''tapi masih ada yang lebih cantik dari dia, kau akan kelelahan memikirkan itu, tapi jika perempuan bisa memberikan kenyamanan terutama dalam komunikasi itulah point utamanya''


''itukan menurutmu''


''aku yakin jungkook juga setuju dengan perkataanku, jadi jangan pernah melihat wanita itu dengan kecantikannya kau mengerti''


''baiklah'' ucap hani menuruti suaminya.


Setelah beberapa jam penerbangan hani dan yoongi akhirnya tiba di Singapura dan mereka langsung ke kediaman orang tua yoongi.


''maa!'' panggil yoongi sesaat setelah memasuki rumah orang tuanya.


''yoongi!!'' kim dami yang baru seja keluar kamar berlari kecil menghampiri putranya.


''apa kabar ma?''. memeluk ibunya


''mama baik, kamu bilang minggu depan kesini''


''pekerjaanku sudah selesai aku juga berniat mengejutkanmu''


''hmmm kau benar benar romantis pada mama'' dami tersenyum lebar pada anak kesayangannya.


''ma,,!'' panggil hani ingin di sambut oleh mertuanya.


Kim dami menoleh tanpa ekspresi, ia seakan tidak menyukai menantunya.


''mandi dan beristirahatlah'' ucap dami lagi.


Yoongi pun menenteng kopernya menuju kamarnya, saat hani akan mengikuti suaminya dami menghentikan menantunya itu.


''ada apa ma?'' tanya hani


''ckk, bukan apa apa, aku hanya ingin melihat apa menantuku sehat'' ucap dami sedikit dingin.


''aku sehat ma''


''baguslah'' dami lalu meninggalkan hani yang kebingungan dengan pertanyaan pertanyaannya.


Malam hari mereka berkumpul di ruang keluarga.


''apa jungkook ada menelponmu?'' tanya ayah kim


''beberapa hari lalu ia menelpon bertanya kapan aku akan pulang''


''dia kini sedikit hangat, ayah menyukai perubahannya setelah bertemu calonnya ini''


''benarkah yah?''


''iya, dia sekarang lebih memancarkan aura positif''


''positif apa, aku melihat wajah yang sama saja'' dami menyeka obrolan anak dan suaminya.


''kapan pertemuan keluarganya?'' tanya yoongi tanpa menghiraukan celotehan ibunya.


''bagaimana bisa melakukan pertemuan keluarga, wanita itu saja tidak punya keluarga'' dami kembali menjawab.


''sudahlah, kita kan sudah tau tentang itu, jadi ya sudah tidak perlu pertemuan keluarga, lancarkan saja rencananya menuju hari H.'' dengan sabar suaminya menghadapi dami.


''sayang, kau harus menghubungi jungkook dan mengajaknya bertemu'' ucap hani pada yoongi


''datanglah ke rumah sakit besok nak!'' ucap dami pada yoongi


''untuk apa ma?''


''yoon mama sudah memutuskan kamu yang melanjutkan menangani yayasan ini''


''iya ma aku tau'' dengan lemas yoongi menjawab.


Saat matahari sudah menyinari kota itu hani sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.


''sayang kamu mau kemana?'' tanya hani saat melihat suaminya bersiap untuk keluar.


''aku mau bertemu teman sebentar'' jawabnya tanpa menoleh.


Hani berlari mengejar suaminya ''tapi aku membuat sarapan''


''aku sudah berjanji sarapan dengan temanku''.


''baiklah'' jawab hani dengan raut cemberut tapi tetap membiarkan suaminya pergi.


Yoongi menghentikan mobilnya di sebuah cafe dan ia melangkah menuju seorang pria yang tengah menyeruput kopi.


''maaf saya sedikit terlambat'' ucapan yoongi membuat orang itu menyadari kehadirannya.


''tidak masalah tuan, saya juga baru datang'' dari nada bicaranya orang itu terlihat lebih menghormati yoongi.


''bagaimana, apa ada perkembangan?''


''tuan, sedikit menyesal saya mengatakan ini''


''apa?'' wajah yoongi mulai panik.


''dia sudah keluar negeri tuan beberapa tahun yang lalu, tidak ada petunjuk lagi''


''yang kami ketahui dia menuju brazil''


''brazil?'' yoongi terdiam terpaku matanya berbinar tak percaya dengan yang ia dengar.


''tuan?'' menghentikan lamunan yoongi.


''kalau begitu kau juga harus mencarinya di brazil''


''tapi sangat sulit tuan''


''apa kesulitanmu, aku akan membiayai semuanya, kau mengerti''


''baik tuan'' jawab orang itu gugup


''maaf saya berteriak, tapi hanya kau yang bisa saya andalkan sekarang, saya mohon bantu lah saya''


''saya usahakan'' jawab orang itu.


''jangan sampai nyonya tau tentang ini''


''tuan sudah memperingatkan saya berkali kali, saya pasti ingat''


Yoongi berniat kembali ke rumahnya, saat tengah berhenti di zebra cros yoongi melihat seorang anak yang gagal menyebrang karna beberapa lembaran terjatuh dari tangannya. Dengan sigap yoongi keluar dari mobil dan membantu anak itu mengumpulkan lembaran yang berceceran.


''cepatlah menepi'' yoongi merangkul anak itu dan menepi dari tengah jalan.


''terima kasih uncle'' jawab anak itu yang tak lain adalah cleo.


''iya, kau harus membeli tas khusus agar mudah membawanya''.


''iya, sekali lagi terimakasih''


''tunggu sebentar!'' yoongi menatap salah satu lukisan cleo.


''iya?''


''apa kau yang melukis ini?'' yoongi menunjuk ke salah satu lukisan cleo yang menggambarkan kedua tangan saling menggenggam.


''iyaa, memangnya kenapa om?''


''tangan siapa ini?'' yoongi masih menatap lukisan tangan itu.


''ini,,,''.


''kenapa kau tidak menungguku?'' ucap bibi tum menyeka obrolan yoongi dan cleo


''aku pikir tidak menjemputku jadi aku ingin pulang sendiri''


''maaf bibi lupa, tapi jangan di ulangi lagi''.


''memang kenapa, rumah kita dekat, aku juga sudah hapal jalannya''


''tidak, bibimu benar, jika sudah biasa ada yang menjemput jadi sebaiknya di tunggu daripada membuat khawatir'' yoongi menyeka perdebatan cleo dan bi tum.


''baiklah kami permisi dulu'' ucap bi tum pada yoongi lalu menggandeng tangan cleo untuk pergi.


Yoongi kembali ke mobilnya ia mengingat lukisan cleo, ''mungkin itu hanya kesamaan, atau sebuah kreatifitas anak anak saja'' batin yoongi karna melihat gelang yang di gambar pada lukisan tangan cleo.