
tok tok tok
Ketukan pintu membuat jungkook terkejut saat hendak menjawab pertanyaan kakaknya.
''masuklah'' perintah jungkook, ia menggeser sedikit bokongnya memposisikan rasa nyamannya.
''pak perwakilan dari pt grace sudah datang'' ucap rebecca mengingatkan atasannya, sambil memangku beberapa berkas sesekali rebecca menatap yoongi yang duduk bersandar pada sofa yang berada di samping ruangan.
''iya baiklah, bawakan beberapa tester dari produk kita!''
''baik pak'' rebecca memutar badannya dan keluar dari ruangan jungkook.
''kau menawarkan semua produkmu untuk semua market?''
''iya, produk ku harus ada dimana mana dari toko kecil hingga yang terbesar''
''tapi jung apa keuntunganmu sudah mencukupi untuk membayar kontraknya? perusahaanmu kan baru berdiri. Tidak masalah jika pelan pelan mengembangkannya, jangan terburu buru'' khawatir yoongi pada cara jungkook merintis usahanya.
''tenang lah kak, aku punya nama kim di depan ku, dan backinganku adalah ibumu'' sambil menggunjingkan senyum dengan santai jungkook mengatakan itu pada kakaknya, ia yakin semua orang akan menerima bekerja sama dengannya karna yang orang ketahui ia adalah cucu pengusaha kim yang berpengaruh saat itu.
Tak ada rasa marah dalam diri yoongi mendengar adiknya memanfaatkan keluarganya, ia hanya tersenyum mendekati adiknya ''itu artinya kau memanfaatkan privilage mu.. Aku lebih suka dirimu begini ketimbang yang dulu''
''iya... Ada yang harus aku lakukan, jadi aku harus menyiapkan uang yang banyak'' jungkook menghela nafasnya perlahan kemudian berdiri mengambil jasnya yang di gantung pada bahu kursinya ''aku ada janji, mari kita bertemu nanti malam. sampai jumpa kak!'' jungkook memasang jasnya dan meninggalkan kakaknya sendirian di ruangan itu.
''dia sudah mengobati dirinya'' batin yoongi sambil melihat punggung adiknya yang perlahan menghilang di balik pintu.
Karna tidak tau harus melakukan apa yoongi mengelilingi ruangan jungkook, yoongi menuju jendela yang dimana ia dapat melihat lautan dan hiruk pikuk perkotaan dari waktu yang sama.
''aku sangat takut jika sarah yang di maksud jungkook adalah sarahku'' gumam yoongi.
Pria itu menghela nafasnya perlahan dan mengusap wajahnya, ''lebih cepat lebih baik, aku harus mengetahuinya siapa sarah'' yoongi memutar badannya dan dengan tergesa gesa keluar dari ruangan jungkook.
''maaf, apa kau tau dimana tim pemasaran?'' yoongi menghentikan seorang karyawan yang melewatinya.
''ada di lantai tiga pak''
''baiklah, terima kasih ya''
Orang itupun mengangguk dan yoongi sedikit tergesa menuju lift dan turun menuju lantai tiga.
Dengan ruangan yang besar, yoongi melihat beberapa ruangan yang di isi dengan beberapa karyawan, ia menghentikan langkahnya saat melihat ke ruangan pemasaran.
Langkah kakinya mulai mendekati pintu dan dengan mata sipitnya ia melihat seluruh ruangan dari balik pintu itu.
Cukup lama ia berdiri di balik pintu namun ia tak melihat wajah yang familier 'salah satu dari mereka mungkin sarah' batin yoongi sedikit lega karna berpikir jika sarah yang di maksud Jungkook bukanlah sarah yang ia cari selama ini.
traaaannng
Pecahan kaca terdengar nyaring mengejutkan yoongi dan semua karyawan pemasaran, Yoongi langsung menoleh ke sumber suara dimana saat itu ada sepasang mata yang menatap lekat padanya.
Sarah terkejut bukan main hingga melepaskan gelas yang ada di tangannya, pria yang telah meninggalkannya selama hampir 10 tahun ada di depannya berdiri tegak, tapi ia diam mematung, ada banyak pertanyaan dalam pikirannya sampai ia tidak bisa mengontrol semua badannya, bahkan pecahan kaca yang menimpa kakinya hingga berdarah tak ia rasakan.
Sepasang mata itu tak lepas saling memandang, detak rasa kerinduan menghampiri dada yoongi namun rasa terkejut sarah melebihi detak jantungnya.
Sarah hanya diam tak menjawab, matanya masih menatap pria yang ada di depannya.
Melihat sarah yang menatap terpaku, semua temannya ikut memperhatikan yoongi.
"pak yoongi?" pak chen menghampiri yoongi, seketika lamunan yoongi dan sarah pun buyar.
"kakimu berdarah, ayo kita obati" lisa mengiringi sarah perlahan dan membawanya masuk ke ruangan.
Lisa dengan sigap mengambil kotak p3k dan mengobati luka di kaki sarah.
"lukanya besar sekali sarah, bersabarlah ini akan sakit" lisa mulai membersihkan luka di kaki sarah.
Tak ada ekspresi dalam wajah sarah saat luka nya di obati, ia hanya memejamkan matanya sejenak.
"siapa pria tadi?'' tanya sarah dengan tatapan kosong.
''itu kan kakaknya jungkook, kim yoongi, kau belum berkenalan?'' potong danny menghampiri sarah.
Danny dan lisa saling menatap karna melihat sarah yang hanya diam setelah mendengar ucapan danny.
''yoongi? kim yoongi?'' ucap sarah dengan mata berbinar.
Belum selesai lisa mengobati lukanya sarah berlari keluar ingin menghampiri yoongi.
''berhenti!'' teriak sarah saat yoongi ingin memasuki lift.
Yoongi memutar badannya kembali menatap dengan wajah takut dan perasaan menyesal. Beberapa saat yang lalu ia sangat ingin menemui sarah dan berniat memeluknya melepaskan kerinduan di hatinya, namun ia menjadi sangat takut saat melihat wanita yang di depannya menatapnya dengan raut kebingungan.
Sarah mendekati yoongi dengan jalan sedikit tertatih ''apa kau mengenalku?'' dengan suara tertekan sarah berusaha mengontrol dirinya.
Yoongi tak mampu berkata ia hanya mengangguk dan tak mampu menahan air matanya dan mengalir melewati pipinya.
''apa,,,'' ucap sarah tak percaya, jawaban yoongi sudah menjelaskan jika ia adalah min suga orang yang ia cintai sepuluh tahun lalu. Nafas sarah mulai tak karuan, ia mulai menangis tak bisa percaya dengan apa yang ia lihat..
Wanita itu menutup rapat mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang lebih nyaring.
''sarah,,, maafkan aku'' yoongi berusaha mendekati sarah
''katakan kau bukan orang yang ku kenal!... katakan wajahmu hanya mirip!.. Cepaaat katakaaan!!' teriak sarah frustasi tanpa menghiraukan sekitarnya.
Yoongi menggeleng pasrah, ia tak ingin membohongi dirinya sendiri ''ini aku, aku suga yang kau kenal'' jawabnya dengan berat hati.
Tak mendengarkan yoongi sarah langsung pergi meninggalkan pria itu yang tengah berdiri mematung menahan luka di hatinya.
Sarah keluar dari kantornya dengan perasaan bingung dan kacau, ia berjalan tertatih di bawah teriknya matahari. Perlahan penglihatannya mulai buram, ia tak bisa mengontrol langkahnya dan pada akhirnya ia pingsan dalam semua kekacauan di pikirannya.
Yoongi menatap redup dinding kosong, ia duduk di salah satu anak tangga, sekuat tenaga ia menahan air matanya, namun butiran itu selalu berhasil menembus pertahanannya.
''aku sangat merindukanmu sarah, tapi sepuluh tahun bukanlah mudah bagimu, tenangkan dirimu sejenak dan mari bicara setelah itu'' gumam yoongi, ia sangat mengerti dengan perasaan sarah, ia tidak mau berusaha menjelaskan tentang yang ia alami pada sarah, karna ia tau sekarang emosi sarah pasti sedang tidak stabil.
''sebagaimana bagusnya aku berusaha menjelaskannya, saat ini dia pasti tidak ingin mendengarkan apapun'' monolognya lagi, yoongi berusaha menenangkan dirinya, beberapa kali ia mengatur nafasnya berusaha menghilangkan perasaan kacaunya.