Sakitnya Berkorban

Sakitnya Berkorban
tanggung jawab dalam hubungan


Perlahan sarah menduduki kasurnya, sambil meringis sarah mengeluarkan air mata.


''kenapa pinggangku sakit banget si'' keluh sarah sambil memegang pinggangnya.


''janinnyaa baru tiga bulan kenapa kayak mau lahiran aja rasanya''


''memang begitu, setiap kehamilan itu bawaannya berbeda beda'' ucap bibi tum menyeka gumaman sarah, sambil membawa botol berisi air panas bibi tum mendekati sarah.


''sini biar pegelnya sedikit berkurang'' bibi tum langsung mengangkat baju sarah dan menempelkan botol panas yang di lapisi kain pada pinggang sarah.


Mata sarah kini berbinar melihat perhatian bibi tum padanya ''terima kasih bi'' ucap Sarah sesegukan.


''kenapa,? kamu nangis?'' bibi tum memperhatikan wajah sarah yang sudah di basahi air mata.


''kenapa cengeng si'' bibi tum mengelap pipi sarah.


''makasih ya bi udah nemenin aku lima tahun ini''


''bibi juga berterima kasih karna udah nemenin bibi selama ini''


perbincangan singkat yang mengharukan itu membuat mereka saling berpelukan.


''sudah jangan menangis, nanti matamu berkantung'' ucap bibi tum


''sekarang tidur ini sudah malam, jaga kesehatanmu dan janinmu, kau harus tampil segar saat pernikahan nanti'' lanjutnya


''bi apa menurutmu pernikahan ini benar benar harus tetap di lanjutkan?''


''jangan bilang kau berubah pikiran sarah'' mata bibi tum membelalak besar menatap sarah.


''aku hanya takut menjalani pernikahan tanpa perasaan''


''pernikahan itu bukan hanya tentang perasaan tapi juga tanggung jawab, kalian sudah berpikir matang dan bertanggung jawab dalam kehidupan kalian nantinya''


Mendengarnya sarah diam tak berkutik.


''perasaan itu kapan saja bisa muncul, tapi niat tanggung jawab itu adalah kesadaran'' lanjut bibi tum menceramahi sarah.


''baiklah, aku hanya bertanya'' jawab sarah lesu.


''jangan lagi ragu, mengerti?''


''hmm'' angguk sarah.


Setelah beberapa saat sarah tak kunjung tidur, ia bangun dari kasurnya dan membuka jendela kamarnya untuk melihat gemerlapnya malam.


'kenapa perasaanku jadi tidak karuan begini?' gumam sarah sambil memperhatikan malam dari balik jendela.


Sarah kembali mengingat kejadian siang tadi di kantor, saat ia hendak memberikan makanan untuk jungkook. Tanpa sengaja ia mendengar percakapannya dengan alex yang membuat sarah mengurungkan niatnya memberi makanan itu.


'dia perhatian padaku hanya karna anak ini, jadi kenapa aku harus ikut perhatian dengannya, dia benar tidak ada dasar apapun untukku melakukan itu' gumam sarah


'apa yang akan dia lakukan padaku saat anak ini lahir nanti'


Sarah masih bermonolog dalam dirinya, bergelut dengan pikiran tanpa henti, tanpa ia sadari waktu sudah tengah malam, tapi rasa mengantukpun tak kunjung ia rasakan..


Karna hari libur sarah masih dalam balutan selimutnya, sesekali ia memperhatikan jam di ponselnya.


''bu ibuuuu!'' panggil cleo dari balik pintu


''ada apa, pintunya kan gak di kunci?'' sarah perlahan bangun.


Cleo membuka pintu kamar sarah dan sedikit berlari menghampiri ibunya yang masih berbalut selimut.


''kok tumben bangunnya siang?'' tanya cleo


''iya, ibu sedikit capek''


''aku sudah buat sarapan untuk ibu''


''ibu kan udah bilang jangan main api cleo!''


''heee, sebenarnya bukan cleo yang buat''


''apa?'' sarah terheran menatap anaknya. ia lalu keluar dari kamarnya dan melihat jungkook sudah ada di dapur tengah memasak.


Sarah menggeleng tak percaya jika yang ada di depannya adalah bosnya.


''aku sudah dari pagi di sini menunggumu'' ucap jungkook sambil menata makanan di atas meja.


''tapi ini masih pagi'' jawab sarah datar.


''ini sudah jam sembilan lebih sarah''


''memangnya untuk apa kesini, bukannya hari ini libur?''


''kita sudah janjian dengan dokter hari ini, apa kau lupa?''


''maaf aku lupa, kalau begitu aku akan bersiap''


''makan saja dulu.. ayoo cleo di makan makanannya'' pinta pria itu lalu mereka bertigapun duduk bersama sambil memakan sarapan yang di siapkan jungkook.


''memangnya untuk apa ibu pergi ke dokter?'' tanya cleo di sela sela sarapan.


''itu,,,,''


''hanya pemeriksaan kesehatan?'' dengan cepat jungkook menjawab pertanyaan cleo.


''ouh''


Selesai sarapan sarahpun bersiap untuk pergi ke dokter.


''cleo di rumah ya sama bibi, bentar lagi bibi datang'' ucap sarah sambil memperhatikan cleo yang tengah melukis di kamarnya.


''iya bu'' jawab cleo sambil tetap melukis.


Sarah lalu keluar dari kamar cleo dan menghampiri jungkook yang tengah menunggunya di sofa sederhana miliknya.


''tunggu bibi dulu ya, karna hari ini libur jadi dia tidak datang kemari, karna aku lupa juga dengan janji ini''


''kau sudah menghubunginya?''


''iya, sebentar lagi dia akan datang'' duduk di kursi tunggal yang tak jauh dari tempat duduk jungkook.


''aku melihat ada banyak lukisan disini, apa kau melukis?'' tanya jungkook


''bukan, semua lukisan cleo''


''dia berbakat sarah, kau harus mengasah bakatnya''


''hmm, aku tau''


Setelah perbincangan yang singkat dan cukup canggung bibi tum akhirnya sampai. Merekapun bergegas untuk pergi setelah memastikan ada yang menjaga cleo.


Sama seperti kemarin di dalam mobil itu mereka saling diam tak mengucapkan kata apapun. Sarah yang masih mengingat pembicaraan jungkook dan alex kemarin semakin merasa tidak tenang berada di samping pria itu.


''menurutmu apa arti pernikahan?'' sarahpun dengan berani membuka obrolan.


Jungkook terdiam sejenak, karna memang dia tidak pernah terpikirkan akan menikah semenjak di hianati, ia bahkan pernah berjanji pada dirinya tidak akan menikah, namun mendadak ia melupakan akan ucapannya.


''aku rasa hanya bentuk tanggung jawab'' akhirnya ia menjawab pertanyaan sarah.


''tanggung jawab?''


''ada banyak hal yang membuat kita harus bertanggung jawab dengan pernikahan''


''apa itu, ?'' sarah menatapnya penasaran.


''kau harus bertanggung jawab dengan janji yang di ucapkan, setia, menafkahi, mencintai, dan selalu mendukung pasangannya''


''kau yakin bisa bertanggung jawab atas semua itu nanti?''


Jungkook kembali terdiam. Melihat pria di sampingnya terdiam sarah tersenyum mencibir.


'dia tidak akan mampu melakukan itu' batin sarah sambil memalingkan wajahnya ke luar jendela mobil.


''itu sudah jadi keputusan, jadi aku akan bertanggung jawab dengan keputusanku'' jawab jungkook setelah cukup lama terdiam.


Beberapa saat mereka pun sudah sampai di rumah sakit dan bertemu dengan dokter kandungan, sarah berbaring di atas ranjang dan akan di usg oleh dokternya.


''janinnya tumbuh sesuai usia ya, sejauh ini tidak ada masalah'' ucap sang dokter.


Karna merasa sudah selesai di periksa sarah hendak bangun namum di hentikan oleh dokter.


''kau harus miring dulu jangan langsung bangun!'' ucap dokter engan tegas.


Mendengar itu jungkook langsung bangun dari tempat duduknya dan membantu sarah untuk duduk secara perlahan.


''cara bangun yang seperti itu tidak baik untuk janin, jadi di ingat ingat ya!'' dokter kembali memperingatkannya.


''baiklah'' jawab mereka serentak.


''ini vitaminnya, perbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat ya, itu membantu tumbuh kembang janin lebih baik''


''baiklah dok'' jawab sarah


''apa anakku bisa di lihat jenis kelaminya dok?'' tanya jungkook


''belum pak, di usia janin yang baru menginjak 12 minggu jenis kelaminya masih belum terbentuk, jadi susah memastikannya, tunggu di usianya yang menginjak lima bulan ya pak!'' ucap dokter menjelaskannya.


''baiklah kalau begitu kami permisi''