Sakitnya Berkorban

Sakitnya Berkorban
tidak tenang menuju pernikahan


"hey kak,! kau dari mana saja?" jungkook menyapa kakaknya yang baru saja melangkah masuk dari pintu ke dalam rumah.


Yoongi mengangkat kepalanya memperhatikan jungkook beberapa saat.


"kau kenapa?" jungkook merasa sedikit heran dengan kakaknya.


Yoongi menghela nafasnya perlahan, dan mendekati jungkook "mari kita minum di balkon!" yoongi menepuk pundak jungkook sambil tersenyum lembut pada adik satu satunya itu.


Jungkookpun tidak menolak ajakan kakaknya, ia berjalan beriringan dengan sang kakak menuju balkon dimana di situ adalah tempat kumpul keluarga.


"apa ada yang ingin kau bicarakan?" tanya jungkook sesaat setelah sampai di balkon dan duduk di kursi santai disana.


"hmm, ada beberapa pertanyaan?" yoongi memaksakan bibirnya untuk tersenyum, membuat jungkook semakin merasa aneh dengan sikap kakaknya kali ini.


"calon istrimu,,,," ucap yoongi namun terjeda dengan pikirannya.


"sarah?,,,, memangnya kenapa,,? apa kalian ada bicara saat kau di


Kantor tadi?"


"apa dia tidak bicara sesuatu padamu?"


"oh iya, dia bilang dia tidak bisa lagi bertemu malam ini karna kondisinya sedang tidak fit. Aku menemuinya pingsan di jalan siang tadi"


"dia pingsan?" yoongi membelalakkan matanya terkejut khawatir pada sarah yang pingsan setelah menemuinya.


"hmm, aku sudah mengantarnya pulang, jadi maaf kak tidak bisa menemui kalian secepatnya"


''aku juga ada acara mendadak malam ini'' yoongi menundukkan pandangannya pasrah, ia tidak tau harus berbuat apa setelah mengetahui sarah adalah calon istri adiknya.


''kita akan melakukan pertemuan lagi nanti kak!''


''hmm,,'' jawab yoongi lesu, ia merasa tidak punya tenaga untuk mengatakan kebenarannya, mengetahui sarah tidak memberitahu jungkook apapun, ia jadi tidak ingin menjelaskan apapun juga.


Di kediamannya sarah tak kunjung terlelap, ia terjaga sepanjang malam, rasa kehilangan tahunan lalu ia sudah mulai tidak ingat, namun kehadiran suga sebagai yoongi adalah suatu luka yang berlipat ganda baginya. Sambil duduk di lantai sisi ranjangnya sarah menatap sedikit cahaya bulan dari jendela kamarnya.


''aku sangat bodoh,!'' sarah meremas kuat kepalanya sambil menangis di kegelapan kamarnya.''orang tuaku benar! dia pembohong besar'' sesekali ia memukul dadanya berharap rasa sakit hatinya bisa ia hilangkan.


Sarah menutup mulutnya rapat rapat agar tidak mengeluarkan suara tangisan yang menyakitkan, sampai rasa lelah nya menghampiri dan membuatnya tertidur di lantai tanpa alas apapun.


Drrrrrttttt drttttttttt


drrrttttt drrrrtttttt


Berulang kali panggilan di ponsel berbunyi, namun tak dapat membangunkan sarah dari pejaman matanya.


''sarah apa kau sudah bangun,? kenapa ponselmu terus berdering?'' panggil bi tum yang sudah datang sejak pagi untuk mengantar cleo sekolah.


Mendengar tak ada jawaban apapun bi tum mengetuk sedikit keras.


''sarah!,, apa kau mendengarku?'' bi tum menaruh pipinya di dinding pintu berharap mendengar suara pergerakan sarah.


''sarah kau baik baik saja?'' panggilnya lagi mulai khawatir.


Karna tak mendapat jawaban apapun bibi tum memanggil seseorang yang bisa mendobrak pintu kamar sarah.


draaakkkkk


Pintu yang tadi terkunci rapat berhasil di dobrak oleh salah satu penghuni apartemen sebelah, dan memperlihatkan sarah yang meringkuk di lantai tak sadarkan diri.


''astagaaa sarah!!!'' dengan panik bibi tum menghampiri sarah dan memangku kepalanya, sesekali ia menepuk nepuk wajah sarah yang amat pucat.


''sarahhh!!'' panggil bi tum lagi.


Sedangkan cleo hanya diam membisu melihat ibunya tak merespon apapun, entah apa yanga ada di benak anak itu tapi dari matanya ia sudah menggambarkan ke khawatiran.


''sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja'' ucap seorang pria yang telah membantu mendobrak pintu kamar sarah.


Pria itu langsung menggendong sarah dan membawanya ke rumah sakit.


Sarah yang berada di rumah sakit perlahan sadar, seluruh badannya sangat lemas, bahkan untuk membuka matanya pun ia hampir tak bisa.


''bu,,!!''


''ibu, kau bisa mendengarku?'' Remang remang suara cleo memanggil ibunya yang terbaring aras kasur rumah sakit, sarah mengangguk perlahan mendengar ucapan anaknya.


Melihat sarah merespon suaranya cleo mulai merasa tenang, ia memeluk badan ibunya yang lemas.


''aku sangat khawatir padamu'' ucap cleo tanpa melepaskan pelukannya.


Mendengar anaknya yang khawatir padanya membuat sarah merasa menyesal dan kasihan pada cleo, sambil mengelus lemas punggung cleo sarah mencium pucuk rambut sang anak.


''ibu baik baik saja, maaf sudah membuatmu khawatir'' jawab sarah dengan suara sangat lemas.


Cleo melepas pelukannya dan menatap ibunya datar ''jangan membohongiku bu, saat aku bilang baik baik saja ibu tau jika aku sedang tidak baik, aku pun juga tau jika ibu sedang tidak baik baik saja''


''ibu bersungguh sungguh, ibu baik baik saja'' ucap sarah lagi.


Sejenak cleo diam, ia mengubah tatapannya menuju perut ibunya. ''apa disana ada orang?'' cleo menunjuk perut ibunya.


Pertanyaan cleo membuat sarah diam terpaku, ia bingung bagaimana cleo bisa bertanya tentang itu, padahal ia tidak ingin cleo tau sebelum pernikahan. ''apa maksudmu nak?''


''dokter bilang ini karena pengaruh janin yang ada di perutmu,, apa itu benar?''


''sebaiknya kita bicara lagi nanti'' potong bibi tum yang baru saja masuk menemui sarah dan cleo, tanpa menghiraukan cleo bibi tum membantu sarah mengangkat sedikit badannya dan bersandar pada bangkar rumah sakit.''apa kau merasa baikkan?'' tanya bibi tum.


''hmmm''


''jungkook berulang kali menelponmu, bicaralah jika mulai merasa enakkan'' bibi tum menaruh ponsel sarah di sampingnya.


Dengan lemas sarah mengambil ponselnya, berniat untuk memindahkannya ke atas nakas. Belum juga terpindah ponsel itu kembali berdering.


dddrrrrrttttt


Jungkook kembali menelpon dan sarah menggeser perlahan ponselnya untuk mengangkat telepon darinya.


/hallo,,/ jawab sarah lemas.


/kau baik baik saja?/ suara jungkook terdengar panik, membuat sarah mengatur nafasnya berusaha bersuara setenang mungkin.


/iyaa, aku baik baik saja/


/bagaimana kandunganmu? apa kata dokter?/


Mendengar pertanyaan jungkook membuatnya langsung mengelus perutnya /sepertinya dia baik baik saja/


/aku serius sarah!/ jungkook menekan suaranya dengan jelas.


/aku pingsan jung, dan baru sadar, aku merasa kondisiku tidak apa apa, dan aku yakin kandunganku juga tidak apa apa/ suara sarah sedikit lantang membuat cleo dan bibi tum menoleh ke arahnya.


Mendengar sarah dan jungkook mulai berdebat bibi tum langsung merampas ponselnya dari genggaman sarah.


/hallo jungkook, ini bibi/


/bi, sarah sangat susah untuk di ajak bicara/ jungkook ikut marah karna merasa khawatir dengan kondisi sarah namun sarah selalu menutup nutupi masalahnya.


/dia baik baik saja, hanya lemas dan kedinginan, dan kau tidak perlu khawatir, kandungannya baik baik saja/ bibi tum berusaha menenangkan jungkook yang sedang ingin melakukan penerbangan ke korea.


/katakan padanya aku akan menemuinya setelah pulang nanti.!/ jungkook tidak bisa berbuat apapun, yang bisa ia lakukan hanyalah percaya jika sarah dan kandungannya akan baik baik saja.


/bibi akan menyampaikannya/. Bibi tum lantas menutupi teleponnya.