
''jangan terburu buru menyimpulkan, mungkin saja mereka butuh sedikit lebih lama untuk mengenal'' dami berusaha membuat senyum tulusnya di hadapan seorang wanita.
''pria itu tidak rumit, dia akan sangat terlihat jika tidak menyukai wanita, lagi pula selama ini saya juga tidak pernah melihat usaha jungkook pada maura'' wanita itu mengambil cangkir kopinya dan minum dengan anggun.
Dami diam tak berkutik, ia tau betul jika jungkook tidak menyetujui perjodohan yang ia lakukan, meski begitu ia tidak menyerah, entah kenapa ia begitu terobsesi pada sebuah hubungan yang setara, dan memaksa jungkook menuruti kemauannya.
''kemarin jungkook memperkenalkan maura dengan kekasihnya'' lanjut wanita itu yang tak lain ibu maura
''apa?''
''kau tidak tau, maura bilang jika wanita itu biasa saja, melihat dari caranya berpakaian saja maura sudah mengerti jika wanita itu gadis menengah ke bawah dan pastinya tidak mengerti barang branded''
Dami menatap gugup ibu maura tanpa bisa berucap apapun
''maura bilang dia merasa malu jika melanjutkan pertunangan ini, untung saja belum di lakukan pertunangan nya. Bayangkan saja jika sudah bertunangan dan jungkook mengkhianati maura dengan wanita itu, anakku pasti akan menanggung malu, orang orang akan berfikir kekurangan anakku sampai sampai di khianati''
''tentu saja tidak mungkin, maura itu wanita yang benar benar sempurna'' jawab dami dengan gugup
''untung saja 'mungkin mungkinmu' itu belum aku percaya. Sudahlah dami, kita batalkan saja pertunangan ini, aku tidak ingin mempertaruhkan kehidupan anakku pada anakmu yang kau sendiri meragukan sikapnya''
''tapi,,,,,''
''sebaiknya kau terima saja takdir yang ada, salah satu anakmu kan menikahi seorang anak konglomerat juga, jadi tidak masalah jika yang lainnya tidak, lagi pula aku tau maksud dan tujuanmu memaksa menjodohkan maura dan jungkook'' ibu maura berhenti dan sedikit menyeringai.
''maksudmu?''
''kenapa terkejut,? kau pasti paham''
Sejenak dua orang itu saling diam, mereka saling mengalihkan pandangan meski tengah duduk berhadapan.
''mulutku membuat keadaan jadi canggung, kalau begitu saya permisi dulu ya bu kim dami'' ucap ibu maura lalu beranjak dari kursinya dan pergi dari cafe itu.
''jungkook benar benar keterlaluan, tidak seharusnya ia memperkenalkan wanita itu pada maura'' monolog dami, sudut bibirnya terangkat karena marah, gerutu giginya semakin mengeras karna jengkel di hatinya.
Ia lalu beranjak dan pergi dari cafe itu, tapi bukannya pulang dami malah mengendarai mobilnya ke perusahaan jungkook.
Semua karyawan di perusahaan jungkook mengenal dami, semuanya memberi salam hormat saat dami baru saja menginjakkan kakinya di lobi perusahaan itu.
''di lantai berapa ruangan jungkook?'' tanya dami pada seorang karyawan yang juga tengah menunggu lift
''lantai tiga bu'' jawab orang itu.
lift terbuka, dami dan beberapa karyawan pun masuk ke dalam lift.
''tekan lantainya untukku!'' perintah dami.
''oo i-iya baiklah'' jawab salah satu karyawan.
Sesampainya di depan ruangan jungkook.
''ibu kim!'' sapa sekretaris jungkook yang beru keluar dari ruangan jungkook.
''kenapa kau ada di sini?''
''saya jadi sekretarisnya pak jungkook''
''sejak kapan?''
''dua tahun ini bu''
dami menatap sinis sekretaris jungkook yang bernama Rebecca, ia heran kenapa rebecca bisa jadi sekretaris jungkook.
''apa pak kim yang memintamu jadi sekretaris jungkook?''
Rebecca diam tak berani menjawab.
''wahh yang benar saja, saya benar benar terkejut'' dami menyimpulkan jawaban dari raut rebecca.
Damipun langsung masuk ke ruangan jungkook, ia melihat jungkook tengah sibuk dengan laptopnya. Jungkook lantas melirik ke arahnya.
''panggil wanita itu kesini!'' ucap dami tanpa aba aba dan langsung duduk di kursi tamu yang berada di samping meja kerja jungkook
''aku sedang sibuk''
''kenapa.? kau tidak mau memperkenalkannya padaku,? kau harus memperkenalkan aku padanya,! kenapa harus maura yang duluan kau perkenalkan?''
jungkook menghentikan pergerakan tangannya pada laptop, ia menarik nafasnya perlahan dan menatap dami.
''aku akan mempertemukan dia pada setiap orang tapi tidak denganmu, kau hanya harus mendengar saja, tidak perlu bertemu''
''KIM JUNGKOOKKK''
Teriak dami karna ucapan jungkook tidak menghormatinya, ia begitu marah dan bangkit dari duduknya..
''kenapa kau jadi sangat marah, kau seharusnya tidak emosi begitu jika aku tidak menuruti perintahmu, hal seperti itu biasa terjadikan, agar kau bisa mengatakan 'keturunan yang buruk memang tidak bisa di rubah' '' ucap jungkook dengan nada menekan
''kenapa kau benar benar tidak berterimakasih padaku haaahhh?''
''untuk hidup mewah dan status sosialku?,,,, sebentar sebentar'' jungkook mengusap kasar wajahnya dan menarik nafasnya kasar.
''terima kasih ibu dami atas semua kehidupan dan penghinaan yang aku alami selama denganmu"
"kau sudah terlalu sering menguji kesabaranku, aku memintamu menikahi maura, kurang apa dia, aku melakukan itu untuk kebaikanmu''
''kebaikan?, jika kau pikir baik coba lihat apa yang terjadi pada kakak, apa menurutmu ia baik baik saja''
''jangan berdalih jungkook''
''anak kandungmu saja tidak bisa kau buat bahagia, bagaimana bisa aku percaya kau akan membuatku bahagia, hahh?''
''kau asal bicara''
elak dami lalu membalik badannya membelakangi jungkook.
''aku tau, dan aku tau kau juga pasti tau''
''apa maksud dari perlawanan mu ini jungkook, apa yang kau inginkan?''
''benarkah, jika aku tidak membangkang apa aku boleh meminta sesuatu darimu?''
''hmm''
''baiklah, aku bersedia menikahi siapapun wanita yang kau jodohkan denganku, tapi hanya dengan satu syarat''
jungkook mengangkat jari telunjuknya mengisyaratkan angka satu
''bawa ibuku padaku, dan katakan pada semua orang bahwa aku adalah anak ibuku''
Dami diam dengan pernyataan jungkook, kata itu langsung tercerna dalam pikirannya, jantungnya tiba tiba berdetak kencang hanya dengan membayangkan park hara kembali.
''kau ingin mengancamku, hal itu tidak akan terjadi, aku akan melakukan apapun agar semua yang aku rencanakan berhasil, bahkan keangkuhanmu tidak akan bisa menghentikanku'' jelas dami, damipun pergi tanpa menunggu jawaban dari jungkook.
'aku tau kau tidak akan bisa, ibuku adalah kelemahanmu' batin jungkook sambil menatap kepergian dami dari ruangannya.
''sial anak itu benar benar, dia berani mengancamku karna dia tau ibunya masih hidup'' gerutu dami.
''aku tidak akan tinggal diam, kau akan jadi robotku jungkook, kau tidak akan bisa lepas dari kendaliku. Aku akan menemukanmu park hara, tapi hanya untuk alat jangan harap kehidupanmu tenang dan damai saat aku menemukanmu'' dami menggunjingkan senyumnya lalu melangkah menjauhi ruangan jungkook.
Dami kembali bertemu dengan sekretaris jungkook bernama rebecca. Rebecca langsung terdiam sedikit menundukkan pandangannya.
Dami tersenyum sinis padanya dan mendekati rebecca
''bekerjalah dengan baik ya, jangan membuat kekacauan, kau mengerti kan?'' ucap dami dengan suara pelan dan namun sangat jelas.
Rebecca hanya sedikit mengangguk mendengar ucapan dami, entah apa yang terjadi hingga rebecca terlihat tegang saat berhadapan dengan dami.