
Sarapan pun selesai. Laki-laki tampan rupawan bak bintang iklan itu berpesan pada istrinya. "Kalau mau ke toko kue, nanti aku anter. Tunggu aku nganter sekolah anak-anak dulu!" Tak ada senyum tergambar di wajahnya.
"Kalau aku bisa nyetir, aku ingin melamar jadi sopirmu aja. Enak gak kerja, majikannya yang mondar-mandir kayak setrikaan," ledek Kinan dengan membereskan meja makan.
Rey semakin menekuk mukanya dan hanya meliriknya tajam. Anak-anaknya sudah menunggunya di mobil sedari tadi sudah berteriak-teriak memanggilnya.
Laki-laki itu berdiri dari kursinya, dia tiba-tiba mencium pipi istrinya yang tangannya terus sibuk dengan piring-piring di depannya.
"Eh," Kinan terlonjak kaget. Bahkan wajah Rey semakin cemberut. Aneh memang laki-laki itu.
"Aku nganter anak-anak dulu, nanti aku cium lagi," ucapnya datar, lirikannya mematikan, dan dia langsung pergi dari meja makan. Kinan memundurkan kepalanya mendengar dan melihat tingkah Rey.
Dengan cepat Rey mengendarai mobilnya menerjang jalanan. Dia harus membagi waktu pekerjaan di kantor dengan pekerjaan sampingannya sebagai sopir.
"Daddy kayak pembalap aja!"
"Heh Aero sejak kapan kamu panggil Papa dengan sebutan Daddy?" Mata Rey melirik ke spion dalam mobilnya. Melihat anak laki-lakinya yang memanggil tak seperti biasanya. Itu mengingatkannya dengan sarapan tadi. Tidak, Rey tidak suka dipanggil dengan sebutan itu.
"Sekarang aku mau panggil Papa, 'Daddy'? tegas anak kecil itu.
"No," teriak Rey. Aero terdiam dengan bibir manyun dan melipat kedua tangannya di dada. Matanya memandang ke arah jendela mobil luar.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Papanya terlalu fokus menyetir.
Sesampainya di sekolah dia membukakan pintu mobil untuk anak-anaknya. Menggandeng tangan Aero dan Pinky masuk dalam sekolahnya.
"Hallo Miss Eva ...." teriak Aero menyapa guru bahasa Inggrisnya yang kebetulan bertemu di depan pintu gerbang sekolahnya.
Guru itu berhenti, membungkuk dan mengelus kepala Aero, "Hallo how are you today?"
"I'm fine, thank you ...."
Dia tersenyum kemudian berdiri menghadap Rey, "Aero ini aktif sekali loh Pak."
"Pusing kepala saya ... ah Daddy ini ngawur terus," teriak Aero. Pinky dan guru itu tertawa.
"Ya sudah Papa mau nganter Mama ke toko kue, kalian masuklah!"
"Daddy pasti mau makan kue banyak-banyak ya?" goda Aero. "Marahin Miss, dia sugar daddy!" teriak anak itu yang membuat wali murid lain yang berjalan berlalu lalang memperlambat gerakannya dan menatap Papanya.
"Huusss ...." Rey membungkam mulut Aero dan memberi senyum terpaksanya pada guru dan orang-orang yang menatapanya sinis. "Maaf, anak saya ini salah mengartikan. Sa-saya bukan sugar daddy."
Guru itu berusaha menahan tawanya. Rey berjalan meninggalkan anak-anaknya menuju mobil dengan menggerutu tidak jelas. Dia membanting pintu mobil. Raut wajah malu, geram bercampur menjadi satu.
Dia menjemput Kinan yang sedari tadi sudah menunggunya. "Tumben lama?" tanya Kinan yang kini sudah di mobil dan menarik sabuk pengaman dan menguncinya.
"Anak kamu tuh mulutnya nyerocos kayak petasan, masak dia beneran bilang ke guru bahasa inggrisnya kalau aku sugar daddy ," sunggut Rey yang tangannya sibuk memutar kendali mobilnya. Wajahnya cemberut, bibirnya mengerucut.
"Kalau jeleknya aja nyebut-nyebut anakku, kalau bagus anakmu. Ya emang kamu sugar daddy 'kan?"
"Ini juga dicurhatin malah benerin kelakuan anaknya. Tau gak tadi semua orang menatapku, malunya sampai ke ubun-ubun," teriaknya.
Kinan memegang dahinya, "Ya udahlah namanya juga anak kecil. Lagian bukannya kamu dulu juga sugar daddy?" Wanita itu membuang pandangannya ke arah luar.
"Ye bahas yang dulu lagi, aku cium nih!" ucapnya.
Ancaman macam apa itu. Lampu lalu lintas berwarna merah. Mobilnya pun berhenti. Tangannya menarik dagu Kinan dan menciumnya. Mereka begitu menghayati aktivitas yang membuat jantung berdebar-debar, tangan berkeringat, aliran darah pada tubuh meningkat dan napas mulai berat itu. Bahkan lampu sudah berubah menjadi kuning pun tak mereka perhatikan.
Tin tin tin tin
"Sial,"