
Kinan POV
Aku keluar kamar mandi dengan muka lusuh. Ku kibas-kibaskan tanganku. Benar-benar habis dikerjain olehnya. Ku tatap matanya dengan muka cemberut dan dia masih bisa-bisanya tertawa melihatku.
Dia berjalan merangkulku, "Lega banget aku!" Aku ternganga mendengarnya. Dia masih tertawa kemudian berbaring di tempat tidur.
Aku duduk di tepi tempat tidur dan memandangnya, "Kenapa? Capek tangannya? Sini!" Dia meraih tanganku dan perlahan memijatnya. Matanya menatapku tajam dengan melempar senyum.
Ku picingkan mataku, "Aku tidak mau seperti itu lagi, pegal tanganku!" Ku kerucutkan mulutku dan ku buang mukaku.
"Cantik banget kalau lagi cemberut!" Ujung jarinya menyentuh daguku. Ku libaskan dengan tangan kiriku. "Ya sudah, ayo tidur sini!" Tangan membuka lebar. Aku memeluknya dan mencoba tidur di dadanya.
"Aku sebenarnya pusing banget, kenapa ASI ku susah banget keluarnya. Dulu saat menyusui Pinky tidak seperti ini."
"Mungkin karena kamu stres mikirnya diet terus. Makan sayur yang banyak!" Aku mengganggukan kepalaku. "Sini aku bantu keluarin ya!"
Deg
Mataku membulat mendengarnya, "Ka-mu mau apa?"
Dia membuka kancing bajuku satu persatu. Aku berusaha menahannya namun dia malah memaksaku.
"Mau keluar atau tidak?" tanyanya yang mampu membuatku kebingungan.
Tangannya dengan cepat masuk ke dalam bra ku, dan memijatnya perlahan. Dia membuka baju atasanku, meraba punggung ku dan melepas kaitan bra ini.
Aku menutupinya dengan kedua tanganku, entah kenapa aku begitu malu. Aku takut tubuhku masih penuh lemak di matanya. Namun dia memaksa tanganku untuk membukanya.
Dia menidurkanku dan dengan cepat menghisapnya kuat. Perutku rasanya mengeras. Ku gigiti bibir bawahku, aku benar-benar tidak kuat menahannya.
Ku dorong kepalanya untuk menyudahi ini semua namun sepertinya percuma. Dia seperti mengunciku. Suara hisapan lembut dari bibirnya membuatku tidak kuat untuk menjambak rambutnya.
"Kenapa jadi kamu yang menyusu?" Ku dorong kuat dadanya. Dia seperti tidak memperdulikan pertanyaanku.
Setelah beberapa menit, akhirnya dia melepaskan ketegangan ini. Dia menatapku tajam dengan rambut berantakan yang entah kenapa semakin membuat jantungku berdegup kencang.
Dia langsung mencium bibirku. Kedua tangan masih sibuk memijat pelan payudaraku. Setelah puas dengan bibirku dia kembali turun ke lekuk leherku. Aku bisa merasakan dia memberikan tanda kepemilikannya beberapa kali disana.
"Sudah! Aku capek," teriakku.
Dia berhenti dan menatap mataku, "Ya sudah ayo tidur!" Dia kembali membantuku memakai baju yang telah dia buka tadi. "Besok lagi ya! Kegiatan ini harus dilakukan sesering mungkin." Aku tertawa dan memukul dadanya pelan. Dia memelukku dan rasa kantukku sudah tak tertahan lagi.
...****************...
Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit aku sudah bangun. Ku lihat dia masih tertidur pulas. Aku berjalan melihat anak-anakku dan mereka masih tidur terlelap juga.
Beberapa menit aku melihat anakku akhirnya aku kembali melihatnya dan belum bangun juga. Aku mendekatinya, ku perhatikan betul bentuk alisnya, bulu matanya, hidungnya, bibirnya sangatlah indah dan tidak pernah ada rasa bosan untuk dipandang. Akhirnya ku putuskan untuk mencium lembut bibirnya agar dia tidak terbangun.
Cuuuuup
Matanya langsung terbuka dan dia menindih tubuhku. Dengan cepat dia membalas ciumanku bertubi-tubi. Aku tidak menyangka dia sudah terbangun. Apa jangan-jangan dia tau dari tadi aku memperhatikannya?
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu menyudahinya untuk semua ini. Ku benahi baju dan rambutku dan berjalan membuka pintu kamarku.
Aku melihat Els berdiri di depan pintu kamar kami. "Tante, aku lapar. Buatkan aku nasi goreng! Aku kangen nasi goreng buatan Tante." Ku usap rambutnya.
"Ya sudah kamu main sama Om Rey dulu, Tante buatkan sekarang ya!"
Els mengerutkan keningnya, "Om Rey kenapa tidak pakai baju?"
Deg
"I-ni Om mau berenang," jawabnya gugup.
Matanya terlihat berbinar, "Aku ajarin berenang Om! Sudah lama aku tidak berenang."
"Oke, ayo!"
Aku memberi isyarat pada Rey untuk segera memakai dan celananya. Secepat mungkin aku menggandeng tangan Els untuk pergi dari kamar dan membantunya berganti pakaian juga.
"Tadi katanya laper?"
"Aku ingin berenang dulu Tante, nanti saja makannya."
Aku berdehem, terlihat Rey sudah siap di dekat kolam renang. Aku segera menuju dapur menyiapkan sarapan untuk mereka secepat mungkin sebelum anak-anakku bangun. Ada salah satu asisten rumah tangga yang membantuku untuk mempercepat kegiatanku kali ini.
Setelah selesai semua, aku berjalan ke dekat kolam renang dengan membawa dua piring nasi goreng. Aku masih melihat mereka tengah asyik berenang.
"Sarapan dulu!" teriakku.
"Iya Tante."
Els berjalan mendekatiku. Aku menyuapinya yang makan dengan lahap. Aku melihat ke arah suamiku, dia yang masih saja betah di dalam kolam renang.
"Kamu tidak sarapan dulu sayang?" teriakku.
Dia kemudian keluar dari kolam renang dan berjalan menghampiriku. Mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya.
"Kamu sudah pintar Els, bentar lagi pasti jago berenang!" ucapnya.
"Om Kevin dulu juga sering mengajariku, tapi aku tidak bisa-bisa Om." Aku tersenyum mendengarnya. Dia membuka mulutnya lebar dan aku menyuapinya lagi.
"Om Rey dulu sering menang lomba berenang lawan Om Kevin." Dia terkekeh kecil. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Entah ucapannya itu bohong atau tidak.
❤
❤
❤
❤
Cobaan ini sungguh berat bang? 🙈