Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Pulang


Rey POV


Cuuuuup


Satu ciuman mesra mendarat di pipiku rasanya terbayar sudah. Aku kembali menciumi pipinya dan juga bibirnya. Aku sangat merindukan ini semua.


Namun dibalik semangatku menikmati indah bibirnya, tanganya sibuk menahan dadaku. Aku menjadi kesulitan untuk melanjutkan. Akhirnya ku hentikan aktivitas ini.


"Ck. Kamu selesainya kapan? Aku kangen." Ku manyun-manyukan bibirku di dekat bibirnya. Dia menutup wajahku dengan telapak tangannya.


"Aku baru melahirkan, kamu sudah mendesakku untuk mempunyai anak lagi begitu haah?" teriaknya dengan wajah cemberut. "Aku tidak mau, ini yang terakhir!" Dia mengancamku dan memalingkan wajahnya.


Ku tarik dagunya dengan ujung-ujung jariku, "Aku tidak peduli, akan ku hamili lagi kamu!" Dia ternganga dan mencubit perutku. "Ya sakitlah?" Ku kerutkan dahiku.


"Begitu saja sakit? Lalu aku yang disayat-sayat perutku ini gimana coba?" Aku memeluknya erat dan mencium puncak kepalanya.


"Maafkan aku sayang! Terima kasih sudah memberiku kebahagian ini, sungguh aku mencintaimu. Ini adalah impianku dari dulu."


Tiba-tiba Pinky terbangun, kami mendekatinya. Ya dia sekarang sudah semakin aktif dan pintar. Selalu tersenyum saat diajak bicara dan celotehan yang semakin membuat ramai rumah ini.


Ku tepuk-tepuk tanganku untuk menghiburnya, "Pok ame-ame, belalang kupu-kupu siang makan naci kalau malam minum cucuuuuu."


"Susu ya bukan cucuu!" sahut Kinan.


Ku picingkan mataku, "Kan aku cuma ngikutin bahasanya bayi!"


"Ya janganlah! Kamu ingin Pinky cadel? Mungkin kamu ini hal sepele tapi sebagai orang tua kita harus mencontohkan yang benar!"


"Salah lagi. Zuzu saja zuuuuzuuu." Ku manyunkan bibirku, dia tertawa dan memukul-mukul bahuku. Walaupun sangat melelahkan tapi aku sangat menikmati hari-hari dengan mereka.


...****************...


Hari ini adalah hari terakhir kami menginjakkan kaki di rumah ini. Ada sedikit rasa berat dihati, walaupun kami tinggal disini hanya beberapa bulan tapi kenangan itu masih terlihat jelas dan akan sulit untuk dilupakan.


Di kamar ini, di dapur, di meja makan, di sofa yang ditemani suasana temaram dulu bahkan di kamar mandi. Aku tak bisa menahan kebahagian ini saat mengingat itu semua. Yang pasti aku akan merindukannya.


Mungkin ini keputusan yang seharusnya dari dulu aku lakukan. Hanya karena keegoisanku, aku hampir mengorbankan istri dan anakku. Namun kali ini ku lihat wajahnya ditekuk. Ku hampiri dia, ku pegang kedua pipinya.


"Ada apa?" Aku menatap manik matanya tajam.


"Aku kok berat ya ninggalin rumah ini! Aku pasti merindukannya. Jangan sampai dijual ya! Biar jadi kenangan kita nanti." Ku lihat matanya berkaca-kaca dan tak selang beberapa lama tumpah seketika.


Aku bantu menyapu air mata itu dengan punggung jariku. "Sssssttt, jangan nangis! Nanti kapan-kapan kita kesini lagi ya!"


Dia mengangguk dan berusaha menahan air matanya. "Kita pamit sama Andre dan Sisca dulu ya!"


Tok tok tok


Suara ketukan pintu itu mampu menghilangkan sementara kesedihannya. Dia mampu tersenyum, dan kami mulai berjalan membuka pintu.


Ku lihat Andre dan Sisca bertamu ke rumah kami. "Kalian benar mau pulang hari ini juga?" tanya Sisca dengan mengerutkan dahi.


"Iya, ayo kalian masuklah dulu! Sebenarnya kami mau ke rumah kalian. Tapi keduluan kalian yang kesini." Aku terkekeh kecil.


"Betul itu Kinan?" Kinan tersenyum sambil menganggukan kepalanya. "Ya ampun aku sangat kehilanganmu sebagai teman dan tetangga pastinya!" Mata Sisca berkaca-kaca dan langsung memeluk istriku.


"Kinan aku boleh kan melihat Pinky?" Kinan mengangguk dan mereka berdua pergi ke kamar meninggalkanku dan Andre di ruang tamu.


Aku berbincang-bincang banyak dengan Andre. Dia menjelaskan kalau di kantor Arka benar-benar marah padaku. Ya, kalau aku jadi dia pasti aku juga akan marah. Aku pergi tanpa pamit padanya.


"Sebenarnya aku juga ingin mencari pekerjaan di tempat lain Rey, banyak karyawan yang tidak tahan dengan sikapnya. Selain itu kondisi perusahaan tau sendirikan sangat kacau. Aku yakin ini tidak akan bertahan lama bisa berdiri."


"Mak-sud mu Rey?" tanyanya keheranan. Aku hanya tersenyum padanya. Akan ku jelaskan nanti pada saatnya tiba. Akan ku genggam secepatnya perusahaan yang hampir jatuh itu.


Ku lihat ke arah kamar di mana Kinan sekarang berada, ku bisikan pelan ke telingan Andre. "Lalu bagaimana dengan wanita itu? Apa dia masih kerja disana?"


"Heem, dia masih dekat dengan Pak Arka."


"Aku bahkan belum sempat memberinya pelajaran." Andre terkekeh kecil. "Aku titip salam untuk Yuda dan Adrian ya Dre! Ponselku rusak belum sempat beli. Nanti akan ku kabari mereka." Dia tersenyum lebar dan mengangguk.


Tin tin tin


Kami melihat ke arah suara klakson mobil yang masuk ke carport rumahku. Aku memang sengaja menyuruh dua sopir untuk menjemput kami. Yang satu membawa mobilku dan yang satu lagi membawa kami pulang.


"Wuiiih mobil MPV mewah siapa itu Rey? Punyamu?" tanya Andre keheranan. Aku hanya mampu terkekeh. "Kamu mau pulang sekarang?"


"Santai saja, kalau kamu masih ingin berbincang-bincang denganku biarkan sopirku menungguku! Tidak masalah."


"Tidak lah, aku hanya akan memperlambat perjalanmu. Pulang lah dan jangan lupakan aku!"


Ku pegangi dahiku dan ku peluk erat dirinya. Dia menepuk-nepuk keras bahuku. Aku terdiam sejenak. Dia teman yang baik, aku jadi teringat Kevin.


"Sayang sudah siap!" teriakku. Dia keluar bersama Sisca menggendong anak-anakku. Aku menyuruh sopirku masuk rumah dan memasukkan semua koper kami ke dalam mobil.


"Kinan, sampai disana kamu jangan lupa meneleponku ya! Aku pasti sangat merindukan kalian!" Dia menangis memeluk istriku.


"Tentu saja!" Kinan menghapus air mata di pipi Sisca. "Semoga kalian segera diberi momongan ya! Aku akan selalu mendo'akan itu!"


"Terima kasih." Mereka berpelukan lagi.


"Semua sudah masuk kopernya Pak!" ucap sopirku.


"Ya sudah kami berangkat dulu ya!" Bola mataku berkeliling di seluruh sudut rumah. Oh, rasanya berat meninggalkan kenangan indah disini.


"Sayang ayo!" teriak Kinan. Ku tarik napasku dan menutup perlahan pintu rumah kecil yang memberiku banyak kebahagian dan pelajaran hidup ini.


Kami berjalan menuju mobil dan tidak lupa melambaikan tangan pada mereka. Aku tidak akan melupakan kalian.


Aku memangku Pinky dan Kinan memangku Aero. Terlihat matanya tidak henti menatap rumah itu. Ku pegang tangannya, "Sudah lah, kapan-kapan kita kesini lagi!" Ku tekankan lagi ucapanku padanya.


"Janji!"


"Heem." Dia akhirnya bisa tersenyum lebar.


Kami berdua menikmati perjalanan ini. Aku sering menciumi tangannya dan menggodanya untuk mengusir kejenuhan.


"Jika sampai disana siapa orang yang ingin kamu temui?" tanyaku.


"Tante Ina dan Els, aku rindu sekali dengan mereka sayang." Wajahnya terlihat berbinar. "Oh iya aku juga akan menemui Wina pastinya, aku rindu toko kue ku. Kalau kamu siapa yang akan kamu temui?"


Aku hanya tersenyum tanpa menjawabnya, yang pasti aku akan menemui Kevin. Aku sangat merindukannya. Aku ingin bercerita banyak dengannya.



😭😭😭😭😭😭


Yang nyuruh aku pulang kemarin siapa? Nih aku udah pulang mau diapain?


🗣 di unyel-unyel


Like ❤