
"Sudah gila kamu?" Aku berjalan pergi meninggalkan wanita itu. Dia memanggilku beberapa kali namun aku acuhkan. Aku tidak habis pikir dengannya.
Ku lihat ada Yuda, Adrian dan Andre di kantin. Aku mendekati meja mereka. "Rey, kenapa mukamu? Apa gara-gara dapat peringatan Pak Arka tadi? Haa, haa, haa."
Aku hanya diam tanpa memperdulikan ocehan mereka dan makan pesanan yang berada di depanku. Omongan Andin juga membuat kepalaku saat ini mau pecah. Bagaimana kalau dia nekat menganggu hubunganku dengan Kinan?
"Rey," Aku terlonjak kaget, kenapa wanita ini masih mengejarku? "Bagaimana tawaran ku tadi?"
"Wuuuuuiiiih," mereka bertiga menertawakanku.
Aku berdiri dan memakinya, "Aku tidak sudi dengan tawaranmu, pergi jauh dari kehidupanku!"
"Tidak usah munafik! Aku tau kamu sebenarnya juga butuh itu kan?" teriaknya yang membuat semua orang disini menatapku.
Wanita itu pergi begitu saja dari meja kami. Aku melihat mereka bertiga masih menertawakanku. Sungguh kejadian kali ini mampu membuatku menjadi tak nafsu untuk makan lagi.
"Sial." Ku geprak meja ini dan aku duduk di kursiku lagi. "Dre, jangan bilang sama Kinan tentang semua ini ya!" Aku tatap matanya berharap dia bisa menyembunyikan semua ini.
Dia merangkul pundakku, "Tenang saja! Aku ngerti kok. Tapi Andin itu suka gigit, kamu juga harus hati-hati Rey!" Aku mengerutkan dahi. Ku nyalakan tembakauku dan ku hisap dalam-dalam asapnya.
"Lagian Andin lumayan Rey, tapi istrimu cantik juga. Kalau aku disuruh milih bingung juga mau milih mana," ucap Yuda dengan terkekeh. Ku lempar korekku ke arahnya mukanya.
"Berani melirik istriku? Siap-siap aku colok matamu." Entah kenapa mereka semakin keras tertawa.
"Baru kali ini aku menemukan wanita seperti itu. Terlalu maksa, gila itu wanita."
"Yang dipaksa itu biasanya enak belakangnya. Eh dia kayaknya suka beneran sama kamu Rey, biasanya seleranya kan bos-bos. Gratis kayaknya buat kamu, enak kan? Jadi kamu tidak perlu membelikan dia tas kremes. Haa, haa, haa." Ku lempar tisu ke muka Yuda dan aku berjalan pergi meninggalkan mereka.
Entah kenapa hari ini waktu terasa lambat sekali. Ingin aku segera pulang ke rumah. Rasanya sudah tidak betah berada disini lama-lama.
Namun saat semua pulang tiba-tiba Lutfi menghampiri ku. "Rey, kamu di panggil Pak Arka di ruangannya!" ucapnya dengan acuh.
"Ada masalah apalagi?" tanyaku. Dia mengangkat bahunya dan pergi begitu saja meninggalkanku.
Aku berjalan cepat menuju ruangan Arka. Ku ketuk pintu ruangannya. Dia melihatku tajam seperti menahan amarah. Aku sejenak berpikir. Apa lagi kesalahanku kali ini?
"Ada hubungan apa kamu dengan Andin?"
"Apa maksudmu? Pertanyaan ini sangat tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku."
"Kamu berani bertanya padaku seperti itu? Hei kamu itu hanya bawahanku. Kamu bisa makan juga karena gaji dariku!"
Ku kepalkan kedua tanganku. Ingin sekali aku memukulnya. Sepertinya aku sudah tidak sanggup menahannya. Namun tiba-tiba Lutfi masuk membuyarkan semuanya.
"Aku peringatkan kamu! Jauhi Andini! Jika kamu masih ku lihat dekat dengannya. Akan ku pecat kamu saat itu juga!"
"Peringatkan juga sekretarismu itu jangan selalu mengejarku!"
"Berani kamu menantangku?" Dia berdiri dari kursinya dan jarinya menunjuk-nunjuk padaku.
Aku tidak peduli. Aku berjalan pergi begitu saja dari ruangannya dan segera mungkin untuk pulang ke rumah.
Tok tok tok
Kleeeek
"Sayang," teriaknya. Dia mengalungkan kedua tangannya di leherku dan memelukku erat. Ku balas pelukan itu. Ku hirup dalam-dalam lekuk lehernya. Seketika bisa membuat emosiku mereda.
Dia menggandengku masuk rumah. "Bagaimana masih sakit?" Ku gelengkan kepalaku. "Ya sudah ayo makan!"
Dia mengambilkan ku makanan di piring. Kita menikmati makan malam bersama. Setelah makan aku segera mengguyur kepalaku dengan air. Hari ini sungguh menyebalkan.
Aku masuk ke kamar dan dia sudah menyiapkan semua bajuku. Ku lihat dia menselonjorkan kakinya di atas tempat tidur dan berusaha memijatnya. "Kamu kenapa?"
"Kaki ku bengkak." Ku lihat ke arah kedua kakinya. Oh tidak pasti dia sangat kelelahan mengurusi semua sendiri.
"Pinggangku juga sakit."
"Sakit?" Dia mengangguk. Aku memeluknya dan mengelus-elus pinggangnya.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Dia terbangun, dan mencari arah suara getaran itu. "Ada telepon?" Aku memeluknya lagi.
"Sudah biarkan saja!"
"Tadi pagi kamu telat?" Ku anggukan kepalaku. "Maaf aku tidak membangunkanmu, takut masih sakit."
"Tidak apa-apa. Sudah ayo tidur!"
Tak selang berapa lama dia sudah tertidur, aku berjalan ke luar rumah dengan mengecek ponselku. Yang benar saja lagi-lagi Andin masih terus menghubungiku. Ku remas-remas ponselku. Jika aku membalas pesannya dia pasti akan terus menghubungiku. Apa yang harus ku lakukan?
Aku duduk di teras dengan ditemani sebatang tembakau untuk mengusir dinginnya malam ini. Ku lihat ke atas langit begitu indah malam.
Aku terlonjak kaget saat Kinan menutup mataku dari belakang dengan kedua tangannya. "Kok bangun lagi?" tanyaku dengan gugup. Ku masukkan ponsel ke saku celanaku. Ku buang rokokku yang masih setengah begitu saja ke sembarang arah.
"Aku tidak bisa tidur," ucapnya dengan manja.
"Kemarilah!" Dia duduk dan memelukku. Ku elus-elus perutnya dan ku ciumi pipinya. "Aku mencintaimu." Dia membalas dengan mencium pipiku.
"Malam ini indah banget pantas kamu tidak mau menemaniku tidur." Wajahnya cemberut.
"Ya sudah tidurlah disini!" Aku menunjuk dadaku. "Aku masih mau nunggu bintang jatuh." Bola mataku berkeliling melihat langit itu.
"Kamu masih percaya?"
Ku anggukan kepalaku, "Aku ingin berdo'a agar Tuhan tetap terus mengizinkanku memelukmu."
Dia tersenyum lebar. Aku sangat tenang setiap melihat senyumnya. Perasaan ini dari awal aku bertemu dengannya tak pernah berubah dan selamanya tak akan berubah.
"Aku tidur ya! Tapi kamu jangan tinggalkan aku!"
Aku memeluknya, "Mana mungkin aku tinggal."
"Hei aku dengar detak jantungmu," ucapnya.
"Oh ya?" Ku selipkan anak rambutnya di telingannya. Ku pegangi kedua pipinya.
Dia dekatkan telinganya di dadaku. "Tapi detaknya lebih cepat waktu dulu saat pertama kali kamu memelukku di rumah sakit." Aku terkekeh mendengarnya.
"Dulu kan aku masih malu-malu." Ku kernyitkan mukaku. Dia menarik hidung ku. "Sakit tau, sudah ayo tidurlah! Biar terangnya sinar rembulan yang menyaksikan cerita cinta."
Aku memeluknya dan mengelus kepalanya. Kami terdiam dalam pelukan. Ada perasaan damai di dalam sana. Keheningan malam menambah suasana ini tenang.
Tapi kenapa kamu berpikir aku meninggalkanmu?Diantara ribuan kerlipnya bintang di awan cuma satu yang paling terang yaitu kamu, kamu yang paling ku sayang. Satu selamanya yang ada disampingku. Sampai terakhir hidupku, sampai Tuhan mengambil hidupku kamu tetap dihatiku. Kamu adalah impianku. Jangan pernah kamu meragukan itu!
Like
❤
Like
❤
Like
❤