Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Susah senang bersama


Ku banting pintu mobilnya. Ku berjalan menuju rumah dengan menghapus air mata yang mengalir. Ku tidurkan anakku di tempat tidurnya. Dan aku menangis sejadi-jadinya di tempat tidurku. Aku tidak menyangka Rey meragukan anaknya sendiri. Lalu untuk apa dia mencariku kesini. Apa jangan-jangan dia akan menceraikanku?


Ku luapkan air mataku di atas bantal tidurku. Dadaku rasanya sesak sekali. Ku pegangi perutku. "Aku membencimu Rey, huu, huuu, huuuu."


Kleeeek


Ku dengar ada yang membuka pintu kamarku. Pasti itu Rey, ku tutupi wajahku dengan tanganku. Dengan tangis sesegukan yang berusaha ku tahan.


"Tidak usah pura-pura tidur!"


Nafasku terpenggal-penggal mendengarnya. Tangisku semakin menjadi-jadi. Kenapa dia menjadi jahat sekali. Dulu kamu lembut padaku, tapi sekarang? "Huuuuu, huuuuuu, huuuuu."


"Kok jadi tambah keras nangisnya?" teriaknya.


Aku mencoba bangun dari tidurku, "Untuk apa Kamu menemuiku lagi?" tanyaku dengan menghapus air mata yang sedari tadi membanjiri pipiku.


"Buat tanya bagaimana hubungan kita selanjutnya?" jawabnya ketus.


Jawaban itu semakin membuat dadaku sesak. Ku pegangi dadaku. Aku tidak kuat untuk menahan tangis lagi. Mataku rasanya pedih sekali.


"Sudah nangisnya kasian calon anakmu!"


"Buat apa kamu kasian padanya? Kamu saja tidak mau mengganggap anaknya. Apa kamu lupa, dulu kamu berapa kali sehari meniduriku?" Ku tutupi wajahku dengan kedua tanganku.


"Apa kamu juga lupa, ku suruh untuk percaya padaku dan beri aku waktu tapi apa kamu malah kabur meninggalkanku kan? Seneng banget ya dari dulu sukanya kabur-kabur terus. Capek aku ngejar-ngejarnya."


"Aku tidak menyuruhmu mengejarku."


"Tapi Kamu suka kan ku kejar?" godanya. "Ya sudah aku ambil koperku dulu di mobil." Dia berjalan keluar kamar menuju mobilnya. Dan aku mengikutinya dari belakang.


"Ka-mu kok,?


"Kenapa? Aku mau tinggal disini?"


"La-lu Selena?" Dia terdiam menatapku tajam.


"Kan sudah aku bilang, aku tidak pernah menyentuh Selena apalagi menghamilinya. Yang di kandung Selena itu bukan anakku." Ku tatap matanya, Ku cari cela kebohongan yang nampak di dalam sana. "Masih tidak percaya? Aku telepon dia sekarang juga!" Tangannya sibuk menggambil ponsel di saku celenanya.


"Halo Sel, sekarang kamu jelasin pada Kinan yang sebenarnya!" teriaknya di telepon itu.


Dia memberikan ponselnya padaku. Ku dengar Selena sedang menangis meminta maaf padaku dan mengatakan bahwa dia selama ini hanya berbohong bahwa Rey adalah ayah dari anaknya. Ku tutup telepon itu. Dan ku berikan pada Rey lagi.


"Maaf," Ku tertunduk malu. "Ya sudah ayo Kita pulang!" ucapku lirih.


"Pulang kemana?" tanyanya kebingungan.


"Ya ke rumahmu."


"Rumahku sudah ku jual. Papa marah padaku, dan menyuruhku untuk meninggalkan perusahaannya."


"Kok bisa?"


"Aku sering tidak datang masuk kerja."


"Kenapa?"


"Karena malamnya aku sering cari pelampiasan," jawabnya dengan santai.


"Kamu bermain wanita lagi Rey?"


"Tidak cuma minum wine saja."


"Bohong. Pasti kamu berjoget-joget ria dengan mereka. Terus tanganmu pasti pegang-pegang tubuh mereka. Bibirmu pasti juga sudah menciumi mereka." Ku dorong tubuhnya. "Aku jijik padamu Rey," teriakku. Ku menangis sejadi-jadinya. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan itu.


Dia menghampiriku, dan menggodaku. Memegang pipiku, memiringkan kepalanya dan hendak akan mencium bibirku. Ku dorong tubuhnya menjauhiku. "Jangan sentuh aku!"


"Kamu jahat Rey," teriakku.


"Kalau aku jahat, aku tidak akan mencarimu dan ku habiskan sepanjang malamku dengan wanita-wanita khayalanmu itu. Aku pergi nih! Benar Kamu tidak mencegahku?" Dia berjalan keluar pintu. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.


"Rey," panggilku lirih. Dia berhenti dan menoleh ke belakang.


Dia membalik tubuhnya, berjalan pelan ke arahku dan meninggalkan kopernya di luar. "Kemarilah!" Tangannya membuka lebar, mempersilahkanku untuk memeluknya. Aku berjalan cepat ke arahnya dan memeluknya erat. Dia membalas pelukanku. Aku menangis di dadanya.


"Sudah nangisnya!" Punggung jari tangannya menghapus air mata di kedua pipiku. "Kamu tidak jijik kan padaku, aku berani bersumpah aku tidak menyentuh wanita lain." Ku anggukan kepalaku. Dia memegang pipiku dan ingin mencium bibirku lagi. Ku tutup kedua mataku.


Deg! Deg! Deg!


Tapi dia tidak segera menciumku. Ku buka mataku, dia sedang berlutut mencium perutku yang berisi buah cinta Kami.


Cuuuup cuuuuuup


"Anak Papa, pasti pengen dielus Papa. Mama pakai acara kabur-kaburan segala. Sudah menghukum Mama belum?"


"Rey," rengekku. "Kamu tidak tau beratnya hidupku."


"Siapa suruh kabur?"


"Aku minta maaf." Dia memelukku lagi.


"Kamu tadi minta cium, ayo ke kamar! Kamu tidak malu di lihat tetangga dengan pintu terbuka seperti ini?"


Cuuuup cuuuuuup cuuup


"Mulutmu bau asap rokok, aku tidak suka Rey!"


"Aku begini juga gara-gara kamu ninggalin aku. Pengen ngisap tidak ada yang di hisap. Ya sudah aku hisap saja rokok."


"Ya sudah sekarang jangan merokok lagi!"


"Pelan-pelan ya aku tidak bisa langsung, soalnya sudah candu. "Aku menggerutu, bagaimana bisa aku lagi hamil dia malah merokok.


Dia menceritakan semua padaku. Papanya telah marah padanya dan melarangnya untuk memegang perusahaannya. Hartanya habis karena dia gunakan untuk mencari kesenangan semata. Entahlah aku harus percaya padanya atau tidak. Tapi yang pasti posisinya dia sekarang benar-benar berada di bawah.


"Jadi sekarang kamu pengangguran Rey?"


"Iya, apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanyanya. Aku masih bingung dengan pola pikirnya. Apa dikiranya aku wanita matre?


"Lalu kenapa setiap bulan memberikanku uang segitu banyak dulu?"


"Aku takut kamu kekurangan saja. Tapi sekarang uangku habis, semua di ambil Papa buat ganti kerugian perusahaan tinggal itu mobilku hartaku dan Kalian keluargaku."


Aku memeluknya erat, "Maafkan aku Rey." Dia hanya berdehem dan membelai rambutku.


Setelah ku pikir-pikir panjang, Ku putuskan untuk pergi dari rumah kontrakan ini. Dan membeli sebuah rumah di perumahan terdekat dari sini dari uang yang dia kirim setiap bulan padaku dan hasil tabunganku dulu. Aku merasakan betul apa yang Rey rasakan, pasti dia selama ini terpuruk sekali dengan keadaannya.


Kami melihat-melihat rumah dan langsung saja Rey setuju dengan pilihanku. Rumah type 36 dengan ruang tamu, ruang makan, dapur, satu kamar mandi, carport, taman kecil di depan dan dua kamar bersebelahan yang bisa mempercepat gerakanku saat melihat anakku.


Aku tau ini pasti terlalu sempit bagi Rey, tapi melihat saldoku terkuras habis untuk membelinya mau tidak mau kita tinggal disini daripada di rumah kontrakan yang pasti membuatnya tidak nyaman.


"Rey habis ini kamu cari kerja ya! Tabunganku habis."


Dia mengkerutkan dahinya, "Kan tadi aku bilang jual saja mobilku, kenapa pakai tabunganmu. Dimana harga diriku?"


"Tidak usah pentingkan harga diri disaat yang seperti ini. Itu mobil harta kita satu-satunya." sahutku.


**Dukung terus Author,


Dengan like , coment, dan votenya** ^_^