
Rey POV
Di awali gerimis yang sedikit deras pagi ini. Aku sebenarnya sudah terjaga sejak dua puluh menit yang lalu tapi enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Suasana dingin dipadukan dengan rintik hujan adalah perpaduan sempurna untuk bermalas-malasan.
Belaian lembut tangannya yang mengelus rambutku seperti menghipnotisku untuk tertidur kembali, "Bangun! Mau kerja tidak? Kalau tidak juga tidak apa-apa?" Ku kerutkan dahiku. Kadang aku bingung memikirkan kemauannya. Dulu menyuruhku bekerja, setelah dapat pekerjaan menyuruhku untuk tidak bekerja.
"Aku tidak enak dengan Andre, dia yang membantuku mendapatkan pekerjaan ini." Ku tenggelamkan wajahku di bantal.
Kemarin dia menginginkan untuk pulang ke rumahku. Namun aku membujuknya untuk tinggal disini dulu. Entah sampai kapan, aku bahagia saja disini.
Dia menarik-narik tanganku menyuruhku mandi. Aku beranjak sebelum emosinya meluap-luap lagi. Dia menyiapkan semua keperluanku. Aku sarapan bersamanya, dan tidak lupa mengingatkannya untuk meminum vitamin dan susu.
"Jika ada apa-apa telepon aku ya! Hati-hati di rumah. Jangan terlalu kelelahan!" Dia mengangguk dan memelukku. Kau mencium keningnya dan segera berangkat.
Sesampainya di kantor entah kenapa para karyawan lain menatapku tajam sejak aku turun dari mobilku. Apa ada yang salah? Apa setelan jas ku berlebihan? Ku lihat dari ujung kaki ku ke atas. Tidak ada yang salah.
Aku memberi senyum pada mereka. Aku tidak peduli apa yang mereka bicarakan. Kalau ini kantorku mungkin akan ku maki-maki mereka semua. Benar-benar membuatku risih.
Sebagai manajer baru aku memperkenalkan diri pada mereka semua. Dan mereka menyambutku dengan antusias. Aku suka suasana disini, walaupun kantor ini tidak sebesar kantorku dulu.
Tidak ada kesulitan aku mengerjakan semua tugas-tugasku. Saat makan siang ku berjalan keluar ruanganku menuju kantin. Dan aku bertemu Andre saat akan menuju kesana.
"Rey," sapanya. "Mau ke kantin? Ayo bareng!" Kita berjalan berdua.
Aku juga bertemu dengan dua teman baru disana. Mereka bernama Yuda dan Adrian. Kita berbincang-bincang dan makan berempat di salah satu meja kantin ini.
"Kalian tau? Si Andin makin aktif saja bun?"
"Haa, haa, haa," gelak tawa kita berempat menjadi sorotan para karyawan lain yang sedang makan disini. Aku sebenarnya tidak tau apa maksudnya.
"Parah, darimana kamu tau?" tanya Adrian.
"Semalam aku kan di suruh lembur, gara-gara si Anjayani laporan ke bos kerjaan ku belum selesai."
Aku berpikir sejenak. Ku potong pembicaraannya, "Tunggu siapa Anjayani?"
"Si Lutpi yang suka pansos ke bos. Bener-bener minta di tampol tuh anak. Dikit-dikit laporan."
"Ho'oh cari muka tuh anak, sekali-kali harus dikasih pelajaran," sahut Andre.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, karena baru aku belum mengetahui betul keadaan kantor ini.
"Terus Andin tadi gimana?" tanya Adrian.
"Jadi gini, semalam jam sembilan aku kan baru selesai tuh. Terus aku mau nyerahin laporan ku ke Pak Arka nah gak sengaja telinga ku denger decitan 'ngik, ngik, ngik' di dalam ruangannya. Dan kalian tau apa yang aku lihat. Andin lagi bercinta sama Pak Arka di sofa."
"Haaa, haaa, haaa," gelak tawa itu semakin keras dan membuat para karyawan berbisik-bisik melihat kami.
"Berdosa banget itu mata mu Yud," ucap Adrian. "Terus kamu menyaksikan mereka sampai selesai gitu?"
"Ya mau tidak mau, gila si Andin glowing banget kulitnya, tubuhnya bak gitar spanyol."
"Haaa, haa, haa, wah parah kamu Yud."
"Yakin nih, pasti sekarang di belikan tas kremes sama si bos."
Ku mainkan ponselku tiba-tiba aku mengingat Kinan. Sedang apa dia sekarang? Pasti dia kesepian tanpa aku. Aku harus bertanya padanya.
Aku : Lagi apa sayang? Sudah makan belum?
Sambil menunggu balasannya aku hisap kuat-kuat rokok ini. Dan mendengarakan obrolan gila teman-teman baruku. Tak lama kemudian ponsel ku berbunyi.
Kinan : Aku sudah makan, kamu sudah makan?
Ku taruh lagi ponselku di meja karena Yuda mengajakku berbicara.
"Rey, pertama aku melihatmu, aku kira kamu itu CEO baru pengganti Pak Arka," ucap Yuda.
"Eh, bukan aku saja yang bilang. Semua orang juga bilang gitu. Bagaimana tidak, mobilmu dan mobil Pak Arka masih bagusan mobilmu. Dan semua pakaian yang kamu kenakan ini pasti branded semua. Ngaku Rey!"
Aku mengambil ponselku dan membalas pesanya.
Aku : Sudah sayang. Nanti pulang mau dibawakan apa?
"Rey," teriak Yuda.
"Maaf lagi membalas pesan istriku. Itu perasaanmu saja. Pakaianku biasa saja kok tidak semewah yang kamu pikirkan," jawabku.
"Yakin habis ini Pak Arka bakal mengganti mobilnya, berani taruhan?" sahut Adrian.
"Yang pasti, bisa-bisa reputasi sebagai bos turun. Masak mobilnya lebih kerenan punya karyawannya. Haaa, haa, haa." ucap Yuda yang mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.
Kinan : Martabak manis cokelat, keju, kacang, wijen.
Aku tersenyum membaca pesannya. Dan sedikit mengabaikan ocehan mereka.
Aku : Oke sayang, tunggu aku. Aku mencintaimu. Muaaah.
"Pada ngomong apa? Sudah ayo kembali kerja!" Aku berdiri. Ku taruh ponselku di saku celanaku. Dan kami beranjak pergi dari sini karena waktu makan siang telah hampir usai.
Kinan : Aku juga mencintaimu.
Semua pekerjaanku sudah beres, aku harus cepat-cepat pulang. Aku tidak mau wanitaku menunggu lama. Karena terburu-buruku aku menabrak seorang wanita yang lewat di sampingku.
"Aduh," pekiknya dengan memegangi lengan tangan kirinya.
"Eh, maaf."
Dia menatapku tajam, "Kamu manajer baru itu? Aku baru melihatmu disini."
"Iya. Kamu tidak apa-apa? Aku tidak sengaja karena buru-buru pulang."
"Tidak apa-apa. Kenalan dulu dong! Aku Andin sekretaris Pak Arka." Dia menyodorkan tangannya.
"Aku Reyhan."
Tiba-tiba aku teringat cerita Yuda tadi siang. Apa ini wanita yang dimaksudnya? Aku tertawa pelan.
"Kenapa tertawa?" tanyanya.
"Oh tidak, ya sudah aku pulang dulu." Aku pergi meninggalkannya.
Sesampainya di rumah aku tidak sabar untuk memberikan martabak ini pada Kinan. Ku ketuk pintu rumahku. Dia membuka pintu itu dengan cepat dan menyambutku dengan pelukan hangatnya.
"Ini pesanannya!"
"Terima kasih sayang," ucapnya dengan wajah berseri. Kami duduk di meja makan dan dia sangat lahap memakannya.
"Kamu mandi saja dulu, aku sudah siapkan semuanya!" serunya.
"Ya sudah aku mandi dulu." Dia mengangguk dengan mulut yang penuh dengan martabak.
Selesai mandi dia sudah berada di kamar. Dia memainkan ponselnya. "Tadi bagaimana di tempat kerjamu sayang, kamu betah?" tanyanya.
"Ya lumayan."
"Kamu masih mau lanjut kerja disana?" tanyanya yang sepertinya ingin aku untuk berhenti bekerja.
"Iya lah. Kamu keberatan?" Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya sudah tidurlah!"