Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Ada paku di kepalamu


"Kerjaanku cuma nunggu kamu membalas cintaku!" Ku manyunkan bibirku, dia menutup wajahku dengan telapak tangannya.


"Aku kan sudah membalasnya."


Lalu tangannya sibuk memainkan rambutku, "Waktu pertama kita bertemu, tidak sedikit pun kamu suka atau kagum gitu denganku?" Dia hanya menggelengkan kepalanya. "Masak?" Ku miringkan kepalaku.


"Biasa saja," jawabnya dengan muka datar.


Ku kerutkan dahiku, "Aku kan babyface. Palingan kamu dikit-dikit naksir sama aku."


Dia memicingkan matanya dan berdiri dari pangkuanku, "Itu kan cuma perasaanmu. Kamu itu duckface." Ku manyunkan bibirku ke arahnya.


Dia terlihat menahan tawanya, dengan tangan yang sibuk membereskan semua yang berada di atas meja makan. "Nanti aku keluar sebentar beli ponsel ya! Beli online kelamaan." Dia hanya mengangguk. Ingin sekali mengajaknya, namun dia pasti menolak karena memang anak-anak tidak ada yang mengawasi.


Secepat mungkin aku mengendalikan mobilku. Sesampainya disana, aku membeli dua ponsel, satu untukku dan yang satunya lagi untuknya. Dengan warna dan merek yang sama pula. Sebenarnya ponselnya tidak bermasalah, tapi aku ingin saja membelikannya. Semoga dia menyukainya.


Dua ponsel sudah ditangan aku berjalan cepat kembali ke mobil. Namun di perjalanan sialnya aku bertemu dengan Selena. Dia bersama seorang wanita yang menggendong bayi laki-laki sepertinya anak dan pengasuhnya.


"Rey," Dia memanggilku tapi aku terus berjalan dan berusaha menjauh darinya.


"Rey, kamu sudah pulang kesini?" teriaknya.


Aku berdiri terdiam menatapnya penuh amarah, rasanya tidak ada lagi kata maaf untuk wanita sepertinya.


"Apa urusanmu? Kamu ingin menghancurkan hubunganku dengan Kinan lagi?"


Dia hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. "Aku minta maaf!"


"Sampai kapan pun, aku tidak akan memaafkanmu!" Aku berjalan pergi meninggalkannya.


Sesampainya dirumah, ku banting pintu mobilku. Rasa kesalku entah kenapa belum juga hilang. Ku buka pintu rumahku.


"Eh," Aku kaget saat Kinan juga membuka pintu.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


Aku mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalaku. "Aku punya sesuatu untukmu!" Wajahnya terlihat berbinar. "Ayo masuk kamar!"


Ku gandeng tangannya. "Apa?" Aku hanya tersenyum menatapnya.


Ku buka pintu kamarku. "Anak-anak sudah tidur?" Dia mengangguk. "Baguslah!" Aku tersenyum lega. Ku kunci pintu kamarku.


Dia duduk di tepi tempat tidur. Aku mendekatinya dan memberikan ponsel untuknya. Tapi, dia hanya mengerutkan dahinya.


"Untuk apa? Ponselku masih bisa."


"Biar kita samaan." Dia hanya berdecak dan membuka ponsel itu.


"Suka?" Dia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Diisi dulu baterainya." Ku ambil lagi ponsel yang ku berikan padanya.


Aku memeluknya yang duduk dari belakang. Ku belai lembut rambutnya. Dia terlihat tersenyum malu-malu. Aku menciumi kepalanya.


"Eh tunggu,"


Wajahnya terlihat kebingungan, "Ada apa?"


Mataku membulat, "Kok ada paku di kepalamu?" Mulutnya ternganga dan tangannya memukul-mukul dadaku.


"Kamu kira lucu haah?"


Cuuuup


Satu ciuman langsung mendarat di pipiku. Ku sibakkan rambutnya. Ku dekatkan mulutku ke telinganya, "Bantu aku keluarinnya ya!" Aku tersenyum lebar sambil mengejar wajah kebingungannya.


Tok tok tok


Ketukan pintu itu membuyarkan keinginanku. Dia berjalan menjauhi ku dan membuka pintu itu. Terlihat disana dia berbicara dengan pengasuh, mungkin anak-anakku sedang menangis. Baiklah, lebih baik aku melakukannya sendiri.


Ku ambil ponsel baruku dan ku bawa ke kamar mandi. Aku sekarang berendam di bak mandi dan ingin segera melepas rasa yang sudah tak tertahan ini. Sudah berapa minggu sejak dia sebelum melahirkan aku sudah menahannya.


Hampir lima belas menit aku berendam di dalam sini, terdengar Kinan memanggil-manggilku. Ah biarkan saja, ini tanggung buatku.


Kleeeek


"Sayang," teriaknya yang membuatku terlonjak kaget dan ponsel jatuh seketika di dalam bak mandi.


"Yaaah," Ku raba-raba permukaan bak mandi yang tertutup busa itu.


"Kenapa?" tanyanya keheranan. Aku menatapnya dengan ponsel yang sudah ku temukan dan ku remas-remas. Aku berdiri dan mengguyur seluruh busa mandi yang masih menempel di tubuhku ini dengan shower.


Dia masih berdiri terpaku melihatku dengan mata membulat. Ku ambil sehelai handuk di dekatku. Ku lilitkan ke bagian bawah tubuhku.


Aku keluar kamar mandi meninggalkannya. Ku buang ponsel yang sudah tidak berguna ini ke tempat sampah.


Dia menarik tanganku, "Lah kok dibuang?"


"Masuk dalam air."


Ku usap gusar rambutku yang masih setengah basah ini dengan handuk. Aku berdiri di depan kaca, melihat wajah frustasi ku karena belum melepaskan seluruh keinginanku tadi.


Terlihat dari kaca dia mengambil ponsel yang sudah ku buang tadi di tempat sampah. Tangan sibuk membuka ponsel itu.


"Buat apa mandi bawa ponsel? Lagian baterai belum penuh sudah di cabut," gerutunya.


"Daripada lupa tidak dicabut nanti hamil baterainya." Dia mengernyitkan dahinya. Aku berjalan mendekatinya. "Sudah buang saja nanti aku beli lagi." Ku ambil ponsel itu dari tangannya dan ku buang ke tempat sampah lagi.


"Ya sudah pakai ponselku itu saja!" serunya. Aku mencabut ponselnya yang masih sedang mengisi baterai. Duduk di atas tempat tidur dan memainkannya.


"Anteng banget?"


"Aku itu anteng kalau lagi nonton film jepang." Dia mengambil paksa ponselnya dan melihatnya. Matanya membulat dan mulutnya ternganga.


"Jadi kamu di kamar mandi berlama-lama tadi cuma melihat film seperti ini?" Suaranya melengking di telingaku.


"Aku cuma lagi ingin saja."


"Tapi tidak harus seperti ini juga,"


"Ya sudah, ayo bantuin aku!" Aku menarik tangannya ke kamar mandi.



HaPenya jangan dibanting atau di celupin air lagi ya bang! 🤧😷


Hiyaaaa


Like ❤