Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Hangover


Hari sudah berganti, malam ini dia mengajakku ke acara ulang tahun rekan bisnisnya. Kemarin dia sedikit marah karena aku menertawakannya saat dia memperkenalkan diri sebagai pemilik baru diperusahaannya. Namun sudah ku tebus kesalahanku setelah sampai rumah. Aku tau dia tidak akan bertahan lama marah padaku.


Malam ini, dia menyuruhku untuk berpakaian warna putih, dan dia pun juga mengenakan pakaian dengan warna sama.


"Harus ya pakaian serba putih gini? Kayak kunti saja putih-putih." Dia tertawa dengan menganggukan kepala dan tangan kanannya sibuk mengenakan jam di tangan kirinya.


"Nanti pulangnya jangan malam-malam ya, aku takut anak-anak nangis dan Mama kerepotan lagi!" Sementara kami memang menitipkan mereka di rumah Mama beserta pengasuhnya. Rencananya setelah selesai acara kami akan menjemput mereka untuk pulang.


"Makanya aku ngajak kamu biar nanti bisa cepat pulang. Kalau aku sendiri bisa-bisa sampai pagi." Ku kerutkan wajahku mendengar ucapannya. Maksudnya apa?


Setelah kami mengantar anak-anak ke rumah Mama, dengan cepat dia mengendalikan mobilnya ke tempat tujuan.


Aku tercengang sesampainya disana suasana sangat ramai dan temaram. Hilir mudik orang dengan pakaian yang bermacam-macam gaya, mulai dari biasa sampai punggung dan dada terbuka dari yang mengenakan jeans panjang sampai rok mini semua melintas di depan mata.


"Benar disini tempatnya?" tanyaku keheranan.


"Iya disini, dulu aku dan Kevin juga sering menghabiskan malam disini?"


"Haaah?"


Kami mulai masuk ke dalam. Untuk sementara aku kaget melihat geliat kehidupan malam yang belum pernah aku rasakan. Ada wanita dan laki-laki yang melintas dan bertukar pandang sambil tersenyum. Bahkan tak satu dua wanita yang melempar senyum pada Rey.


Sesampainya di dalam, tak ada lampu terang di dalamnya. Hanya ada sorot lampu aneka warna yang bergerak kesana kemari Serta lampu disco yang berputar di tengah ruangan.


"Aku pusing lihat lampunya? Ini gelap, kamu jangan lepaskan tanganku!"


Dia terkekeh, "Tenang saja, kamu tidak akan hilang!"


Rasa tak nyaman membuatku ingin duduk. Ya temannya sudah memesan sofa kosong untuk merayakan ulang tahunnya. Aku kini duduk di sampingnya, dengan tangan yang masih mengandengnya. Aku sungguh takut jika dia meninggalkanku sendirian di tempat ini.


Musik keras dalam ruangan yang gelap dipenuhi aroma parfum, minuman beralkohol dan rokok ini membuatku pusing. Orang-orang terlihat asyik menari-nari saling berangkulan antara laki-laki dan wanita mengikuti dentuman musik keras itu. Tawa mereka yang bercampur dengan dentuman kerasnya musik juga membuat telingaku sakit.


Disini laki-laki dan wanita berbaur bebas tanpa pembatas. Aku tidak mau membayangkan bagaimana kehidupan malamnya dulu bersama Kevin. Sudah cukup, aku menikah dengan masa depannya bukan masa lalunya. Ku geleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikiran burukku ini.


Di sofa ini aku melihat samar-samar minuman berwarna merah kehitaman itu memutar di gelas cantik bening berkaki dan laki-laki itu memberikannya pada suamiku.


"Kamu mau!" teriak temannya padaku. Ku geleng-gelengkan kepalaku.


Rey tersenyum melihatku, lalu menatap temannya, "Dia tidak minum."


"Itu apa?" bisikku di telinganya. Namun suara dentuman musik tak mampu menembus suaraku.


Dia mendekatkan telinga ke mulutku, "Apa?" teriaknya. Teman-temannya menatap kami. Akhirnya ku urungkan pertanyaanku tadi.


Mereka berbicara tentang bisnis mereka dan sesekali tertawa terbahak-bahak padahal menurutku tidak ada yang lucu.


Mulutnya mendekat ke wajahku, "Kamu mau minum apa sayang?" Ku tutup hidungku dan ku geleng-gelengkan kepalaku, bau alkohol begitu menyengat ke indera penciumanku. Kemudian dia menghabiskan minuman itu dan tersenyum padaku.


"Rey, aku tuangkan lagi nih. Ini anggur terbaik ayo kita habiskan!" Mereka tertawa terbahak-bahak lagi, mulutku ternganga mendengarnya. Dia menuangkan setengah gelas minuman itu di gelas cantik yang dipegang suamiku kemudian di teguknya begitu saja.


Aku melihat Rey seperti mulai terasa tidak nyaman dan gerah dengan berusaha membuka kancing kemejanya. Dia menaruh gelasnya di meja.


"Sudah, ayo pulang!" teriakku.


Matanya memerah dan seperti orang gila tersenyum tidak jelas padaku, dia memegang kedua pipiku, "Sayang acaranya belum selesai, aku tidak enak. Sebentar lagi ya!"


"Ayo kita kesana!" Dia menunjuk di bawah lampu disco yang berada di tengah ruangan.


"Mau ngapain?" Ku gelengkan kepalaku.


"Sudah ayo!" Dia menarik tanganku. Aku berusaha melepas cengkraman tangannya namun seperti percuma.


Dia membawaku di tengah orang-orang yang berbaur bebas ini. Dia merangkulku dan sesekali mencium bibirku. Aroma alkohol dari mulutnya membuatku muak. Aku mendorong-dorong tubuhnya.


"Rey, pulang!" teriakku yang sepertinya dia tidak bisa mendengarnya karena dentuman musik itu lebih keras disini dari pada di sofa tempat duduk kami.


Dia menari berputar-putar sambil mengangkat kedua telunjuknya ke atas. Benar-benar fasih sekali.


Dia berteriak dan bernyanyi mengikuti lagu Bon Jovi di musik DJ yang mengalun keras itu, "And I will love you baby, always (Dan aku mencintaimu sayang, selalu). And I'II be there forever and a day, always (Dan aku akan ada disana setiap hari dan selamanya, selalu). I'II be there till the stars don't shine (Aku akan ada hingga bintang tidak lagi bersinar). Till the heavens burst and (Sampai langit runtuh dan). The words don't rhyme ( Kata-kata tak lagi bernada ). And I know when I die, you'II be on my mind (Dan aku tau ketika aku mati, kamu akan berada dipikiranku)."


Dia sepertinya mabuk. Aku benar-benar malu, bola mataku berkeliling melihat orang-orang di dekat kami, untung mereka tidak memperdulikan. Mereka seperti asyik dengan dunianya sendiri.


Kemudian dia memegang kedua pipiku, "What I'd give to run my fingers through your hair (Apapun akan ku lakukan agar aku bisa membelai rambutmu), to touch your lips, to hold you near (Menyentuh bibirmu, mendekapmu dengan erat), When you say your prayers try to understand (Saat kamu ucapkan doamu, cobalah mengerti), I've made mistake, I'm just a man (Aku telah membuat kesalahan, aku hanya manusia), when he holds you close, when he pulls you near (Ketika dia memelukmu dengan erat, ketika dia menarikmu mendekat), when he says the words you've been needing to hear (Ketika dia katakan kata-kata yang telah lama ingin kamu dengar), I'II wish I was him 'cause those words are mine (Aku berharap aku adalah dirinya karena itu adalah kata-kataku), to say to you till the end of time (Untuk mengatakan padamu sampai akhir waktu)."


Bruuuuuk


Dia terjatuh dipelukanku. Oh tidak apa yang harus aku lakukan?






Dukung terus Author,


Dengan like, coment dan votenya ya! 😘