
Ku buka pintu kamarnya, ku lihat dirinya duduk termenung menangis memandangi sebuah bingkai foto.
Ku berjalan pelan ke arahnya dan ku lihat jelas yang dia pegang adalah foto Kevin dengannya dulu. Sungguh semakin besar rasa bersalahku ini. Ku menunduk melepaskan air mata yang sudah tidak bisa ku tampung lagi. Aku siap jika ini adalah hari terakhirku bersamamu. Namun izinkan aku meminta maaf atas rasa terlarangku ini dulu.
Dia menggangkat kepalanya dan berdiri melihatku. Dengan cepat aku menangis bersujud di kakinya. "Maafkan aku Kinan! Aku sudah berusaha membuang rasa terlarang ini dari dulu tapi semakin aku membuangnya semakin membuatku kesulitan melupakanmu. Aku memang seperti benalu di hubungan kalian. Aku memang tidak pantas mendapatkanmu. Apapun keputusanmu saat ini aku akan menerimanya. Sebagai bentuk hukuman dariku."
"Aku yang seharusnya mati saat itu, aku yang seharusnya mengubur dalam cintaku padamu. Dan seharusnya sekarang Kevin yang masih berada di sampingmu bukannya Aku, aku tau sebesar apapun cintaku padamu tidak akan pernah bisa menggantikannya di hatimu. Semua memang salahku. Aku memang tidak berguna."
Dia tiba-tiba jatuh terduduk didekatku dengan air mata yang belum mengering. Dia menatapku tajam. Aku siap jika saat ini dia menamparku atau memukul kepalaku atau bahkan mendorong tubuhku yang hina ini.
Tapi dia langsung memelukku. Dan menangis tersedu-sedu di bahuku. "Rey, aku yang salah. Aku seharusnya tidak mengenal kalian berdua. Aku yang merusak hubungan persahabatan kalian. Aku lebih baik pergi dari sini!" Dia menyapu air mata di pipinya.
Deg
"Kinan, apa yang kamu katakan!"
"Aku sadar aku siapa Rey, aku akan pergi dari rumah Kevin. Dan kamu boleh meninggalkanku sekarang! Terima kasih sudah mencintaiku Rey! Aku benar-benar tidak menyangka, kamu bisa sebegitu hebatnya menyembunyikan perasaanmu selama ini. Aku tidak tau bagaimana rasa sakit yang kamu alami saat melihat kemesraaanku bersama Kevin dulu. Aku minta maaf Rey! Huu, huu, huu."
Dia berdiri dan membuka lemari mengemasi baju-bajunya. Aku bingung dengan semua ini. Apa sebenarnya yang Selena katakan pada Kinan?
"Kinan." Ku bersujud dikakinya lagi. "Kamu jangan pergi! Aku mohon, Aku tidak bisa hidup tanpa melihat senyummu."
"Bagaimana bisa kamu hidup dengan berkorban perasaan seperti ini Rey? Aku kira selama ini, kamu tidak akan bisa mencintai wanita sepertiku."
"Kinan, aku lebih bahagia melihat kalian berdua bersama. Dulu aku juga pernah menyerah untuk itu semua. Tapi hanya kamu dihatiku. Aku tidak bisa menggantikanmu dengan siapapun. Tetaplah disini bersamaku!"
Dia memelukku erat. Aku tidak tau apa ini pelukan terakhirnya. Aku menangis di bahunya. Dia mengelus-elus kepalaku. "Aku minta maaf Rey!"
"Kamu tidak salah Kinan, Tuhan telah menakdirkan ini semua." Ku pegang kedua pipinya. "Jangan pernah lagi kamu dengarkan mak lampir itu berbicara!"
"Kenapa kamu seperti Kevin?"
"Karena dia memang seperti mak lampir. Berjanjilah padaku Kinan! Jangan pernah meninggalkanku sendiri! Aku sangat mencintaimu!"
Dia menyapu air mata yang mengalir di pipiku. Ku rasakan belaian lembut tangannya. "Aku juga mencintaimu."
Deg
"Apa? Kamu bisa ulang lagi!" Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ku dengar.
"Aku mencintaimu Rey," ucapnya lirih.
"Apa kali ini kamu sedang menghiburku?" Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku memeluknya erat. "Sungguh aku tidak menyangka Kamu membalas cintaku Kinan. Lalu sejak kapan kamu mencintaiku?"
"Sejak kamu memenemaniku melahirkan."
"Oh iya, berarti sebelum kita menikah kamu sudah mulai menyukaiku? Harusnya kamu bilang dari dulu. Jadi kita bisa menikmati malam pertama Kita." Dia hanya terdiam menatapku.
"Eem maaf, aku salah berbicara ya?"
"Aku takut kamu tidak mencintaiku saat itu Rey, sifatmu sangat dingin padaku. Bahkan saat aku memakai lingerie itu, Kamu hanya terdiam melihatku. Aku sangat malu."
"Hei, jadi saat itu kamu berusaha menggodaku. Haa, haa, haa."
"Apa ada yang lucu?"
"Tidak." Aku memeluknya. "Aku takut menyentuhmu saat itu. Aku takut kamu tidak bahagia dengan pernikahan ini. Tapi ada satu kenyataan yang harus kamu tau!"
"Apa?" Wajahnya terlihat tegang. Aku tidak bisa menahan tawa ini.
"Boxerku rasanya sangat penuh saat itu, Haa, haa, haa." Dia mencubit perutku.
"Aaaaaaahhkk," teriakku. Aku melihat dia menunduk malu dengan pipinya yang memerah.
"Aku melihat semuanya, dan aku semakin mencintaimu."
"Kamu laki-laki penuh misteri Rey," ucapnya dengan senyuman lebar.
"Misteri gunung merapi? Selena dong?"
Dia tertawa bahagia, "Rey kamu jangan seperti itu! Dia sangat cantik. Kalian dulu kan saling mencintai juga."
"Siapa bilang? Aku masih memacarinya karena dia mengancam akan membongkar semua ini padamu dan Kevin."
"Kamu jahat Rey. Memang kamu mencintaiku sejak kapan?"
"Sejak aku pertama bertemu denganmu, di rumah ini."
"Ya ampun lalu bagaimana bisa kamu menahannya Rey?"
"Aku bahagia saat melihatmu bahagia sayang. Jadi bagaimana apa kamu masih mengira aku laki-laki tidak normal?"
Dia tersenyum malu, "Aku masih penasaran apa yang Kamu lakukan di kamar mandi kemarin?" tanyanya.
"Pelepasan."
"Haaah," matanya membulat seketika mendengar ucapanku.
"Aku harus bagaimana Kinan, Aku butuh itu semua. Tapi sekarang sepertinya tidak membutuhkan sabun cair itu, karena sudah ada Kamu." Dia terlihat tersenyum malu-malu, membuang mukanya.
"Ya sudah sana mandi!" serunya. Ku kerutkan dahiku.
Ku tarik pinggangnya ke tubuhku, ku bisikan sesuatu di telinganya, "Ya sudah ayo Kita mandi bersama!" Matanya membulat lagi.
Dia mendorong tubuhku, "Tidak Rey ini masih sore, aku malu."
"Kinan kamu lihat ini!" Ku arahkan mataku ke celanaku yang sudah menggembung. "Kamu selalu membuatnya terbangun. Kita bisa melakukannya di kamar mandi atau di bawah shower pasti menyenangkan."
"Tapi aku malu Rey, nanti malam saja Kita lakukan di atas ranjang dengan ditutup selimut."
"Jadi kamu menolakku?" Ku berbisik ditelinganya.
"Bukan begitu,"
"Lalu?"
"Mana bunga yang kamu janjikan padaku?" Sepertinya dia mengalihkan pembicaraan ini. Tapi Aku tidak menyerah.
"Kalau aku membawakanku bunga itu apa kamu tidak akan menolaknya?"
"Ya, tapi aku hanya memberimu waktu satu menit."
"Oke, tunggu disini!" Aku berlari cepat menuruni anak tangga dan menuju mobilku.
Bunga itu Kuberikan padanya. Senyum bahagia terpancar di wajahnya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan Aku mengikutinya. "Boleh aku merusak bunganya?" Dahiku mengekerut seketika. Apa dia tidak menyukainya?
Dia melepas satu persatu kelopak bunga mawar itu dan menyebarnya di bak mandi yang sudah berisi air. Aku melihatnya dengan tersenyum bahagia. Setidaknya tidak sia-sia aku membeli bunga itu.
"Ini pengalaman pertamaku bersamamu Rey, aku mau kelopak bunga ini menutupi rasa maluku. Aku tidak mau berada di bawah shower, aku belum terbiasa," ucapnya dengan polos yang membuatku tertawa geli.
"Aku akan membuatmu terbiasa."
**Dukung terus Author,
Lewat like, coment, dan votenya**! ^_^