Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Overcook


Suara rintik hujan di pagi ini semakin membuatku betah untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Ku lihat suamiku sudah tidak ada di sampingku. Aroma parfum maskulinnya masih tercium kuat dan seperti masih menempel ditubuhku, membuatku ingin mengulangi kenikmatan surga dunia yang dia berikan semalam. Bahkan aku hanya menutupi tubuhku hanya dengan selimut.


Kleeeek


Dia masuk ke dalam kamar, dengan sehelai handuk yang melingkar menutupi tubuh bagian bawahnya. Rambutnya terlihat berantakan dan masih basah. Dengan dua tanda merah di leher dan dadanya yang aku berikan semalam. Aku hanya ingin membalasnya yang selama ini selalu memberikan tanda itu padaku.


Dia mendekatiku, menyapaku dan mencium keningku. "Semalam sakit tidak?" tanyanya yang membuatku malu untuk menjawabnya. Hanya ku gelengkan kepalaku.


Ku sentuh otot dada dan perutnya, aku sungguh menyukainya. Namun kali ini perutku rasanya sudah tidak bisa diajak berlama-lama diam di atas tempat tidur ini. "Rey, aku lapar."


"Mau sarapan apa? Kamu kalau ingin makan apapun jangan ditahan dong! Nanti kalau ngiler gimana? Masak Papanya ganteng, anaknya ileran." Tangannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Iiiihh, memang kamu punya uang?"


"Ya masihlah kalau untuk beli sarapan." Dia berjalan mendekati almari baju dan mengambilnya.


"Bisa tidak kalau ambil baju itu jangan main tarik saja! Aku itu capek tiap hari merapikannya Rey."


Dia melengos ke arahku, "Iya," kemudian membiarkan baju yang dia tarik tadi berantakan begitu saja. Dia mengambil boxernya dan melempar handuknya ke atas tempat tidur. Aku melihatnya sangat jelas. Tidak ada rasa malu pun dia padaku, seolah-olah ingin memamerkannya padaku.


"Terus itu handuk, bisa kan kalau habis mandi jangan main lempar di atas tempat tidur. Taruh tempatnya lebih bagus di jemur di bawah matahari sana!"


Dia mengernyitkan mukanya, "Terus apa lagi? Banyak banget aturannya." Dia memakai boxernya dan melirikku.


"Iiiiihhh," Ku berdengus kesal sepertinya dia tidak begitu mengindahkan nasehatku. Perutku semakin lapar saja. "Rey telurnya masih berapa?"


"Cuma satu butir. Semalam kan kamu makan."


"Terus, pagi ini kita sarapan pakai apa? Jangan bilang pakai cinta atau sepiring berdua!"


"Kan biar hemat pengeluaran," ucapnya dengan santai.


"Jual saja itu boxer kebanggaanmu. Laku tidak itu buat beli telur sekilo? Beli boxer sampek berjuta-juta."


"Horang kaya," dia mengangkat kedua bahunya.


"Itu dulu, lah sekarang?"


"Ini boxer 100 juta juga bakal laku, dikasih bonus isinya. Haa, haa, haa."


"Idiih, siapa yang mau beli?" sindirku.


"Tante-tante sosialita tidak bakal nolak." Dia berjalan mendekatiku lagi. "Yang ada aku malah jadi rebutan. Aku kan pemain terbaik dengan servis terbaik pula. Sedikit sentuhan yang pasti bakal ketagihan, kamu saja sampai ketagihan gitu." Dia mencolek daguku. Ku mundurkan kepalaku. Kemudian dia berdiri.


Ku lempar bantal ke mukanya. Namun dia bisa menangkapnya. "Sekarang seleramu tante-tante ya?"


"Salah sendiri, tiap hari menyuruhku cari kerja terus. Di umurku segini mau kerja apa? Kalah sama yang muda-muda. Yang ada kerjaan terlihat hasilnya langsung cuma itu."


"Iya kamu kan sudah tuwir, sudah om-om. Tidak laku."


"Yang penting kan babyface."


"Iiiiiihhhh," Ku kernyitkan dahiku. "Cari kerja apalah gitu! Makanya jangan galak-galak jadi pimpinan. Dikutukan sama karyawan-karyawanmu. Yang pasti mereka bakal ketawakan nasibmu sekarang."


"Aku itu tidak galak sama mereka, parahan Kevin. Aku kan orangnya lembut. Pffffttt." Dia terlihat menahan tawanya.


"Sudahlah nanti aku usaha cari-cari kerja lagi!" tegasnya.


Dia mengambil dompetnya dan membukanya, "Nih ada seratus ribu, cukup tidak buat belanja?"


"Ya sudah, aku antar ke pasar ya! Lagi pengen makan ikan."


"Oke sayang."


Aku bergegas masuk kamar mandi. Dan membersihkan tubuhku. Ku gendong anakku. Naik ke dalam mobilnya. Kita berkeliling pasar dan hanya melihat-lihat karena uang yang ku bawa hanya seratus ribu.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, kami langsung masuk mobil lagi dan segera pulang.


"Ke pasar naik beemwe, cuma beli satu ikan," sindirku.


"Horang kaya bebas. Besok beli si lambo buat ke pasar juga beli sapasang cakar ayam. Satu buat aku dan satu buat kamu."


"Sepertinya kamu belum bisa terima kenyataan ya Rey. Pasti dulu kamu dimanja banget sama Papa Mama. Jadinya kayak gini."


"Ya tidak juga! Militer didikan Papa padaku. Makanya sekarang di usir dari perusahaannya."


"Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Papa tidak mungkin seperti itu. Masak iya anak satu-satunya di usir." Dia hanya membuang mukanya sambil menahan tawa.


Setiba dirumah, aku menidurkan anakku dan mulai memasak. "Mau aku bantu?" serunya.


"Boleh. Potong-potong sayurnya!"


"Oke."


Mataku membulat seketika melihat caranya memotong sayuran. "Eh, motong sayur kok begini. Kamu kira buat makan kambing." Dia mengkerutkan mukanya.


"Lalu bagaimana?" tanyanya kesal.


"Sudah Kamu goreng ikan saja sana! Tunggu sampai minyak panas baru di masukkan!"


Tak lama kemudian di leparlah ikan itu ke dalam wajan yang berisi minyak yang sudah mendidih.


Duuuuag duuuaag duuagg


"Astaga Reeey," teriakku. "Kenapa dilempar ikannya? Matikan kompornya! Buruan matikan!"


"Aku tidak berani. Aku butuh tameng," ucapnya dengan wajah kebingungan.


"Iiiiihhh, kamu kira mau perang pakai tameng segala. Itu apinya kebesaran. Kenapa tidak pakai api kecil."


"Ya mana aku tau?" teriaknya.


"Buruan matikan Rey!" Ku hentak-hentakan kakiku.


"Dibilang aku tidak berani. Siram air saja!"


"Haduh, yang ada minyaknya bakal meledak-ledak. Kamu pikir ini kebakaran."


Duuuuagg duuuuagg


Matanya membulat lagi, "Oh Tuhan ikan itu marah. Biarkan dia tenang dulu!" ucapnya.


"Ya keburu gosong Rey!"


"Biar kadar airnya hilang dulu, aku tidak berani." tegasnya.


Setengah jam kemudian, kami mulai sarapan di meja makan. Ku pegangi dahiku melihat hasil karya kami pagi ini.


"Ya sudah, nanti Papa belikan ikan yang sudah matang saja ya dek! Yang overcook ini biar Papa yang makan!"


"Uang darimana buat beli?" lirikku tajam.


"Gampang, nanti kamu jaga lilin ya!"


Aku tidak kuat menahan tawaku. Ku tutupi mulutku dengan kedua tanganku. Sesekali ku melihat dia makan ikan gosong itu dan memejamkan matanya.


"Tidak usah dipaksa untuk dimakan!" pintaku. "Ini makan telur sepiring lagi bersamaku."


Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku, tersenyum dengan senyuman termanisnya. "Buat kamu saja, sini aku suapin!" serunya.


Dia mengambil sendok dan menyuapiku. Dan ku ambil sendok untuk menyuapinya juga. Dan seperti itu terus sampai makanan yang bisa dimakan ini habis.


"Maafkan aku ya sayang!" ucapnya.


"Kenapa?"


"Terimakasih masih setia menemaniku sampai saat ini."


"Aku kabur lagi nih!" ancamku. Dia terkekeh mendengarnya.


"Tak perlu begitu lagi. Tempatmu disini wanitaku." Dia menunjuk-nunjuk hatinya. "Tetaplah disini pujaanku, cuuuup cuuuup." Dia mencium keningku. Aku hanya tersipu malu.