Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Siang kita


Rey POV


Raut wajah yang dia berikan padaku saat membahas wanita itu seolah-olah masih belum percaya jika aku tidak akan pernah tergoda olehnya. Aku memang belum kesana, tapi aku berjanji aku segera akan memecatnya.


Aku sebenarnya tidak tega mengajak istriku, dimana anak-anak masih kecil seperti ini. Tapi jika aku tidak mengajaknya, aku takut dia akan berpikiran buruk tentangku dan Andini.


Ku garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini sebelum menjawab pertanyaannya, "Dengarkan aku! Aku tidak akan membiarkan orang yang hampir membahayakan nyawa istri dan anakku bekerja di tempatku. Tenanglah!" ucapku dengan memegang kedua pipinya.


Dia seperti mengangguk tidak percaya dan membuang mukanya. "Aku takut kehilanganmu!" Ku helakan kasar napasku. Kenapa dia selalu bicara seperti itu? Harusnya aku yang takut kehilangannya, bukan malah dia.


"Kamu percaya padaku?" Dia mengangguk. Aku memeluknya erat. Ku pegang lagi kedua pipinya, ku miringkan kepala ku, ku cium bibirnya yang bagiku begitu menggoda pagi ini.


Kenyal, lembut, dan aroma strawberry begitu membuatku terlena. Aku juga menyesal dengan bodohnya melewatkan malam indahku bersamanya. Padahal aku sudah menunggu itu lama. Aku yakin dia kecewa atas itu semua. Rasa lelah dan kantuk yang tak bisa ku tahan lah penyebabnya.


"Setelah meeting aku akan segera pulang, dan kita akan melanjutkan ini. Kamu tunggu aku ya!"


"Nanti Papa marah, sudah kamu kerja saja! Nanti malam kan bisa," ucapnya dengan tangan yang sibuk membenahi rambutku.


"Tenang saja," Aku mencium tangannya. "Nanti kita makan siang bersama. Kamu mau dibawakan apa? Asal jangan martabak saja, pejualnya jahat," Ku manyunkan bibirku. Penjual martabak saat siang hari sangatlah jarang. Kalaupun ada itu pun agak jauh dari kantorku. Aku tidak mau membuang waktuku untuk itu. Semoga dia tidak memintanya.


Namun ku lihat dahinya mengkerut seperti memikirkan sesuatu. "Kenapa penjualnya?"


"Martabak enak dikacangin."


"Iiiiih," Dia mengernyitkan mukanya. "Aku nanti masak sendiri saja tidak usah beli!"


Aku mencium pipinya. Ini yang aku suka darinya. "Ya sudah aku berangkat dulu!"


Kinan POV


Siang ini dia bilang padaku akan segera pulang, bahkan aku tidak sabar untuk memasakkannya. Aku juga tersenyum membayangkan siang ini dia akan meneruskan ciuman padaku tadi. Do'aku semoga anak-anakku tidak rewel.


Waktu sudah menunjukan makan siang. Secepat mungkin aku menyiapkan semua masakanku di meja. Tak lupa pula aku melihat anak-anakku. Syukurlah mereka sedang tertidur pulas.


Aku berjalan menuju kamar dan merias wajahku, ku rapikan rambutku dan ku semprotkan parfum di daerah yang biasa dia suka untuk menciumku.


Tok tok tok


"Haaah, dia sudah pulang." Aku tidak sabar untuk membuka pintu kamarku.


Kleeek


Dia menatapku sambil tersenyum, "Cantik," ucapnya dengan tangan memegang buket bunga mawar merah yang cantik dan memberikannya padaku. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku dengan pujian dan bunga ini.


Aku menerima bunga pemberiannya lalu langsung memeluknya dan tersenyum malu di bahunya. Dia langsung menutup pintu kamar ini. Kedua tanganku sekarang melingkar di lehernya.


"Lama ya menungguku?" tanyanya. Ku geleng-gelengkan kepalaku. Rasa bahagiaku ini membuat rahangku mengatup dan tak bisa berkata-kata.


Tangannya menyelipkan anak rambutku di telinga kiriku kemudian memberikan sentuhan di leherku. Sungguh ini seperti tersengat rasanya.


Dia membuka jasnya dan melonggarkan dasinya. "Kamu balik ke kantor lagi tidak?" tanyaku sambil membantu membuka kancing kemejanya.


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku capek, tadi sudah bilang Papa. Ya sudah, ayo kita mandi?"


Deg


"Harus ya di kamar mandi?"


Dia mengerutkan dahinya, "Karena aku menyukai bermain air denganmu. Kamu masih ingat saat pertama kali kita bercinta?" Ku anggukan kepalaku. "Aku ingin mengulangnya. Bunga itu biar menjadi saksi indahnya siang kita."


Aku menunduk tak sanggup lagi menahan rasa malu ku. Dia menganggkat daguku dengan ujung jarinya dan menciumku.


Aku berjalan cepat ke kamar mandi dengan meremas-remas kerah bajuku. Jantungku rasanya berdegup kencang. Aku melihatnya mengikutiku dan menutup pintu kamar mandi.


Ku tabur kelopak bunga mawar cantik ini ke dalam bak mandi. "Aku mau kamu di atas!" serunya yang membuatku semakin malu. "Ayo cepat nanti keburu anak kita nangis!" Aku menuruti semua kemauannya.


Tak terasa hampir satu jam kita memadu kasih di dalam bak mandi ini. Aku tertawa kecil melihat rambutnya yang berantakan karena ku jambak-jambak tadi.


"Kenapa tertawa? Masih mau lagi?" Ku pukul pelan dadanya dan bersandar di dadanya.


"Aku kedinginan, sudah ya!" pintaku.


"Ya sudah, tapi cium dulu!" Dia mendekatkan bibirnya ke bibirku dan mulai menciumku.


Sudah cukup sampai disini kita menyudahinya. Dengan cepat ku keringkan rambutku. Perutku juga sudah sangat lapar. Aktivitas tadi benar-benar tak terasa menguras energiku.








Penampakannya besok.


Lah penampakan 🤣


Sebenarnya pernah aku post ya, tapi berhubung gulanya banyak banget aku post lagi. Semoga gak bosen ya! 🙈


Dukung terus Author,


Dengan like, coment dan votenya ya! 😘