Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Kamu dimana?


Aku tidak percaya jika Kinan meninggalkan rumahku kali ini. Ku naiki anak tanggaku dengan cepat. Ku buka pintu kamarku, terlihat jelas pintu lemari terbuka dan hanya tersisa sedikit baju-bajunya.


Pikiranku menjadi tidak tenang. Ku telepon nomornya berkali-kali tapi tidak aktif. Aku berlari keluar rumah, mengendarai mobilku secepat mungkin. Mama pasti tau semua ini. Semoga Kinan ada di rumah sakit.


Aku berlari di koridor rumah sakit ini. Ku cari-cari kamar perawatan Selena. Disana ada Mama dan juga keluarga Selena.


"Kenapa kamu kesini? Masih peduli sama Selena?" tanya Mama. Ku lirikan mataku ke arah Selena, ya dia memang terlihat sangat pucat ada saluran cairan infus yang menempel di tangan kanannya.


Aku tidak peduli keadaannya, "Ma dimana Kinan?" Aku sangat berharap Mama tau keberadaannya saat ini.


"Bukannya Kinan pulang ke rumah dari tadi siang?"


"Tapi Kinan tidak ada di rumah Ma, dan baju-bajunya juga tidak ada."


"Lalu kemana?" Ku pegangi dahiku. Aku langsung berlari keluar. Mama seperti memanggil-manggilku. Oh Maafkan Rey Ma, ini jauh lebih penting untuk hidup Rey.


Langsung terbesik di pikiranku, "Tante Ina." Pasti Kinan ada disana. Di dalam mobil ku remas-remas kendaliku. Aku harus tenang, Kinan pasti ada disana.


Aku banting pintu mobilku, ku berlari cepat ke rumah Els. "Om Rey!" teriak gadis kecil nan cantik itu.


"Sayang," Aku memeluknya dengan bola mata yang mengelilingi rumah ini. Mencari sosok wanita yang ku cintai.


"Tante Kinan disini kan?" tanyaku dan berharap Els menjawab iya.


Tiba-tiba datang Tante Ina, "Tante, Kinan disini kan?" raut wajahnya seperti binggung mendengar pertanyaanku.


"Tidak, memang kenapa?


Ku hembuskan napas keras untuk mengusir rasa frustrasi yang mulai menguasai kepalaku saat ini. Oh Tuhan dimana dia sekarang?


"Wina," iya dia pasti tau Kinan dimana. Aku harus segera kesana.


"Ya sudah Tante, Rey pergi dulu."


"Memang ada apa Rey?"


"Nanti Rey akan ceritakan! Rey pamit dulu!"


Aku langsung bergegas menuju mobilku. Sesampainya di toko kuenya, ku lihat Wina menatapku penuh rahasia di matanya. Dia pasti tau sesuatu.


"Win, Kinan dimana? Aku ingin bicara padanya?"


"A-ku tidak tau dia pergi kemana Rey."


Ku goncang-gancangkan bahunya. "Win, cuma kamu harapan satu-satunya. Aku mohon beritahu aku dimana Kinan!"


Ku lihat matanya berkaca-kaca, "Dia pergi bersama Pinky daritadi siang. Aku sudah berusaha tanya akan kemana. Tapi dia tidak menjawabnya Rey."


"Aaaaaarrrhkk." Aku mengusap wajah gusar, kepalaku ingin pecah rasanya. "Dimana aku harus mencarinya Win?" teriakku.


"Rey, aku tadi juga sudah menasehatinya dia selalu keras kepala. Lagi-lagi dia suka pergi seperti ini. Kebiasaan buruknya seperti susah untuk dihilangkan. Dia hanya menitipkan toko kuenya ini padaku."


"Tidak ada sedikit pun yang kamu sembunyikan padaku kan Win?" teriakku yang sepertinya membuatnya sedikit memundurkan badannya. Ku lihat wajahnya ketakutan memandangku. Oh sepertinya aku terlalu menekannya.


"Maaf Win! Aku terlalu frustrasi dengan masalah ini. Ya sudah jika ada info tentang Kinan, cepatlah menghubungiku!" Ku ambil dompet di saku celanaku. "Ini kartu namaku ada juga nomor teleponku, simpanlah!"


...****************...


Sudah tiga hari ini dia tidak ada di sampingku. Rumah bagaikan sepi tak berpenghuni. Kenapa dia tidak segera pulang? Sebegitu marahkah dia padaku?


Oh sayangku maafkan aku! Aku benar-benar menyesal mengabaikanmu. Aku mohon pulanglah! Akan ku perbaiki semua. Aku tidak bisa membayangkan kehidupanku ke depannya bagaimana jika tidak ada kamu di sampingku.


Selena, kamulah penyebab semuanya. Aku tidak akan tinggal diam dengan semua ini. Aku akan membuktikan pada dunia bahwa anak di kandunganmu bukanlah anakku.


Tok tok tok


Aku berharap itu Kinan yang pulang. Aku tidak sabar menyambutnya malam ini. Ku berjalan cepat membuka pintu rumahku untuknya.


Kleeek


"Selena,"


Ku pejamkan mataku, ku hembus kasar napasku. Oke, aku harus sabar menghadapi orang licik sepertinya.


Mama dan Papa mengantarnya ke rumahku. Terlihat wajah mereka yang sangat geram padaku. Aku tau pasti ini karena aku tidak peduli sekali dengan keadaan Selena.


"Bagaimana Kinan sudah pulang Rey?" tanya Mama.


Ku tundukan kepalaku, "Belum," jawabku singkat.


"Selena, sebelum Kinan pulang kamu tidak bisa tinggal berdua dengan Rey. Tante harap kamu mengerti ya!"


Ku lihat dahi Selena mengkerut, matanya memicing ke arah Mama. Sepertinya dia sedang tidak suka dengan ucapan Mama.


Aku berdehem, "Ma, jika Selena ingin tinggal disini Rey tidak keberatan kok." Ku lirik ke arah serena. Wajahnya berbinar seketika.


"Rey, laki-laki macam apa kamu itu? Mentang-mentang istri kamu tidak ada di rumah Selena kamu jadikan pelampiasan begitu?" teriak Papa. Kenapa Papa selalu saja menghinaku?


Ku hembuskan napas ini, "Tenang Pa, Rey tidur di atas kok. Selena tidur di kamar tamu. Iya kan Sel?" Ku berikan senyuman palsuku padanya. Begitu saja dia sudah memerah.


"Eeem, iya Om. Selena tidur terpisah dengan Rey. Anak di kandungan Selena tidak bisa jauh dari Rey. Nanti takutnya seperti kejadian sebelum-sebelumnya." Dia melirikku dengan senyum liciknya.


Ku palingkan muka ini darinya. Sungguh malas melihatnya. Jika ini bukan karena salah satu rencanaku. Akan ku buang Kamu dijalanan.


"Rey, awas kamu jika berani menyentuh Selena. Ingat kalian bukan suami istri!" Lagi-lagi Papa berteriak seperti telingaku tidak berfungsi saja.


"Baiklah kami pulang dulu, Selena jika kamu ada apa-apa cepat hubungi kami!" ucap Mama.


Terlihat Selena senyum tidak jelas. Sungguh besar kepala sekali wanita ini. Dan mereka pulang tinggal kami berdua.


"Terima kasih ya Rey! Sudah mengizinkan aku tinggal bersamamu." Ku berikan senyuman palsuku lagi padanya.


"Eeem, Kinan belum pulang juga? Jika kamu butuh sesuatu aku siap Rey!" Ku helakan lagi nafasku kasar. Oh Tuhan wanita ini benar-benar membuatku muak.


"Tentu," jawab singkatku. Mukanya memerah seperti kepiting rebus. "Eh Sel, usia kandunganmu berapa bulan?"


"13 Minggu Rey, kamu tumben perhatian sekali?"


"Memang tidak boleh tanya?"


"Bolehlah." Dia menatapku penuh nafsu. Ku buang muka ini darinya.


"Ya sudah tidurlah!" Ku berjalan menuju kamar dan meninggalkannya yang sepertinya terbang ke langit karena pertanyaanku tadi.


"13 Minggu, 13 Minggu. Baik saatnya berhitung dari sekarang dan akan berusaha ku ingat-ingat lagi."


Aku butuh bantuan untuk rencanaku ini. Ku ambil ponselku, ku telepon salah satu orang suruhanku. "Gerry, aku butuh bantuanmu! Besok pasang CCTV di seluruh rumahku! Jangan sampai ada ruangan yang terlewat dan intai setiap gerak gerik Selena! Aku akan membayarmu mahal! Jadi aku harap kamu segera cepat memberikan informasi berharga padaku!"


**Dukung terus Author,


Dengan like, coment, dan votenya** ^_^