Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Babang tamvan


Rey POV


Pagi ini aku bersiap untuk melamar pekerjaan. Ini pengalaman pertama ku selama hidupku. Demi apa? Yang pasti demi kebahagiaan wanitaku. Aku tidak ingin terlihat sebagai laki-laki tak berguna. Walaupun hartaku masih cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi kebahagiannya bukan disitu letaknya.


Wanitaku, dia selalu sibuk menyiapkan semua keperluaanku. Oh, aku sangat rindu pekerjaan ku dulu, karyawan-karyawanku pasti kalian sekarang bisa menghirup oksigen kuat-kuat tanpa adanya aku disana. Baiklah sekarang aku akan mencoba di posisi kalian.


"Semoga kamu diterima ya sayang!" Satu kalimat do'a dari wanitaku yang mampu membuatku bersemangat menjalani awal hariku.


Dia membenahi kerah baju ku, dan merapikan sedikit rambutku. "Semoga pemilik perusahaan yang kamu lamar ini tidak mempunyai sifat sepertimu."


"Ck, kamu meledekku terus!"


"Biasanya kamu pakai dasi dan jas, sekarang cukup pakai kemeja saja ya. Berkurang pekerjaanku." Dia tertawa menutupi mulutnya.


Ku pegangi pipinya, "Tidak pakai dasi dan jas yang penting masih tampan." Ku kerucutkan bibirku menggodanya.


"Iya babang tamvan," ucapnya.


Ku kibaskan rambutku, "Kanjen bend."


"Haaa, haa, haa." Tangannya sibuk memastikan semua kancing kemeja ku terkait. "Sayang kalau kamu diterima kerja disana pasti nanti temanmu cantik-cantik." Wajahnya mengkerut lalu memelukku.


"Harus berapa kali aku harus menjelaskan lagi?"


"Iya. Tapi aku takut mereka menggodamu."


"Yang penting kan aku tidak tergoda."


"Benar ya?"


"Ya sudah kalau tidak percaya, aku tidak usah kerja di kamar saja sama kamu." Dia memukul dada ku pelan.


Buuk buuuuk


"Ooooouuuuh, oooh," keluhku.


"Sekali lagi kamu mengeluh ah uh ah uh aku tidak mau bicara lagi padamu!" ancamnya dengan membuang muka.


"Ck, ya aku salah lagi."


Dia mengajak ku untuk sarapan. Tangannya sibuk mengambilkan aku nasi goreng yang harumnya meremas-remas lambungku sedari tadi ini. Kami sangat menikmati sarapan sederhana namun penuh cinta ini.


"Nanti paling cuma interview, aku akan pulang cepat. Kamu tidak apa-apa kan sendiri di rumah?"


"Heem,"


"Kalau kamu kesepian, main di rumah Sisca sana! Jangan dengarkan tetangga! Aku tau mana mata yang tulus mana yang tidak. Andre dan Sisca orang baik."


"Memang kamu bisa baca pikiran orang?" Ku anggukan kepalaku dengan mulut penuh menguyah nasi goreng buatannya. "Terus kenapa dulu kamu pacaran dengan Selena kalau tau dia orangnya jahat?"


Ku ambil air di gelas dan ku minum cepat, "Yaaah, bahas itu lagi." Ku usap gusar wajahku. "Aku pacaran dengan Selena kan karena kamu. Sudah jangan sebut namanya lagi!" Ku masukan lagi nasi ke mulutku.


"Nanti biar aku yang cuci. Kamu istirahat saja! Sudah ayo makan yang banyak!"


"Memang kamu bisa?"


"Kan yang nyuci mesin bukan aku." Dia tersenyum lebar.


Setelah selesai sarapan aku segera berangkat. Tak lupa aku mencium anakku. Dia mengantar ku sampai depan pintu. Dia mencium punggung tanganku. Kami berpelukan. Ku cium puncak kepalanya. Disanalah semangatku. Oh Tuhan izinkan aku menua bersamanya. Aku sungguh mencintainya.


Kinan POV


Pagi ini suamiku mencoba melamar pekerjaan di salah satu perusahaan di kota ini. Mungkin ini sangat lucu bagiku, membayangkannya menjadi karyawan. Aku tidak yakin dia akan bisa bertahan. Ah sudahlah dari pada dia di rumah kita selalu berdebat karena masalah sepele.


Aku mendengar tukang sayur lewat di depan rumahku. Semoga saja dia membawa pisang. Kemarin aku dan suamiku tidak sempat untuk membelinya karena anakku tiba-tiba menangis dan kami langsung pulang. Aku hanya ingin membuatkannya kolak pisang, entahlah kemarin dia hanya bercanda atau benar-benar ingin. Tapi tidak ada salahnya lah aku membuatkannya.


Ku berjalan sedikit cepat ke arah tukang sayur itu. Terlihat segerombolan ibu-ibu yang berbelanja juga. Ku pelankan jalanku, "Huuuuf," pasti lagi ghibah.


Ku berikan senyum pada mereka semua. Aku bahkan tidak berani menyapa mereka. Takut salah bicara. Menurutku muka mereka sangat di penuhi dengan emosi.


Tak selang beberapa lama aku melihat Sisca keluar dari halaman rumahnya juga. Akhirnya aku ada teman lah setidaknya. "Hai Kinan!" sapanya dengan riang.


"Hai Sis," Ku balas sapaannya. Terlihat ibu-ibu itu berbisik-bisik di telinga satu sama lain. Pasti mereka membicarakan Sisca. Ya Sisca memang sangat cantik tubuhnya indah sempurna siapa yang tidak iri padanya.


"Mau masak apa hari ini?" tanyanya padaku. Dia sibuk memilih sayuran, begitu juga aku. Aku ingin segera cepat pergi dari sini. Bisik-bisik ibu-ibu disini membuatku tidak nyaman.


"Suamiku minta kolak pisang. Cuma dimana ya pisangnya bang?" Aku kebingungan mencari tidak kunjung ketemu.


"Habis," jawab tukang sayur itu.


"Yaaaah," aku mendengus kesal.


"Kenapa tidak bilang? aku punya pisang banyak kemarin dibawakan ibuku. Mau aku ambilkan!"


"Ta-pi,"


"Tidak apa-apa dari pada busuk, aku dari kemarin tidak bisa menghabiskan sendiri." Sisca terlihat membayar belanjaannya dan menerima kembalian dari kelebihan uangnya.


"Ya sudah, tapi nanti saja aku akan ke rumahmu."


"Kita masak bareng gimana?" Dia sudah membawa satu kantong belanjaannya dan bersiap pulang.


"Boleh," jawabku. Aku melihat ibu-ibu itu semakin tajam menatap kami dengan mulut mengkerucut.


"Oke, nanti aku tunggu ya! Aku pulang dulu." Dia memegang bahuku. "Mari ibu-ibu saya duluan!" pamitnya yang sama sekali tidak di indahkan oleh mereka. Dia berjalan pulang menuju rumahnya. Dan sesekali melihat ke belakang ibu-ibu yang membicarakannya.


"Eh, mbak hati-hati sama Sisca nanti suamimu digodanya kayak suami kita." Aku berikan senyuman palsu pada mereka. Dan semakin mempercepat belanjaku.


"Si Sisca itu kayaknya punya jurus semar mesem." Mulutku ternganga mendengarnya. Keterlaluan sekali ibu-ibu ini. Benar kata Rey jika dia membeli mobil baru pasti di tuduh ngepet.


"Haah, masak?" sahut salah satu dari ibu-ibu itu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dan membayar belanjaanku lalu pergi begitu saja dari mereka.