
Ada kabar mengejutkan yang kali ini aku harus terima. Kamu akan segera menikahinya. Bagaimana bisa sekian lama kita tidak bertemu dengannya tiba-tiba kamu menikahinya?
Tuhan telah membuat skenario yang sedemikian rupa indahnya bagi kalian. Dia jodohmu bukan jodohku. Sungguh ini seperti tamparan keras bagiku.
Aku bisa membayangkan perasaanmu Vin. Pasti sangatlah bahagia. Tapi tau kah kamu dengan perasaanku Vin? Kamu pasti bisa membayangkannya kan sekarang setelah tau semuanya?
Kamu datang mengundangku di hari pernikahan kalian. Jantungku berdegup kencang melihat dia keluar dengan sangat cantik sebelum kalian mengucap janji sehidup semati dan kamu Vin, aku melihatmu menatapnya penuh dengan senyuman. Ya dia sekarang menjadi milikmu seutuhnya.
Aku menghampirimu, mengucapkan selamat padamu. "Akhirnya ya Vin kamu berhasil juga?" bisikku ditelingamu.
"Siapa dulu, kamu kapan menyusul? Asal jangan menikah dengan mak lampir Selena saja!"
Buuuuuuk
Aku memukul perutmu. Sebenarnya bukan karena ucapanmu Vin. Tapi karena perasaan terlarang yang sekarang bersarang di hatiku. Mungkin itu saja aku melampiaskan kekesalan ini dan aku akan selalu belajar untuk melupakan wanitamu. Walaupun itu sangatlah sulit bagiku.
Setelah pernikahanmu, aku berusaha menjauh dari kalian. Kali ini aku tidak akan menghubungimu. Aku tau kalian pasti akan menikmati menjadi pengantin baru yang sangat menyayat di hatiku.
Aku selalu duduk termenung, Tuhan kenapa engkau memberiku cinta yang terlarang ini? Kenapa cinta ini semakin kuat padanya? Apa maksud dari perasaan yang engkau pertahankan kuat dalam hatiku ini? Akankah engkau ingin menyiksaku dengan perasaan ini?
Berhari-hari sudah aku menjauh dari kalian. Tapi kali ini ada masalah penting di kantormu. Aku memberanikan diri untuk mendatangi rumahmu.
Ting tong
Ku pencet bel rumahmu. Lama sekali kamu membukakan pintu untukku.
Cekleeek
"Pengantin baru," teriakku saat itu padamu.
Entah kenapa ekspresi wajahmu sangat tidak mengenakan menyambutku. Kamu pegang dahimu. Kamu remas-remas tanganmu lalu kamu kepalkan dengan cepat kamu arahkan ke mukaku.
"Woi," teriakku. Tangan kananku menahan kepalan tanganmu yang akan mendarat di wajahku. Apa yang terjadi padamu? Apa kamu sudah mengetahui isi hatiku? Apa Selena membocorkan semuanya?
"Rey, kamu tau waktu tidak? Kamu datang membuyarkan semuanya," teriakmu padaku. Oke, aman setidaknya pertanyaan tidak jelas dipikiranku tidak terbukti.
"Yang tidak tau waktu itu aku apa kamu, ini masih sore woi!" teriakku ditelingamu. Saat itu aku akan menggodamu untuk mencairkan isi kepalaku.
Kamu menyuruhku masuk, dan aku masih terus menggodamu. Itu balasan kecemburuanku padamu Vin. Maafkan aku saat itu! Setidaknya kamu rasakan sedikit saja rasa sakit di hatiku. Berkali-kali kamu ingin rasanya memukulku. Aku tau kamu tidak bisa menahannya.
"Rey, ternyata kamu tamunya." Aku mendengar suara itu. Ku menolehkan wajahku ke arahnya. Dia sangat cantik hampir sempurna. Entah kenapa jantungku lagi-lagi tidak bisa berdegup seperti biasanya.
"Apa aku mengganggumu Kinan?" tanyaku yang seolah-olah menganggapmu tidak ada Vin. Maaf Vin aku benar-benar merindukannya. Dan ingin diperhatikannya sedikit saja.
"Tentu saja tidak," ucapnya. Aku tidak kuat menahan tawa melihat wajahmu yang sepertinya menahan amarah itu Vin.
"Aku masak makan malam dulu, kamu belum makan kan Rey?"
Deg
Pertanyaan sederhana yang menurutku bisa menghibur kecemburuanku selama ini. Sungguh dia sangat perhatian kan Vin?
Aku masih menahan tawaku saat melihat ekspresi wajahmu yang kesal dengan kedatanganku. Kita mulai makan malam bertiga.
"Oke aku kenyang, aku mau pamit pulang dulu." Aku tidak tega melihat wajahmu. Yang sepertinya ingin segera mengusirku.
"Kinan kamu pintar masak, aku akan sering-sering kesini untuk memakan masakanmu," godaku pada wanitamu. Dia tersenyum malu melihatku. Itu sudah cukup bagiku Vin. Cukup untuk mengobati rasa sakit ini.
...****************...
Keesokan harinya aku datang ke kantormu. Ku lihat Kinan berdiri di dekat meja resepsionis. Aku melihat wajahnya menunduk bersedih. Ku dekati dia pelan-pelan terdengar karyawanmu membicarakan kalian berdua dan menghina Kinan.
"Woi kalian bicara apa?" teriakku pada karyawanmu.
"Pak Rey ma-af," ucap sekretarismu yang sebenarnya seksi menggoda itu tapi entah kenapa kamu dari dulu sedikit pun tidak tertarik padanya.
Aku tidak bisa melihat dia bersedih Vin, kali ini aku benar ingin membungkam mulut mereka, "Akan ku laporkan pada Kevin agar dipecat satu persatu," ancamku pada mereka.
"Jangan Rey! aku tidak apa-apa." Dia memegang tanganku. Aku menatap ke arah tangan lalu ke wajah sendunya itu.
"Apa-apan ini?" teriak Selena dari arah pintu. "Dasar kamu ya wanita penggoda. Sudah punya Kevin masih mau menggoda Rey." Dia mendorong Kinan sampai jatuh ke lantai. Lagi-lagi dia membuat masalah. Aku sangat bosan melihatnya, dia selalu saja membuntutiku.
Aku melihat dia terjatuh di lantai, dengan cepat Aku menolongnya, "Kamu tidak apa-apa Kinan?"
Wanita itu langsung menarik tanganku dari Kinan. "Cukup Sel, aku dan Kinan tidak mempunyai hubungan apa-apa. Jangan pernah sekalipun Kamu sakiti dia!" Aku benar-benar kesal dengan tingkahnya.
"Ada apa ini?" teriakmu dari kejauhan yang mampu memecahkan semua ini.
...****************...
Sekitar tiga bulan telah berlalu. Lagi-lagi aku merindukan wanitamu. Perasaan apa ini, maafkan aku Vin! Aku hanya ingin melihat senyumnya. Ku datangi rumahmu.
Ting tong
"Rey kali ini kamu datang di waktu yang tepat," ucapmu dengan mata sangat berbinar.
"Memang ada apa?" tanyaku keheranan.
"Aku akan menjadi seorang Ayah Rey." Ucapanmu membuatku diam terpaku. Aku tidak tau kenapa hatiku terasa hancur sekali. Harusnya aku juga ikut senang dengan kabar gembira ini. Aku bagaikan orang terjahat di dunia ini.
Kamu memelukku saat itu. Mataku tidak bisa menampung air mata yang aku sendiri tidak tau air mata kesedihan atau kebahagiaan. Aku menepuk-nepuk punggungmu. "Kamu akan menjadi seorang Ayah?" tanyaku untuk mengusir rasa tidak jelas yang berada di hatiku ini. Aku meneteskan air mata ini dipunggungmu. Dan segera ku hapus agar kamu tidak mengetahui sandiwara ini semua.
"Rey, kamu harus segera menyusul. Akan menikah di usia berapa kamu? Asal jangan menikah dengan Selena saja. Aku tidak akan merestuimu." Dengan semudah itu kamu bicara Vin. Aku tidak mungkin bisa lepas begitu saja dari Selena.
Aku melihatmu sangat baik memperlakukannya. Kamu sering mengelus perutnya, mencium keningnya, menyatakan perasaan bahagiamu padanya. Tau kah Vin, aku ada disana. Kenapa tidak menungguku pulang dulu? Aku kali ini tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa memberikan senyuman palsuku pada kalian. Jahat sekali aku. Apakah kamu masih mengira aku sahabat baikmu Vin?
**Dukung terus Author,
Dengan like, coment, dan votenya**! ^_^