
Kinan POV
Kleeeeek
Ku buka pintu kamarku. Tepat jelas di depan mataku, dia yang dari tadi tidak sabar menungguku sedang terdiam dan menatapku tajam dengan senyuman sensualnya. Aku hanya bisa menunduk menyembunyikan senyuman malu ku ini.
Dia silipkan anak rambutku ke telinga kiriku dengan jari-jarinya. Dia bisikan satu kata itu di telingaku, "Cantik." Oh, tubuhku rasanya sangat ringan sekali dan ingin terbang bersamanya.
Ku meremas-remas tanganku untuk mengusir rasa tidak jelas ini. Namun dia langsung membopong tubuhku ke kamar mandi. Dia sandarkan tubuhku di dinding tembok itu. Dia buka satu persatu baju dan celena pendeknya. Aku hanya berdiri terdiam dan menutup mataku dengan kedua tanganku.
Dia terkekeh pelan. Ku buka sedikit sela-sela jariku, apa yang sedang di lakukan sekarang? Oh dia terdiam di depanku memandangi tubuhku yang dibalut dengan kain tipis berwarna hitam ini.
Dia sandarkan lengannya di tembok diatas kepalaku. Dan sepertinya dia akan mengunciku dengan tangannya.
Dia turunkan tangan yang ku gunakan untuk menutupi wajahku dengan tangan kirinya. Dia ambil tangan kananku untuk melingkarkan ke lehernya. Bibirnya mulai mendekat ke wajahku dan menciumi bibirku. Entah kenapa tangan kiriku ingin ikut melingkar mengikuti tangan kananku di lehernya.
Dia menurunkan tangan kanannya yang mengunciku sedari tadi, dan dia pegang pinggangku dengan kedua tangannya.
Terdengar suara decapan intim bibirnya yang terus mengecupi bibirku menggema di ruangan yang tidak seluas kamar mandi di rumahnya dulu ini.
Tangan itu seperti sudah tidak sabar lagi untuk melesat ke dalam sana. Meremas bergantian sesuatu yang tidak tertutup bra ini. "Uuuuh," Sedikit sakit, dia terlalu keras meremasnya. Ku busungkan dadaku, aku mulai kesulitan lagi untuk menghirup oksigen.
Bibirnya kini mulai menyusuri leherku. Mataku melebar saat tangannya memelintir puncak payudaraku, aku tidak bisa menahan rintihan dan desahanku begitu pun dengannya.
Tangan kirinya, dia gunakan untuk menyalakan shower. Suara dari air yang jatuh dari shower dan membasahi tubuh kami mampu memecah suara desahan kami saat ini.
Aku menjerit perlahan, lagi-lagi dia memasukan jarinya di bawah sana. Keluar masuk secara pelan namun tiba-tiba semakin meningkatkan ritmenya. Aku hanya bisa memejamkan mataku dan mengangkat kepala ke atas.
Namun tak lama kemudian ada yang membuatku kecewa saat dia tiba-tiba melepaskan jarinya sebelum menyelesaikan tugasnya. Aku seperti tersadar dari mimpi indah ini. "Kenapa?" tanyaku.
Dia hanya tersenyum, "Katakan padaku! Apa kamu menyukai sentuhanku?" Aku hanya mengangguk malu.
"Jawab! Jangan hanya menggangguk!"
"Iya,"
"Jangan menolaknya lagi ya! Kita saling membutuhkan!" bisiknya ditelingaku.
"Maafkan aku!" Aku memeluknya.
"Mau lagi?"
"Heem."
Dia memasukan jari kembali dengan tersenyum melihat ekspresi wajahku. Gerakan yang semakin cepat mampu membuatku menjerit dan mencakar punggungnya. Oh, semoga anakku tidak terbangun mendengarnya. Aku tidak bisa membayangkan jika di rumah ini ada orang lain. Pasti mereka tertawa mendengarnya. Rey, kamu memang terbaik untukku.
Dia kembali menciumi bibirku. Dan mengangkat sedikit kaki kiriku. Mencoba memasukan kejantanannya ke dalam sana.
Mataku melebar seketika, "Sayang berhenti! Kamu bohong padaku lagi." Ku pukul-pukul bahunya. "Aku lagi hamil, aku tidak bisa melakukan sambil berdiri."
"Bisa, percayalah padaku tidak akan terjadi apa-apa! Aku akan melakukannya pelan. Aku akan menahan tubuhmu. Rileks lah, jangan takut jatuh!"
Aku percaya padanya, ku pasrahkan semua dengannya. Tapi dia bisa melakukan itu semua.
Entah berapa kali dia menghentakkan, tubuh ku rasanya sudah lemas. Ingin rasanya aku terjatuh, tapi kamu selalu bisa menahanku.
"Bertahanlah sebentar lagi," bisiknya.
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Aku tau dia bisa memperlambat kenikmatan ini seperti yang dia lakukan dulu sebelum aku hamil. Tapi kali ini aku tidak sanggup.
Dan dia menumpahkan semua di bawah sana. Mengalir bersama guyuran air shower yang mengarah ke kami. Kaki ku lemas, aku hampir terjatuh.
Dia mematikan shower yang menemani indahnya pagi ini. Dan segera meraih handuk di dekatnya. Kami terduduk di bawah. Dia memelukku dan mengeringkan tubuhku dengan handuk itu.
"Sakit?"
"Heem"
"Perlu ke dokter? Aku tidak akan melakukannya lagi! Aku minta maaf sayang!" Wajahnya terlihat cemas dan mengelus-elus buah cinta kami.
"Istirahatlah! Katakan jika sakit!"
"Pinky?"
"Aku akan mengurusnya, pulihkan tenagamu! Mau aku buatkan susu hangat!" Aku hanya menggelengkan kepalaku.
Rey POV
Ku lihat dia sudah tertidur. Ku usap gusar wajahku yang tidak berguna ini. Ku jambak-jambak rambutku. Aaaaahk aku sudah menyiksa istri dan calon anakku.
Betapa maniaknya aku ini. Lagi-lagi aku tidak bisa menahannya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi apa-apa dengan mereka. Aku mondar mandir di samping istriku yang lemas tertidur.
Tiba-tiba terdengar tangisan Pinky. Aku berlari keluar kamar dan melihat ke kamarnya. Oh, dia sudah terbangun. Ku tenangkan dia dan ku gendong dia keluar rumah dengan sebotol susu. Semoga istriku tidak mendengar tangisannya.
"Rey," teriakan itu berasal dari luar halaman. Andre dan Sisca menghampiriku. Ku berikan senyumanku pada mereka.
"Lucunya, namanya siapa? uuuh kok nangis?" sapa Sisca.
"Pinky," jawab singkatku dengan tangan yang masih sibuk menenangkannya.
"Sini Tante gendong ya!" serunya.
Ku berikan Pinky padanya. Ku berharap dia lebih tenang tidak menangis lagi. Karena daritadi aku tidak bisa menenangkannya.
"Istrimu mana Rey?" tanya Andre. Aku gugup menjawabnya. Tidak mungkin aku jawab dia lemas karena melayaniku.
"Di-a sedang tidak enak badan. Kalian mau kemana?" Semoga pertanyaan ini bisa mengalihkan pertanyaan mereka tentang keadaan istriku.
"Kami dari rumah Pak RT."
"Oooh."
"Jika istrimu sakit, biar Pinky aku yang menjaganya Rey," ucap Sisca. Ku lihat Pinky sudah tenang di gendongnya.
Ku garuk-garukan kepalaku, "Aku takut merepotkan."
"Tidak, aku senang bisa menggendong bayi. Kami lama menginginkannya, tapi Tuhan belum mempercayakan itu pada kami."
Lalu aku mengizinkan Pinky di bawa Andre dan Sisca ke rumahnya. Dan aku coba untuk melihat keadaan istriku sekarang.
Hampir satu jam aku duduk di sampingnya. Ku usap lembut kepalanya. Ku ciumi buah hati kami di dalam perutnya.
Tak lama kemudian dia membuka matanya. Ku pegang tangannya. "Masih sakit?"
"Sedikit," Ku cium keningnya.
"Pinky belum bangun?"
"Sudah,"
Wajahnya mulai cemas, "Kenapa kamu tinggal sendiri?"
"Dia bersama Andre dan Sisca di rumahnya."
Matanya membulat, dia terbangun dari tidurnya. "Sisca instruktur senam itu?" teriaknya
"Iya,"
"Kenapa kamu membiarkan anakku di bawanya?"
"Sayang tadi Pinky menangis dan Sisca membantuku menenangkannya."