
Sesampai rumah, Kinan membantu Pinky melepaskan seragam sekolahnya. Kemudian dia kembali ke kamar melihat suaminya. Dia menutup pintu kamar dan berjalan mendekati suaminya yang tengah asyik menatapi layar ponsel di sofa itu.
Rey langsung menarik tangan Kinan, seolah-olah sengaja membuat istrinya terjatuh di dadanya.
Buuuuuk
"Iiiiiihh," Kinan memukul dadanya. Rey terkekeh, dia langsung membantu membuka kancing satu persatu di kemeja suaminya itu.
"Kamu semalam mau ngomong apa? Sampai aku lupa?" tanyanya.
Laki-laki itu menyelipkan anak rambut di telinga istrinya, "Aku juga lupa, gara-gara kamu ngegoda terus."
"Eh, aku gak pernah goda kamu ya!"
Rey terkekeh lagi mendengarnya, "Tadi Pinky nangis di sekolah gak mau aku tinggal. Jadi hari ini aku gak masuk. Semoga besok dia lebih bersemangat karena Aero juga ikut sekolah."
"Dia kurang sosialisasi mungkin ya? Gara-gara kita di rumah terus," ucap Kinan sambil melepas baju Rey kemudian meletakkan di sampingnya.
Rey berbisik di telinga Kinan, "Orangtuanya yang di kamar terus." Dia langsung menarik hidung suaminya.
"Oh iya nanti kalau belikan Aero mainan, jangan yang mahal-mahal lagi ya! Satu aja cukup. Aku gak ingin kamu borong lagi mainan seperti sebelumnya. Itu mainan kalau dibuat beli rumah cukup."
"Iya, tapi kalau dia nangis lagi gimana?"
Kinan memegang kedua pipi Rey, "Kalau nangis yang penting kita disampingnya aja. Nanti kalau capek berhenti sendiri." Rey menganggukan kepalanya. "Janji ya! Kalau kamu nekat manjain dia lagi jangan sentuh aku satu bulan!" Laki-laki itu melebarkan matanya.
Dia menghela napas, "Oke, tapi cium dulu!" Rey menepuk-nepuk pahanya dan menyandarkan kepalanya ke sofa. Tanpa berpikir panjang istrinya itu duduk diatasnya dan menghadapnya kemudian mencium bibirnya.
Namun tiba-tiba dia menghentikan ciuman itu. "Kamu habis merokok?" Dia memukul pelan dada suaminya. Aroma nikotin itu tak bisa membohongi indera penciuman istrinya walaupun sudah mencoba menghilangkan dengan permen mint sekalipun.
"Buat nemenin di dalam mobil nungguin Pinky sekolah. Cuma habis satu bungkus kok." Kinan mengerucutkan bibirnya. Rey tertawa melihat reaksi istrinya, "Gak, cuma dua batang aja beneran! Lanjut lagi dong!" bisiknya pelan di telinga Kinan dengan senyum sensualnya. Dia menyentuh telinga istrinya itu dengan bibirnya dan beberapa kali menghembuskan napas di sana. Wanita mana yang tidak menggeliat diperlakukan seperti itu.
Rey memegang pinggang istrinya, sedangkan bibir mereka sudah menyatu kembali. Jambakan lembut dari tangan Kinan di rambut Rey membuatnya semakin menggila untuk membalas ciuman bibir itu.
Cuuuup cuuup
Suara decapan itu sangat jelas ditelinga.
"Mama ... Papa ...."
Pintu kamar mereka tiba-tiba terbuka. Oh tidak, Kinan tadi lupa menguncinya. Anak-anak mereka masuk ke dalam dan berdiri terdiam melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk berpangkuan dan berhadapan.
"Mama, kenapa Papa dijambak rambutnya?" teriak Aero.
Deg
Mereka terlonjak kaget, Kinan langsung berdiri dari pangkuan suaminya, "Ma-ma gak jambak Papa kok. Mama sama Papa cuma lagi berpelukan karena saling mencintai, iya kan Pa?"
"Ha, ha iya bener." Rey memberikan tawa palsunya kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Jangan ditanya bagaimana wajah kedua orang tua yang kepergok anaknya ini, sudah pasti tegang luar biasa. Seperti orang pacaran di kamar yang digrebek oleh pemilik kos.
"Ya sudah ayo kita jalan-jalan sambil beli mainan ya!" Rey mengalihkan ketegangan ini.
Tak lama kemudian mereka keluar dari rumah, menuju mall terdekat dari rumah.
Wajah ceria nampak dari kedua anak itu. Mereka berlarian tidak sabar untuk membeli yang sedang inginkan.
"Kamu selalu lupa kunci pintu, tadi pagi Aero masuk kamar lihat aku masih telanjang dengan baju berakan di lantai, sekarang malah melihat kita ciuman. Bahaya lama-lama," ucap Rey dengan menekuk mukanya.
Mereka berdebat kusir dalam perjalanan, tak di sangka telah sampai di sebuah toko mainan, Kinan menemani Pinky dan Rey menemani Aero. Mereka berpencar, tak lama kemudian anak laki-lakinya merengek, "Papa aku ingin itu."
"Ambil satu ya!" tegasnya. Anak itu seperti tak menghiraukan ucapan Papanya. Setelah mengambil satu dia berlari mengambil mainan lain lagi.
"Aero kamu sudah milih mainan satu, jadi gak bisa ambil lagi."
"Huuuuaaa ... Papa aku pengen lagi."
"Sekarang kamu pilih, yang ini apa yang itu!" Rey menunjuk dua mainan Spiderman itu.
Anak itu semakin histeris menangis, "Aku mau dua." Kinan mendekati dan berusaha bicara pada anaknya itu. Namun bukannya di dengarkan, Aero semakin berteriak. Membuat orang-orang yang ada disitu berhenti terdiam melihat tingkahnya.
Ah siapa yang tak malu dan tak enak hati melihat anaknya mengganggu kenyaman orang lain disekitar. Dari wajah semua orang itu terlihat menganggap sinis ke Rey dan Kinan karena tak mampu menenangkan anak sendiri.
Namun disisi lain mereka tak mau menuruti keinginan Aero terus menerus. Terjebak situasi seperti ini memang menyebalkan. Namun hidup bukan untuk menyenangkan orang lain.
Semakin lama semakin parah karena anak itu sadar menjadi pusat perhatian, kali ini dia sedang menjatuhkan dirinya di lantai berguling-guling.
"Itu anak ditolongin dulu kek!" Salah satu pengunjung mall itu menunjuk-nunjuk ke arah mereka.
"Duh minta apa diturutin dong! Enggak kasihan apa sampai guling-guling di lantai gitu?" sahut pengunjung lain.
"Wah kejam nih orangtua,"
"Tau tuh perhitungan banget jadi orang tua ya."
Oh tidak rasanya kuping mereka panas mendengar ocehan para pengunjung. Mengatasi tantrum seperti mimpi buruk setiap orang tua, disini anak belajar mengendalikan diri agar mampu mengelola emosinya. Menuruti kemauannya tidak akan menyelesaikan masalah justru akan menjadi jurus andalannya. Dengan percaya diri mereka kompak masih membiarkan anaknya menangis.
Melihat suasana semakin panas yang Rey langsung menggendong paksa Aero mencari tempat tenang menjauh dari kerumunan orang-orang.
Mereka berdua terlihat tenang terdiam menunggu anaknya menangis. Pinky mencoba berbicara pada adik laki-lakinya itu, "Sudah nangisnya dek! Suara kamu nanti habis!" Aero berhenti sejenak menatap kakaknya dengan sesegukan.
Beberapa menit kemudian dia akhirnya lelah menangisi sesuatu yang sepertinya sia-sia untuk didapatkan. Rey langsung bangkit dari tempat duduknya dan mensejajarkan tubuh dengan anaknya.
"Sudah belum nangisnya? Kalau belum lanjut lagi, Papa tunggu sampai selesai. Atau Papa ikut guling-guling juga?"
Anak itu menggelengkan kepalanya, "Papa jahat."
Dia langsung memeluk anaknya.
"Ya sudah beli satu mainan atau kita pulang? Atau masih ingin nangis guling-guling lagi? Papa belikan tempat tidur lengkap dengan bantal gulingnya. Gimana jahat banget kan Papa?"
Aero langsung memukul dada Papanya dengan sedikit menahan tawa. "Aku lapar Pa!" rengeknya yang membuat tertawa mereka bertiga.
"Kalau begitu kita cari makan dulu baru beli mainan oke? Tos dulu dong!" Ayah dan anak itu menyatukan telapak tangan mereka sampai berbunyi.
❤
❤
❤
❤
Dukung terus author dengan like, coment dan votenya 😘