Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Siapa Om Kevin?


Kinan pun ikut menangis dan berusaha memeluk Pinky. "Orang tua Pinky itu ya Mama sama Papa." Anak itu tetap menggelengkan kepalanya dan menghindari mereka berdua.


"Tante ...." Terdengar teriakan Els dari arah pintu. Gadis yang kini sudah remaja itu mampu memecah sementara kesedihan yang mereka rasakan. Els berlari menaiki anak tangga itu menuju kamar Kinan. Wajahnya berubah datar melihat banyak air mata membasahi pipi ketiga orang yang kini di hadapannya.


"A-ada apa ini?"


Tiba-tiba Pinky langsung melempar pertanyaan pada gadis itu, "Kak Els ... kamu tau siapa orangtuaku sebenarnya?"


Els kesusahan menelan salivanya, matanya ikut berkaca-kaca mengingat Om kesayangannya itu. "Kak jawab!"


"Om ... Om Kevin 'kan?"


Pinky menyapu air mata di pipinya dan mencoba tegar. "Siapa Om Kevin?"


Deg


Kinan tertunduk menangis tersedu-sedu. Dia merasa sangat bersalah begitu juga dengan Rey. Mereka berdua sampai saat ini belum menceritakan pada Pinky siapa Kevin.


Rey memegang tangan kecil dan lembut itu. "Nanti Papa akan kasih tau siapa Om Kevin!"


"Aku mau tau sekarang!" teriaknya diiringi tangisan yang kencang.


Rey berusaha mengatur napasnya dan menghapus air matanya dengan lengannya. "Ya sudah, ayo ikut Papa! Papa gendong ya!" Dia membuka lebar kedua tangannya.


"Gak mau!, aku bisa jalan sendiri."


Deg


Jantung laki-laki itu seperti teremas. Dia berusaha tegar dan tetap tersenyum. "Ya," Dia mengangguk kemudian mengajak Kinan, Aero dan Els masuk ke dalam mobilnya.


Mobilnya sekarang mengarah ke makam Kevin. Ya Rey harus segera memberitahu pada Pinky siapa Ayah kandungnya. Sebenarnya ini sangat menyakitkan bagi laki-laki itu. Jantungnya terasa sakit, oksigen begitu sulit dihirupnya, otaknya seperti berputar-putar, matanya pun sangat pedih.


Bagaimana jika Pinky tau kalau dia penyebab Kevin meninggal? Bagaimana kalau Pinky membencinya?


Pertanyaan konyol itu selalu menghantui hidupnya selama ini. Sungguh tak sanggup Rey membayangkan semua itu jika terjadi. Di perjalanan mereka hanya terdiam. Sedangkan Rey, air mata itu tak pernah berhenti menetes dari matanya.


Sesampainya di makam, mobil itu terhenti. Pinky memandang ke arah luar dengan wajah lesu. "Kita mau kemana?" tanyanya lirih.


Mereka berlima berjalan pelan menuju makam Kevin. Mata Pinky membulat membaca batu nisan itu. Ya, di umurnya yang lima tahun dia bisa mengeja. "Ke-vin Arkananta," ucapnya.


Tangisnya pecah seketika, "Jadi Papaku sudah meninggal?"


Rey mensejajarkan tubuhnya dengan anak yang menangis histeris itu. "Jangan sedih! Ini juga Papa Pinky." Dia menunjuk-nunjuk dadanya.


Anak itu masih terus menangis dan mengeleng-gelengkan kepalanya. "Kenapa Papa ninggalin Pinky?"


Kinan mendekati anaknya dan memeluknya. "Dengerin Mama! Papa tidak sengaja terkena peluru dan nyawanya tidak bisa terselamatkan. Waktu itu Pinky masih diperut Mama. Papa Rey, dia temannya Papa Kevin. Papa Kevin berpesan sama Papa Rey untuk menjaga Pinky. Jadi Papa Rey itu juga Papanya Pinky. Pinky gak boleh membencinya. Papa Rey kan selalu sayang sama Pinky."


Anak itu terdiam menangis sesegukan menatap Mamanya kemudian dia menoleh ke arah Rey yang menangis tertunduk lemah. Dia langsung memeluk laki-laki itu. "Papa," ucapnya lirih.


Rey langsung membalas pelukannya, dia mencium puncak kepala Pinky berkali-kali. "Maafkan Papa! Ini semua salah Papa. Sampai kapan pun akan sayang sama Pinky."


Pinky menyapu air mata yang mengalir di pipi laki-laki yang selama ini menggantikan Papa kandungnya. "Pinky juga sayang Papa."


Dia memegang kedua tangan mungil itu, "Benarkah? Papa sangat bahagia mendengarnya." Anak itu mengangguk dan memeluknya kembali. Kinan pun ikut memeluk Pinky disusul Aero dan Els.



Oh Kevin sahabat terbaikku, aku yakin kamu melihat ini semua.


Hujan tangis dari hatiku kali ini memang sulit untuk ku redakan. Tapi, ini adalah tangis kebahagiaan. Aku bahagia bisa menjadi bagian dari mereka.


Terima kasih atas kesempatan hidup yang telah kamu korbankan.


Terima kasih atas kesempatan untuk bisa lebih mencintai wanitamu.


Tenanglah disana, aku akan selalu menjaga dan membahagiakan mereka sampai waktu yang benar-benar menghentikannya.


...TAMAT...



...Happy Ending...