Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Mama dorong sapi


Kinan POV


Hari ini mungkin hari bahagianya, karena salah satu keinginannya tercapai. Aku bisa membayangkan dia akan disambut oleh teman-temannya karena telah menjadi pemilik perusahaan yang hampir hancur itu. Entah kenapa dipikiranku dia membeli perusahaan itu hanya karena dendam. Entah kenapa juga kebahagiaan itu tidak ada dalam hatiku. Aku selalu teringat dengan wanita itu, aku sangat takut wanita itu menggodanya.


Di dalam mobil ini ku lihat dia sangatlah tampan. Dengan kemeja putih, jas, dasi, celana panjang dan sepatu berwarna hitam. Rambut yang tadi ku bantu untuk merapikan rasanya ada perasaan menyesal. Ingin sekali aku mengacak-ngacaknya. Ku coreti wajahnya dan ku tumpahkan minuman yang ku pegang ini ke jasnya.


Ku hembuskan kasar napasku. Oh jahat sekali aku. Kenapa bisa-bisanya berpikir buruk seperti ini?


"Kamu kenapa lihat-lihat? Naksir?" tanyanya seperti tanpa dosa.


"Aku cantik tidak hari ini?" Dia terkekeh mendengar ucapanku.


"Pertanyaan macam apa itu? Kamu sangat cantik hari ini. Aku selalu bangga padamu. Kamu itu model tercantik yang pernah aku temui."


Ku kerutkan dahiku, "Jangan mengingatkan itu lagi! Aku tidak suka." Ku kerucutkan mulutku. Dia malah tertawa puas dengan memegangi perutnya.


"Aku nanti harus apa?" tanyaku.


"Harus pidato!" jawabnya. Aku berdecak, dia masih saja menertawakanku. Sungguh ini tidak lucu. Ini adalah pengalaman pertamaku, aku benar-benar tidak tau harus bagaimana? Aku takut mempermalukannya karena tingkahku nanti.


Aku menatap matanya tajam, "Aku serius, bagaimana jika aku ditertawakan?" tegasku.


"Kamu cukup berada disampingku dan menggandeng tanganku. Sudahlah jangan takut! Ini perusahaan kita. Yang menertawakanmu akan berurusan denganku."


"Kalau mereka menertawakanku di belakang, bagaimana? Memang kamu tau?"


"Pasti tau, akan ku pinta bantuan Bandung Bondowoso, tenang saja!"


Ku kerutkan dahiku, "Iiiih, kenapa tidak ibunya Malin Kundang lagi?"


"Aku tidak enak, dulu kan sudah membantuku mengutuk ibu-ibu ghibah. Masak sekarang minta lagi!" Dia tertawa dengan membuang mukanya.


"Tidak lucu, garing."


"Krispi," teriaknya.


Setelah perjalan jauh akhirnya sampai juga. Dia mengambil kaca hitam dan memakainya. "Ayo, cuma sebentar kok!"


"Apa perlu pakai kaca mata itu?" Dia memanyunkan bibirnya dan mengangguk.


"Siang ini panas, silau."


"Kenapa tidak pakai kaca mata kuda saja?" tanyaku karena jengkel melihatnya. Pasti semua orang matanya tertuju padanya.


Dia masih saja tertawa. "Sudah ayo turun, orang-orang sudah menunggu kita daritadi!"


Pintu otomatis mobil MPVnya terbuka. Dia keluar dan menungguku di samping mobilnya. Tangannya mengandeng tanganku dan kita berjalan berdua di ikuti beberapa orang yang entah siapa aku juga tidak mengenalnya.


Sesampainya di depan pintu, orang-orang menyambut kami. Bola mata mereka seperti ingin keluar melihat suamiku. Aku sudah membayangkan ini.


Suamiku pernah cerita ada beberapa orang yang tau posisinya sekarang, tapi ada juga yang belum tau. Ya dia sudah bercerita pada Andre soal ini dan yang pasti Andre memberi tahu teman-teman lainnya.


Mataku tiba-tiba tertuju pada sosok wanita yang diujung sana. Mulutnya ternganga lebar, matanya melotot tajam. Siapa lagi jika bukan wanita itu? Aku yakin wanita itu belum tau suamiku siapa. Aku bahkan masih belum melupakan dia menghina kami miskin dulu.


Suamiku berjalan di ruang meeting dan wanita itu menghadangnya. Hei, kenapa berani sekali dia? Apa dia pura-pura tidak tau suamiku siapa?


"Rey-han ja-di ka-kamu yang ...." Dia seperti tak sanggup berkata-kata. Ku lihat matanya berbinar menatap suamiku. "Aku kira cuma kebetulan nama pemilik perusahaan baru ini mengingatkanku padamu, eh ternyata ini beneran kamu. Aku masih tidak percaya sumpah, Tuhan seperti mempertemukan kita berdua lagi," ucapnya dengan memegangi dadanya yang semoga saja jantungnya segera lepas.


"Sekarang kamu tau kan, kalau aku pemilik perusahaan ini?"


"Heem," Dia mengangguk dengan meremas-remas kedua tangannya.


"Aku harap kamu bisa lebih sopan terhadapku!"


"Bisa kamu lepaskan tanganmu dari lengan suamiku!" teriakku yang tidak kuat menahan ini semua. Wajahnya berubah datar, dia juga melepas cengkramannya perlahan.


"Kamu bisa menyuruhku melepas genggaman tangan ku padanya sekarang, tapi kamu tidak akan pernah bisa melepas cintaku padanya. Aku tidak peduli kamu siapa."


Mulutku ternganga mendengarnya, "Masih bisa bilang cinta kamu?"


"Memang aku mencintainya kenapa? Buktinya dari dulu sampai sekarang cintaku tidak pernah hilang. Asal kamu tau ya, aku tidak pernah gagal untuk mendapatkan cintaku."


"Kamu itu wanita, aku juga wanita makhluk paling perasa yang tercipta untuk alam semesta. Sebangga itu kamu menciptakan keberhasilanmu karena memikat banyak Tuan? Lalu menciptakan kemenangan padahal awal kehancuran. Kehancuran sosok hati yang menunggu dikala si Tuan pergi. Sebangga ìtukah kamu atas kemampuan godamu itu? Lalu apa bedanya kamu dengan para jalang?" teriakku.


"Hei, jangan sebut aku jalang! Aku tidak terima, aku selalu menggunakan perasaanku untuk mencintai laki-laki."


Aku tertawa geram mendengar ucapannya, "Kalau kamu tau rasanya sakit disebut jalang, mengapa masih bangga membuat hati lain tersayat?"


"Oh hatimu tersanyat sekarang? Aku bahkan hanya menyapa dan memberi senyum padanya. Terlalu terbawa perasaan sekali kamu," teriaknya. Dia memberikan setengah senyumnya kemudian membuang mukanya.


Ku tarik kasar lengannya, "Tidak bisakah kamu bedakan antara rayuan dan senyuman? Haruskah ku ejakan antara kamu sebut laku atau murahan?"


"Lepas!" teriaknya.


"Sudah sayang!" Rey berusaha melepas cengkraman tanganku padanya. Aku masih bingung jalan pikirannya.


"Kamu membelanya?"


Dia memegang kedua bahuku, "Tidak, ini banyak orang! Tahanlah emosimu!" Aku ternganga mendengarnya, bagaimana bisa aku menahan ini semua.


"Andini, keluar dari kantorku! Aku sudah mempunyai penggantimu."


"Haah, ti-dak." Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Rey, aku masih mencintaimu!" teriaknya.


"Jangan ganggu acaraku! Security bawa dia keluar!"


"Mama dorong sapi." Ada salah dua karyawan yang berkata seperti itu dan menertawakan dia.


"Apa?" Wanita itu seperti tak terima ditertawakan.


Suamiku menggandengku masuk ke dalam. Aku menoleh ke belakang, dia masih berteriak-teriak dan berusaha melepaskan tangan dua security yang menahannya seolah-olah tidak terima juga dengan keputusan suamiku. Semua orang yang ada disitu terdiam memandangi kami.


Sesampainya di dalam dia langsung memberi sambutan dan perkenalan. Sungguh aku bangga melihatnya, dia sangat berbeda dari yang ku kenal selama ini. Seperti ini kah dia setiap bekerja? Kalau aku sebagai bawahannya pasti juga akan menaksirnya. Sangat berwibawa, tegas, dan tidak ada kekonyolan yang seperti selama ini dia lakukan padaku.


Aku hanya bisa menahan tawaku, ya mungkin cuma aku di ruangan ini yang menahan tawa. Yang lain jangan ditanya, wajahnya mereka terlihat begitu tegang. Tiba-tiba matanya menyorotku tajam, oh bahkan aku tak berani melihatnya.







Jangan cari sapinya dimana karena


Mama dorong sapi \= Mam push cow


Aku tidak mau tulisan ku bertebaran bintang 🤭 atau lama banget review nya gara-gara kata itu 😷


Dukung terus Author,


Dengan like, coment, dan votenya!