Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Ghibah tetangga


"Aku sudah kenyang makan sepiring berdua dan makan rayuan cinta darimu." Dia terkekeh kecil. Kemudian menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya. Aku tau dia tertawa di sana. Tapi aku sangat bahagia. Hidup sederhana dengan penuh cinta. Melihat senyumnya, merasakan kasih sayangnya padaku dan anakku itu kebahagiaan yang tak ternilai harganya.


Dia mengangkat lagi kepalanya dan tersenyum padaku. "Ya sudah, habis ini kita cari makan diluar saja bagaimana? Atau kamu bosan di rumah mau jalan-jalan?" tanyanya dengan santai.


Ku angkat kedua alisku, "Apa kamu lupa, tadi kamu bilang uangmu tinggal seratus ribu?"


"A-ku, masih ada simpanan uang lagi kok tenang saja!" Aku masih bingung dengannya. Dalam benakku selalu bertanya-tanya sebenarnya dia masih punya uang atau tidak. Kenapa seperti ada yang disembunyikan dariku.


Tiba-tiba mataku mengarah ke kalender yang berada di dinding rumahku. Ini tanggal muda, Wina pasti sudah mengirim pendapatan toko kue bulan lalu. Mungkin nanti aku akan mengeceknya. Lumayan untuk belanja sambil menunggu Rey mendapat pekerjaan.


"Nanti anterin aku ambil uang ya Rey!" seruku.


Ku lihat dahinya mengkerut menatapku, "Tidak, uangmu biar menjadi uangmu. Kalau butuh sesuatu bilang sama aku! Kamu simpan saja uangmu!" tegasnya.


Kenapa dia selalu menolak uangku? Bahkan aku tidak pernah mempermasalahkan semua ini, "Ini bukan waktunya jaga gengsi!" sindirku.


"Tidak, kamu butuh berapa? Aku masih punya simpanan uang."


"Kamu bilang tadi cuma punya seratus ribu kan?"


"Aku masih punya yang lain. Lima ratus ribu cukup tidak buat belanja." Dia mengambil dompet di saku celananya. Dan memberikannya padaku.


Ku terima uang itu, "Lebih dari cukup kalau untuk makan siang." ucapku.


Dia berdiri dan memelukku dari belakang, "Ayo kita jalan-jalan." Bisiknya ditelingaku, mengenggelamkan wajahnya di lekuk leherku. Kenapa dia sangat manja sekali? Ku elus-elus rambutnya. Aku merasakan gairah cintanya muncul kembali. Oh tidak, aku sedang hamil. Aku tidak ingin menyiksa calon anakku dengan terus menerus bercinta dengan Rey.


"Kamu lihat mobilmu! Sangat kotor, aku malu Rey. Coba cucilah mobilmu dulu! Baru kita jalan-jalan." Ku arahkan mataku ke luar. Aku hanya ingin mengalihkan semua ini.


Dia berhenti menggodaku. "Kamu menyuruhku mencuci mobil?" Dia duduk kembali dan mengerutkan mukanya.


"Ya sudah terserah kamu."


Ku lihat ke arah luar ada penjual sayur yang lewat. Aku berdiri dan berjalan meninggalkan Rey. Mungkin aku akan membelajankan sebagian uang yang dia kasih ini disana. Jika pergi ke pasar lagi akan menguras waktu juga.


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


"Aku belanja di tukang sayur itu ya?" teriakku.


Terlihat sekumpulan ibu-ibu yang memilah milih sayuran. Aku tersenyum menyapa mereka, sebagai tetangga baru mungkin aku terlalu menutup diri tidak pernah keluar rumah dan mengenal mereka.


Mereka membalas senyumku. "Tetangga baru?" tanya salah satu dari mereka. Aku hanya mengganggukan kepalaku.


"Eh, ada gosip terbaru. Aku dengar semalam Mbak Sisca itu lagi berantem hebat sama suaminya." ucap salah satu dari mereka. Dengan tangan yang sibuk memilih-milih sayuran di depannya.


"Si instruktur senam itu? Ih, dia memang kayak centil banget. Lihat deh penampilannya! Sexy banget seperti ingin memperlihatkan lekuk tubuhnya ke setiap laki-laki."


"Hati-hati suaminya dijaga pandangannya, bisa-bisa suamimu digoda juga. Haaa, haa, haa."


Ku kerutkan dahiku mendengar pembicaraan dari mulut mereka. Topik pembicaraan yang semakin lama menurutku semakin tidak sehat. Ingin rasanya aku segera membayar dan pergi dari mereka tapi aku harus lebih dulu mengantri.


Ku lihat Rey keluar dari rumah dengan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendeknya. Sepertinya dia akan mencuci mobilnya. Ku lihat ibu-ibu di depanku memperhatikan suamiku. Ku pegang dahiku. Oh tidak kenapa dia harus bertelanjang dada? Pasti setelah ini aku yang akan jadi topik pembicaraan mereka.


"Itu suaminya mbak?" tanya salah satu dari mereka.


"I-iya," jawabku singkat.


"Ganteng juga ya!"


"Huuuss, ada istrinya!" bisik mereka.


Aku hanya memberikan senyuman palsuku pada mereka. Dan cepat-cepat membayar semua belanjaanku.


"Kerja dimana suaminya mbk?"


Deg


Ku pejamkan mataku. Ku tarik dalam napasku. "Masih mencari kerja Bu!" jawabku lirih.


"Jadi suaminya tidak bekerja mbak. Duh istri lagi hamil kok malah nganggur di rumah."


"Mending suamiku jelek tapi semangat kerja."


"Huuuuss diam." Mereka melirikku dan rasanya ingin ku congkel mata dan ku lakban mulut mereka.


Telingaku panas mendengarnya. Ku picingkan mataku melihat suara dari mulut-mulut mereka yang saling bersahutan. Ku tinggalkan pergi begitu saja masuk ke dalam halaman rumahku.


Suamiku melihatku dan memberikan senyumannya padaku. Namun rasa kesalku pada ibu-ibu tadi membuatku tidak ingin membalas senyuman itu. Aku berjalan cepat dan memasang wajah cemberut. Dia berusaha bertanya padaku kenapa? Namun aku tidak menghiraukannya.


Ku taruh satu kantong belanjaanku di atas meja dan ku berjalan ke kamar. Merenung dan menenangkan pikiranku dari ocehan mereka tadi.


Kleeek


Rey membuka pintu kamar. Aku masih membaringkan tubuhku dan menenggelamkan wajahku di atas bantal. "Kamu kenapa sayang? Aku kan sudah cuci mobil. Masih marah terus?"


Aku duduk menatapnya.


"Rey, kamu tutuplah badanmu! Ibu-ibu tadi membicarakanmu!"


"Kamu cemburu? Mereka mengagumiku?"


"Rey, mereka membicarakanmu. Bukan mengagumimu?" tegasku. "Mereka bilang kamu tidak lebih baik dari suami mereka. Mereka menghinamu karena kamu tidak bekerja." Aku menunduk dengan dadanya sedikit terasa sesak jika mengingatnya.


"Aku yang dighibahin kenapa kamu yang sedih?" godanya. "Tenanglah akan ku minta tolong Ibu Malin Kundang untuk mengutuk mereka."


"Iiiihhhh, Rey aku serius!"


Dia memelukku erat, "Sudah kamu jangan dengarkan mereka! Kita kan tidak minta makan ke mereka."


"Aku hanya tidak mau kamu dihina seperti itu Rey."


"Ya sudah aku akan segera cari pekerjaan, tenanglah!"


Tok tok tok tok


Terdengar ketukan pintu. Kami menyudahi pelukan ini dan berjalan keluar. Ku buka pintu itu.


Kleeek


"Permisi Bu! Apa benar ini rumah Pak Reyhan Winata?"


"I-iya benar."


"Kami mau mengantar AC ."


Mataku membulat seketika, ku pegang dahiku. Ku remas-remas tanganku. Bagaimana bisa Rey menghambur-hamburkan uang lagi untuk kebutuhan tidak penting ini.


"Siapa sayang?" dengan santainya dia bertanya.


"Kami mau mengantar pesanan AC nya Pak!" teriak salah satu orang itu.


"Oh iya. Pasang saja di kamar ini ya!"


Mereka masuk ke dalam kamar. Ku pasang muka cemberut pada suamiku. Ku tarik tangannya menjauh dari mereka.


"Kamu kenapa tidak tanya padaku jika membeli AC? Itu hanya menambah pengeluaran kita. Rey kamu bilang uangmu habis. Tapi nyatanya selalu ada saja uangmu. Aku tidak suka, jika kamu tidak jujur padaku!"


Ku lihat kegugupan di wajahnya. Dia menggigiti bibir bawahnya. Dan tidak berani menatapku, bahkan diam saja tanpa menjawab pertanyaanku. "Kamu tidak lagi menyembunyikan sesuatu kan Rey?" teriakku.


i love u pembaca setiaku 😘😘