
Rey POV
Sesampainya di rumah sakit. Aku berlari meminta pertolongan untuknya. Beruntunglah pelayanan di rumah sakit ini sangat baik. Tanpa menunggu waktu lama dokter dan bebebapa perawat sedang menanganinya di dalam.
Melihat dia tak berdaya sungguh seperti tersayat sembilu. Ku usap gusar wajahku, untuk menghilangkan rasa frustrasi yang terus bersarang di otakku ini. Aku seperti laki-laki tidak berguna. Aku bahkan tidak bisa melindunginya. Aku hanya menambah penderitaannya.
Aku hanya mondar mandir di depan pintu. Tak selang beberapa lama dokter keluar dan menyarankan untuk segera operasi caesar karena air ketuban yang merembes cukup banyak dan terjadi terus menerus. Ini sangat membahayakan nyawanya. Oh rasanya seperti tertimpa batu yang amat besar diriku sekarang.
Sebelum operasi itu berlangsung. Aku masuk ke dalam, ku lihat ada cairan infus yang mengalir di tangannya dan melihat wajahnya yang semakin pucat membuatku semakin terpuruk dengan keadaan ini. Aku sungguh takut kehilangannya.
Aku berjalan cepat mendekatinya, dia menggenggam erat tanganku. "Rey, aku takut. Jangan tinggalkan aku sendiri!" Air matanya tumpah seketika. Aku bahkan tidak bisa menahan air mataku.
Ku pegang kedua pipinya, "Hei, dengarkan aku sayang! Aku tidak akan meninggalkanmu."
Dia semakin menangis tersedu-sedu dan semakin erat menggenggam tanganku. "A-ku jan-ji, aku akan merawat tubuhku setelah melahirkan ini. A-ku akan diet, a-ku akan pergi ke salon, a-ku akan berdandan untukmu. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku!"
Deg
"A-ku tidak punya siapa-siapa selain ka-mu, a-ku takut!" Napasnya semakin terpenggal-penggal.
"Aku tidak akan meninggalkanmu! Kenapa kamu bicara seperti itu. Aku menerimamu apa adanya, jangan pernah berpikir buruk tentangku! Aku sangat mencintaimu."
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ku ciumi kening, mata dan pipinya berkali-kali. Ku sapu berkali air mata yang mengalir itu. Tapi kenapa seperti semakin tiada henti tangisannya.
"Jangan lagi bicara seperti itu, yang penting sekarang nyawa kalian. Buang jauh-jauh pikiran itu!" Dia mengalungkan kedua tangannya di leherku. Ku ciumi pipinya yang basah.
Tak lama kemudian. Dokter menyuruhku untuk keluar karena operasi akan dimulai. Aku berusaha ingin selalu disampingnya tapi mereka tidak mengizinkannya. Dokter berkata kehadiranku hanya membuatnya menangis. Kehadiranku pula hanya membuatnya semakin stres dan panik. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku seperti suami tidak berguna seperti ini?
Saat ini tubuhku terasa dingin, tanganku bergemetar, otakku rasanya ingin meledak. Tiba-tiba aku teringat Mama, ya aku harus menelepon Mama. Tapi aku tidak membawa ponsel. Ponselku sudah hancur, aku berlari meminjam telepon di resepsionis. Mereka dengan senang hati meminjamkannya padaku. Tangan ini ku paksakan walaupun sangat gemetar untuk memencet tombol-tombolnya.
Beberapa jam aku melawan ketidakberdayaanku akhirnya aku diizinkan untuk melihat anakku. Ya malaikat kecilku sudah lahir di dunia ini. Aku tidak sabar untuk menggendongnya.
Ini seperti keajaiban untukku. Aku melihatnya, dan aku diizinkan untuk menggendongnya. Lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mata ini. Jari-jarinya sangat mungil, matanya berkedip-kedip menatapku. Aku mencium pipinya, sungguh aku seperti laki-laki yang sempurna sekarang.
Aku berdo'a pada Tuhan, semoga kamu kelak menjadi anak laki-laki yang tetap berdiri kuat ditengah badai, selalu mengasihi mereka yang tidak berdaya. Yang bangga dan berjiwa besar dalam kekalahan, yang jujur dan rendah hati dalam kemenangan, tidak seperti Papa!
Aku janji akan sekuat tenagaku mengangkatmu tinggi-tinggi agar kamu bisa melihat dunia dari sudut pandang yang sangat luas.
"Lihatlah malaikat kecil kita! Dia tampan sepertiku kan?"
Dia terkekeh kecil, wajahnya masih sayu. Pasti ini tadi berat untukmu. Maafkan aku tidak bisa disampingmu. Padahal aku sudah berjanji padamu dulu. Lagi-lagi aku membohongimu.
"Apa kamu sangat bahagia?" tanyanya.
"Tentu, orangtua mana yang tidak bahagia bisa melihat anaknya."
"Pinky, apa kamu masih bisa terus menyayangi dan mengganggap dia malaikat kecilmu juga?"
Deg
Hatiku seperti ada yang meremas. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tentu aku menyayanginya."
Aku melihatnya menangis. "Aku takut kamu melupakannya karena kebahagian ini.
"Hei, aku tidak sejahat itu. Bagiku Pinky adalah malaikat kecilku juga. Sayang kenapa kamu berbicara seperti itu? Dia adalah penyatu cintaku padamu. Aku tidak akan melupakan itu." Dia memalingkan mukanya dariku.
Kenapa kamu masih meragukan cintaku lagi? Harus ku buktikan dengan cara apa agar kamu percaya? Maafkan aku yang selalu membohongimu. Tapi ketauilah satu aku tidak pernah bohong dengan besarnya rasa cintaku padamu. Jauh dilubuk hatiku hanya ada namamu dan ku ukir dalam disana.
-
❤
-
❤
-
❤
-