
Kinan POV
Membantu menghabiskan uang di atmnya. Satu kalimat yang membuatku memicingkan mata.
Sebenarnya aku sangat lelah sekali. Tapi kapan lagi menghabiskan waktu dengannya jika tidak sekarang. Dia memberhentikan mobilnya di salah satu supermarket terdekat dari rumah.
"Mau belanja?" tanyaku. Dia sibuk membukakan pintu mobilnya untukku.
"Kulkas kosong, stok makanan tidak ada, kenapa diam saja?"
"Kamu kan sibuk kerja."
"Beli online lah."
"Mahal."
"Wah menghina tuan muda." Aku tertawa. Sungguh ingin rasanya ku pukul bahunya. Kapan dia akan sadar?
Puas berbelanja kami langsung kembali ke rumah. Bisa bayangkan sembilan kantong kresek besar belanjaan kami hari ini.
Aku lelah, sungguh sangat lelah. "Coba kamu ukur berapa panjang struk belanja kita?"
Dia membuka gulungan struk belanjaan itu, "Halah ini panjangnya tak melebihi panjang perjuangan untuk mendapatkan cintamu." Aku terkekeh kecil.
"Aku ngantuk, tidur dulu ya!" Aku mengangguk dan dia berjalan menuju kamar.
Waktu sudah menunjukan pukul 16.05 WIB. Tapi dia belum bangun juga. Sebenarnya semalam dia tidur jam berapa? Aku mencoba membangunkannya dan menyuruhnya mandi.
Setelah mandi pun dia kembali berbaring di tempat tidur lagi, "Kok tidur lagi?" Aku berdengus kesal.
"Tubuhku dingin banget habis mandi, kepalaku pusing." Dia memejamkan matanya. Aku berjalan mendekatinya.
Ku pegang dahinya, "Panas banget, kita ke dokter ya?"
Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku cuma butuh istirahat."
Aku berjalan cepat mengambil kotak obat. Mengambil paracetamol disana. Aku juga sediakan baskom kecil berisi air hangat dan berusaha mengompres dahinya.
Aku melihat jam di dinding lagi. Waktu sudah menunjukan pukul 20.00 WIB. Tapi belum ada perkembangan juga.
"Apa yang kamu rasakan?" Ku elus-elus kepalanya.
"Badanku dingin." Aku memeluknya, dia tertidur di dadaku. Aku bisa merasakan betul panas tubuhnya.
...****************...
Saat pagi tiba aku bahkan masih merasakan panas di tubuhnya. Aku memutuskan tidak membangunkannya untuk bekerja, pergi ke rumah Andre untuk memberitahunya tidak bisa masuk kerja hari ini.
Tidak ada surat dari dokter atau apapun. Aku tidak peduli jika dia di keluarkan dari pekerjaannya.
Dia begitu manja sekali. Tidak mau makan, tidak mau minum hanya berbaring lemah di tempat tidur. Aku mengelus kepalanya, dia sedikit membuka matanya.
"Ini jam berapa?" tanyanya.
Ku lihat jam yang berada di dinding kamar kami. "Jam sepuluh."
"Ponselku mana? Tolong ambilkan!"
Aku mencari ponselnya laci meja. "Yaaah mati. Aku cas dulu ya?" Dia mengangguk. "Kita ke dokter ya? Kamu jangan diam terus seperti ini! Aku takut kamu kenapa-napa?" Wajahnya terlihat begitu pucat.
"Nanti juga sembuh sendiri. Pasti ini gara-gara jajan sembarangan kemarin."
Ku picingkan mataku, "Aku saja tidak sakit yang makan banyak. Mungkin kamu terlalu lelah bekerja."
Dia menenggelamkan wajahnya di bantal. Aku khawatir padanya dan berinisiatif menelepon Papa dan Mama. Saat itu juga mereka berkata akan segera kesini.
Perjalanan ke kota ini memang agak jauh. Tapi sore ini harusnya mereka sudah sampai. Aku mondar-mandir menunggu mereka. Tak lama kemudian Papa dan Mama datang. Ku buka pintu menyambut mereka. Ku cium tangan mereka.
Mata Mama membulat melihatku, "Kinan kamu hamil?" teriaknya. Aku ternganga mendengar pertanyaan itu. Apa Rey tidak memberitahu mereka tentang kehamilanku?
Belum aku menjawab Papa sudah menimpanya, "Ini rumah kalian?" Aku hanya mengangguk. "Dimana Rey?"
"Rey bangun!" teriak Papa padanya. Dia mulai membuka mata pelan-pelan. Mama duduk di sampingnya dan memegang dahinya.
"Kamu ini kebiasaan dari dulu kalau sakit pasti cuma diam saja. Kamu tidak kasian dengan istrimu. Satu lagi yang membuat Mama marah, kenapa kamu tidak cerita kalau Kinan hamil. Kamu tidak ingin kami mengetahuinya begitu?" ucap Mama dengan nada suara tinggi.
"Maaf Ma!" Cuma dua kata yang keluar dari mulutnya. Sungguh aku juga tidak mengerti jalan pikirannya. Kenapa dia tidak memberitahu kehamilanku?
"Rey, apa kamu kekurangan uang membeli rumah seperti ini?" Bola mata Papa berkeliling di seluruh sudut ruangan kamar kami.
Dia menenggelamkan wajahnya ke bantal, "Kinan yang beli Pa, bukan Rey."
Aku tidak tega Papa memarahi suamiku dalam posisi seperti ini, "Sudah Pa! Nanti Kinan jelaskan. Papa sama Mama mau minum apa biar Kinan buatkan?"
"Apa disini tidak ada asisten rumah tangga?"
Aku menggelengkan kepala, "Kamu itu suami macam apa Rey?" Papa berteriak lagi padanya.
Dia mengusap gusar wajahnya yang pucat, "Papa dan Mama kesini itu mau jenguk atau buat aku tambah sakit?"
Rey POV
Sudah dua hari ini aku seperti laki-laki tak berguna. Sejak kemarin sore Papa dan Mama tinggal disini. Kinan yang menelepon Mama Papa, ini malah membuatku seperti anak manja. Mereka kesini bukannya membuatku tambah sembuh tapi malah tambah sakit.
Bagaimana tidak, mereka menyalahkanku dengan keadaan keluarga kecilku. Kepalaku seperti ingin pecah rasanya.
Pagi ini dia masuk kamar membawakan ku semangkuk bubur. "Kamu makan ya?" Dia mengelus kepalaku. Aku sangat terbuai dengan sentuhan lembut tangan itu. Ku pegang tangannya dan ku ciumi punggung jarinya.
"Maafkan aku menyusahkanmu sayang!" Dia membantuku duduk. Ku elus-elus calon buah hati kami yang di perutnya. "Kamu pasti capek mengurusi semua sendiri?"
Dia menyuapkanku sesendok bubur. "Sudah, makan dulu!" Ku buka mulutku lebar-lebar.
Setelah beberapa suapan rasanya perutku penuh sekali. "Sudah ya? Nanti aku muntah." Dia mengangguk dan menaruh semangkuk bubur itu di atas meja. Ku pegang tangannya, "Peluk aku sayang! Aku lagi sakit ini. Kemarilah tidur disampingku!"
Dia menurutiku, aku tenggelamkan wajahku di dadanya. Ku hirup kuat aroma vanila di tubuhnya. Ku pegang perutnya, oh rasanya nyaman sekali.
Namun tak selang beberapa lama Papa dan Mama masuk kamar. Sontak membuatnya kaget, dia melepaskan begitu saja pelukan ini dan berdiri meninggalkanku.
"Papa sama Mama bisakan ketuk pintu dulu sebelum masuk!" teriakku kesal.
Mata Papa membulat mendengar ucapanku. Pasti aku akan dimarahi lagi, "Papa ingin marah sama kamu Rey!" Lah benar saja.
"Marahnya nanti kalau sudah sembuh!" Ku tutupi wajahku dengan selimut. Berusaha untuk tidur lagi. Sebenarnya sudah berkurang rasa sakitku. Aku sudah tidak merasakan dingin di badanku hanya sedikit pusing.
Tok tok tok
Siang ini terdengar suara ketukan pintu. Kinan berjalan cepat ke arah luar. Papa dan Mama mengikutinya dan meninggalkanku sendiri dikamar.
Aku tidak bisa mendengar siapa yang datang, ku ambil ponselku di meja dan ternyata banyak sekali panggilan tak terjawab dan pesan masuk. Salah satunya Andini, aku melihat ke arah pintu untung Kinan tidak mengecek ponselku. Aku tidak bisa membayangkan jika dia membaca pesan tidak penting dari wanita itu.
Ditengah aku menghapus semua pesan Andini tiba-tiba, "Rey," Aku terlonjak kaget menoleh ke arah teriakan itu. Yuda dan Adrian datang menjengukku dijam makan siang.
"Aku sudah sembuh kok, repot-repot jenguk kesini segala." Mereka berjalan mendekatiku. "Cuma berdua saja nih?"
"Tadi Andini maksa ikut, dia lagi di ruang tamu tuh bersama istri dan orangtuamu."
"APA?"
-
-
-
-
-
Like ❤