
"Papa ...." teriakan Aero itu seketika membangunkan Rey dari tidurnya. Pagi hari ini dia bangun lebih lambat dari anaknya. Aktivitas semalam dengan istrinya salah satu penyebabnya.
Dia mulai duduk dan mengucek matanya. Baju yang dilihatnya masih berserakan di lantai membuat anak itu bertanya-tanya, "Papa kenapa telanjang?"
Deg
Matanya membulat, otaknya seperti harus berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan itu. Dia menelan susah salivanya, "I-ni se-malam Papa kegerahan jadi Papa telanjang."
"Oouuuh," anak itu mengangguk. "Papa nanti jadikan belikan aku mainan baru!"
Dia mengelus kepala anak itu, "Iya, tapi ini yang terakhir ya! Lain kali kamu harus hati-hati! Kamu harus merawat mainan-mainan kesayanganmu!" Dia mengangguk dan berlari pergi meninggalkannya.
Secepat mungkin Rey masuk kamar mandi dan bersiap untuk bekerja serta mengantar anaknya masuk pertama kali ke sekolah.
Pagi ini Kinan disibukan dengan memandikan dua anaknya dan memasak sarapan untuk mereka. Sebelum Rey bangun dia sudah menyiapkan semua keperluan kerjanya.
Selesai semuanya mereka berkumpul di meja makan.
"Papa aku ingin sekolah kayak Kak Pinky," ucap anak laki-lakinya.
"Bener ingin sekolah?" Anak itu mengangguk dengan mengerucutkan mulutnya. "Baiklah nanti Papa daftarkan dulu di kelompok bermain."
"Hore ... hore." Aero menepuk-nepuk tangannya. "Papa nanti siang jangan lupa jemput aku buat beli mainan ya!" Rey menganggukan kepalanya.
Kinan melirik tajam suaminya. Mereka hanya terdiam dengan saling pandang. Lalu Rey mengernyitkan mukanya.
Selesai sarapan Rey mengantar Pinky ke sekolah. Tapi, sesampainya sekolah semua tak seperti yang diharapkan. Pinky yang awalnya semangat untuk bersekolah, menjadi diam dan tak mau masuk ke dalam sekolah itu.
"Papa aku takut. Aku ingin pulang!" Dia menarik-narik tangan Rey menuju mobil lagi.
Rey mensejajarkan tubuhnya dengan Pinky, dia mengelus kepala anak itu. Matanya terlihat berkaca-kaca. "Kenapa sayang? Ayo tidak apa-apa! Papa antar sampai depan kelas ya! Itu semua guru sudah menunggumu!"
Anak itu semakin tak mampu menampung air matanya. "Huuuuuaaa ... Papa jangan tinggalkan aku!"
"Papa kan mau kerja sayang, nanti siang Papa jemput ya. Kita jalan-jalan sama Mama dan Aero." Anak itu menggelengkan kepalanya.
Rey mencoba berpikir keras, dia menggaruk-garukan kepalanya. Tiba-tiba salah satu guru menghampiri mereka.
"Halo cantik? Siapa namanya?" tanya guru itu dengan mengelus kepala Pinky.
"Pi-pinky," jawabnya dengan sesegukan.
"Huuuaaa, Papa ...." Dia menoleh ke belakang. "Papa jangan pergi!"
Rey menghelakan napasnya. "Ya sudah hari ini Papa gak kerja, Papa tunggu di mobil sampai kamu pulang sekolah ya!"
Anak itu menggangguk dan berjalan pelan di gandeng gurunya masuk ke dalam kelas. Kepalanya masih menoleh ke belakang berharap Papanya tetap menunggunya sampai pulang sekolah.
Rey menunggunya di dalam mobil sampai selesai. Dia melihat kerumunan anak sudah memakai tas mereka dan berlari ke arah luar sekolah. Dia keluar dari mobilnya dan menghampiri Pinky yang berdiri terdiam di depan kelas.
"Sayang," Rey memeluk Pinky dan menggendongnya ke dalam mobil.
Sampai di dalam mobil dia berusaha bertanya pada anak yang menekuk mukanya itu. "Ada yang ingin kamu ceritakan pada Papa tadi di dalam kelas?"
Pinky menggelengkan kepalanya. "Baiklah, ada gak temen kamu yang sedih hari ini?" Dia menggelengkan kepalanya lagi.
"Cuma Pinky," jawabnya lirih. Rey mengelus kepalanya.
"Ya sudah jangan sedih lagi, ayo kita pulang! Mama dan Aero pasti sudah menunggu!" Anak itu tersenyum lebar.
❤
❤
❤
❤
❤
Aku seneng banget hari ini dapat notif dari NT kalau aku dapat cover eksklusif katanya performa novel ini luar biasa. Berasa bukan anak tiri lagi aku 🤣 Aku juga gak ngerti luar biasanya dari mana coba, secara like n coment makin nurun 🤣
Oh iya itu cover aku lihat-lihat belum begitu jelas gambar apa? Kok imajinasiku kayak gambar Rey tidur di pangkuan Kinan gitu bukan? Hiya 🤣🧠🔨
🗣 bukan Thor itu cuma markonah yang tidur dibantal 😏🔨
Makasih kakak-kakak semuanya yang masih setia ngikutin bang Rey!
Aku sayang kalian 🤗😘