
"Reehhhhhhh," desahnya. Laki-laki itu berhenti menciumnya dan sekarang mengulum telinganya, memberikan sedikit rangsangan disana. Sedikit dan hanya sebentar.
Dia langsung mulai memasukkan, menghentakan dan memperdalam penyatuan mereka. Semakin lama hentakan itu semakin liar dan cepat. Sakit, perih itu yang dirasakan. Bagaimana tidak, permainan itu sangat terburu-buru. Ibarat olahraga tanpa ada pemanasan semoga tidak ada cidera. Ya, semoga saja.
"Gak ada laki-laki yang boleh melirikmu!" bisiknya. Ancaman macam apa itu?
"Kam ...." Belum juga dijawab dia menutup mulut istrinya dengan salah satu tangannya. Wanita itu menggelengkan kepalanya berharap suaminya melepaskan namun karena suasana kamar yang gelap rasanya percuma. Dia tidak mengetahuinya.
Hentakan itu semakin cepat dari yang tadi dan kali ini dia sudah hampir mencapai batasnya. Membenamkan wajahnya ke leher istrinya. Menekannya kuat dan berharap benih itu akan cepat menjadi bakal calon anaknya. Biarlah dia berhalu ria sendiri, walaupun kemungkinan itu tidak terjadi.
Untunglah permainan yang hanya menguntungkan satu belah pihak ini tak membutuhkan waktu lama. Cukup, sudah cukup semua berakhir dengan cairan hangat yang mengalir di bawah sana. Dia melepasnya dengan senyum bahagia. Menunggu sepekan itu cukup lama baginya.
Dia masih merasa kesakitan, laki-laki itu terlalu kasar. Rey mencium pipinya yang basah. "Kamu kepanasan?" Dia mengelapnya. Hei itu bukan keringat tapi air mata! Nyalakan dulu lampunya!
Kliiik
Kinan langsung meraih selimut dan menutupi tubuhnya. Dia menenggelamkan wajah di bantal dengan menahan tangisnya.
Laki-laki itu mengelus bahunya, "Kamu belum keluar, mau aku bantu?" ucapnya pelan seraya menciumi bahu istrinya yang menangis itu. Sepertinya dia belum peka dengan apa yang terjadi.
"Kok diam aja!" Tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik itu. Baru lah dia sadar. "Lah kok nangis?" teriaknya keheranan.
Kinan semakin tak mampu menyembunyikan perasaannya. Ditutuplah wajahnya dengan telapak tangannya. Sesegukan itu semakin menambah perasaan Rey menjadi tak karuan. "Kok tambah keras?" Dia mencoba membuka telapak tangan yang menutupi wajah istrinya dan mencoba menghapus air mata itu.
"Kamu jahat, kasar. Kamu bukan Rey yang selama ini aku kenal."
Deg
Mata Rey membulat, dia sepertinya sedikit terketuk kepalanya jika permainannya terlalu kasar. Wanita itu langsung memunguti baju yang sebagian sobek karena ulah suaminya kemudian memakainya. Dia berlari ke kamar mandi sambil menghapus air mata yang terus mengalir.
Duduk dibawah guyuran air shower yang hangat dengan menunduk dan menekuk lutut seraya menangis pelan.
Rey mulai ketakutan, dia membuka pintu kamar mandi dan berlari mendekati istrinya. Dia gugup, mematikan shower itu dan memeluknya. Hatinya bergetar hebat.
"Maafkan aku! Aku mohon! Mana yang sakit?" Dia memeluk Kinan. "Berhenti dong nangisnya! Kamu ngomong dong! Jangan buat aku takut!"
Kinan mengangkat pelan kepalanya, "Selama pernikahan ini, kamu begitu manis dan lembut padaku. Ta-pi kali ini ...." Wanita itu tak mampu meneruskan ucapannya malah semakin keras menangis.
"Sayang ma-af ...." Laki-laki itu semakin gugup.
"Apa ini sifat aslimu?"
"Eh enggak, aku khilaf tadi!"
Kinan menghapus air matanya, "Apa kamu pikir aku akan selingkuh dengan laki-laki lain? Kenapa cemburumu itu berlebihan? Aku harus bagaimana? Kamu bilang dulu cintamu gak harus memilikiku, yang terpenting membuatku bahagia. Perasaan dulu kamu gak seperti ini saat aku bersama Kevin."
"Itu beda ceritanya, kalau Kevin aku percaya tapi tidak untuk laki-laki lain," teriaknya. Kemudian dia memeluknya lagi. "Sudah ya nangisnya! Maafkan aku!"
Kinan membuang mukanya, "Kamu janji gak akan seperti ini lagi!"
Rey mengangguk, "Janji."
"Awas!" Kinan menunjuk muka Rey dan laki-laki itu memundurkan kepalanya dengan kening berkerut. Kemudian menenangkan istrinya itu dengan memeluknya lama.
Satu menit, dua menit, tiga menit belum dilepas juga. Kinan mendorong dadanya. Namun laki-laki itu mencoba mencium bibirnya dan memberikan sentuhan di dekat telinga serta lehernya.
Dia sangat hafal titik itu berada dimana saja. Sedikit sentuhannya membuat wanita luluh. Memang dasarnya saja mantan pemain wanita.
"Aku akan membantumu," bisiknya pelan.
Kinan membuang lagi mukanya dan berusaha tak tergoda. "Gak perlu. Aku gak ingin ...."
"Yakin kamu menolak hem?" Ah, laki-laki itu terus saja merayunya. Suasana dongkol pun jadi hilang. Padahal kemarahan belum terlalu puas diluapkan. Rasanya masih kurang.