
Pagi ini aku benar-benar tidak bisa berbasa-basi dengannya. Rekaman CCTV yang ku lihat semalam semakin membuatku tidak betah melihat wanita itu di rumah ini.
Ku turuni cepat anak tangga di rumah, mata ini melirik sebentar ke arah wanita yang sedang sibuk mengunyah makanan itu. Ku hembuskan napas pelan-pelan untuk mengusir rasa geram ini agar dia tidak curiga.
"Makan lahap begitu morning sickness?" gumamku dalam hati.
"Kamu tidak sarapan Rey?" tanyanya.
Ku hentikan langkahku, "Aku harus buru-buru, oh iya nanti aku pulang malam."
"Oh, iya Rey." Mulutnya masih sibuk mengunyah sepotong roti di depannya.
Di kantor kepalaku rasanya seperti berputar-putar memikirkan Kinan. Aku benar-benar bisa mati jika dia pergi dariku untuk selamanya.
Ku selalu mencoba menelepon Wina tapi jawaban selalu masih sama, Kinan sama sekali belum menghubunginya. Ku telepon Tante Ina juga sama. Oh sayang, aku merindukanmu. Cepatlah pulang!
Ku hembuskan napas kasar. Ku sibukan dengan pekerjaan untuk mengusir semua rasa frustrasi ini yang selalu menghampiri. Tapi entah kenapa pekerjaan yang menumpuk membuat bertambah berat kepalaku.
Tiba-tiba aku teringat dengan Selena. "Jangan-jangan dia mencuri hartaku lagi!"
Ku lihat rekaman CCTV rumah saat ini. Sangat jelas dia hanya merebahkan tubuhnya dan memainkan ponselnya. Oh semoga dia tidak nekat seperti apa yang dilakukan kemarin.
Ku lanjutkan lagi pekerjaanku. Sesekali aku lihat ke arah rekaman itu. Kali ini Selena sedang berjalan dengan santainya keluar dari rumahku. Ku telepon Gerry untuk mengikutinya dan ternyata anak buahnya sudah bersiap sebelum aku memerintahnya. Sungguh aku sangat suka cara kerjanya.
Sore telah tiba, ku pandangi hujan rintik dari arah jendela ruang kerjaku. Dimana kamu hujan-hujan seperti ini sayang? Kenapa masih belum pulang juga? Bagiamana jika kalian kehujanan? Bagaimana jika kalian sakit? Aku tidak akan memaafkan diriku ini?
Tiba-tiba aku mengingat rumah, namun belum nampak Selena pulang di rumahku. Aku mencoba meneleponnya, tapi lagi-lagi dia berbohong padaku. Dia berkata ada di rumah. Apa kamu kira aku laki-laki bodoh?
Tok tok tok
Tiba-tiba ketukan pintu itu membangunkan lamunanku. Gerry datang dengan wajah tegang.
"Permisi Pak Rey," sapa Gerry dengan menundukan kepalanya.
"Ada kabar apa Ger?"
"Ini sangat penting Pak, saya mohon Bapak bersabar dengan bukti yang saya bawa ini."
Dahiku mengkerut, ku tatap tajam matanya, "Apa?"
Dia memberiku video rekaman Selena hari ini. Terlihat lagi laki-laki kemarin yang ditemuinya. "Laki-laki itu bernama Erix Pak. Saya sudah mempunyai data lengkapnya," ucapnya dengan muka datar.
"Besarkan volumenya!"
"Baik."
Selena : "Ini terakhir aku memberimu uang, aku sudah tidak punya uang lagi."
Erix : "Kamu mintalah sama calon tunanganmu itu!"
Selena : "Aku takut dia curiga, kemarin aku sudah meminta sepuluh juta. Semalam aku sudah mencuri perhiasan istrinya. Jadi cukup sampai disini ya Rix! Jangan ganggu aku! Aku mau hidup tenang."
Erix : "Aku tidak bisa sayang, aku butuh uang."
Selena : "Aku tidak peduli itu."
Erix : "Ya sudah aku akan bilang kepada laki-laki itu kalau anak yang berada di kandunganmu itu bukan anaknya tapi anakku. Haa, haa, haa,"
Selena : "Kenapa kamu selalu mengancamku seperti itu terus. Aku bisa saja menjebloskanmu ke penjara karena sudah menembak Kevin."
Erix : "Itu tidak sengaja. Kan sebenarnya aku mau menembak tunanganmu saat itu. Jadi salamkan saja maafku pada orang yang bernama Kevin itu. Lagian kamu punya bukti apa dengan kematian itu? Haa, haa, haa,"
Selena : "Dasar laki-laki licik."
Erix : "Hei sayang, harusnya kamu berterima kasih padaku telah membunuh orang bernama Kevin itu, setidaknya dia menutup mulut selamanya saat memergoki kita jalan berdua dulu."
Selena : "Tutup mulutmu juga, aku mau pulang!"
Aku mengusap gusar wajah ini, ku jambak keras rambut ini, "Aaaaaaaaarrrrhhk,"
"Urus laki-laki itu Ger! Aku akan mengurus wanita itu. Ku pastikan hari ini dia mati di tanganku." Ku berdiri dari kursi kerjaku dan berjalan meninggalkan ruang kerjaku.
"Maaf Pak Rey, lebih baik tahanlah emosi Anda!" Seruan Gerry membuat langkahku terhenti. Ku tatap mataku.
"Kamu tidak tau Ger, mereka berdua orang berharga dalam hidupku."
"Tapi jika Bapak membunuh wanita itu, masalah ini akan semakin rumit."
"Aku tidak peduli itu, jangan nasehati aku! Lakukan segera tugasmu! Setelah itu bantu cari istriku! Aku akan membayar berapapun yang kamu mau jika kamu berhasil menemukannya!"
Ku tinggalkan Gerry keluar. Aku benar-benar tidak sabar ingin membunuh wanita itu. Ku kendalikan mobilku secepat mungkin. Ku banting pintu mobilku dan mendobrak pintu kamarnya.
"Selenaaaaaa," teriakku menggema di seluruh sudut ruangan.
"Rey, kamu sudah pulang?"
Ku jambak paksa rambutnya, "Kamu sudah berani bermain api denganku Sel?" teriakku.
"Ah sakit Rey. A-pa, mak-sudmu Rey?" tubuhnya gemetar ketakutan.
"Kamu pembunuh Kevin," teriakku.
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ti-dak Rey," ucapnya gugup.
Ku lempar tubuhnya ke ranjang, dia menangis merintih kesakitan dengan memegangi perutnya. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku.
Ku ambil pisau di meja itu, ku sodorkan di perutnya. "Aku akan membunuhmu hari ini juga." Matanya melebar, rasa takut terukir jelas di wajahnya.
"Ja-ngan Rey! Aku bukan pembunuhnya. Aku tidak tau jika Erix nekat akan membunuhmu. Dia hanya cemburu padamu dulu."
"Aku tidak peduli, kamu harus membayar nyawa Kevin dengan nyawamu juga Sel!"
"Ampun Rey, aku akan menebus semua kesalahanku."
"Kamu sudah membuat sahabatku pergi dan wanitaku pergi!" Ku goncang-goncangkan tubuhnya.
Dia menangis sesegukan dengan memegangi perutnya, "A-ku minta maaf Rey!"
"Maafmu tidak akan membuat mereka kembali!" teriakku ditelinganya.
Dia bersujud di kakiku, "Kasianilah anakku Rey! Jangan bunuh aku sekarang! Aku akan membantumu mencari Kinan. Aku berjanji Rey."
Ku tarik lengannya ke atas, "Kamu kira aku percaya pada wanita sepertimu!"
"Sakit Rey,"
Ku lempar pisau itu jauh dari tanganku, "Pergi dari sini! Sebelum aku berubah pikiran untuk membunuhmu lagi. Jika tidak mengandung sudah mati detik ini juga kamu Sel!" teriakku.
Dia memberesi semua baju-bajunya dan pergi meninggalkan rumahku. Aku masih benar-benar terpuruk dengan masalahku ini. Aku sudah menemukan pelakunya Vin. Tapi aku tidak mampu menjaga wanitamu dan anakmu.
"Aaaaaaaaaarrrhhhk," Ku pukul-pukul tanganku ditembok.
Kenapa kamu tidak memberiku waktu untuk menyelesaikannya Kinan? Kenapa kamu menyerah dengan cinta kita begitu saja?
Menyuruhku berhenti mencintaimu, sama saja menyuruhku untuk mati. Aku tidak tau bagaimana kehidupanku ke depannya tanpamu.
Makasih masih setia membaca 😘😘**
**Dukung terus Author,
Dengan like, coment, dan votenya** ^_^