
Kehidupan kami setelah itu tak semanis kehidupan kami yang dulu. Rey lebih banyak berdiam diri. Selena, dia mengalami morning sickness yang sangat membuat orang disekitarnya khawatir. Keinginan apapun yang dia pinta harus dipenuhi. Termasuk tidak ingin jauh dari suamiku. Oh ujian apa lagi ini Tuhan?
Rey, dia selalu ditelepon oleh Papanya karena keadaan Selena. Tapi Rey sangat tidak peduli dengannya bahkan calon anaknya. Dia lebih memilih bersamaku dan anakku. Aku tidak tau harus bagaimana, Rey sangat marah jika aku menyuruhnya untuk memperhatikan Selena.
Tok tok tok tok
Ketukan pintu yang keras itu pasti Selena. Dia selalu tidak bisa menghubungi Rey karena Rey tidak mau mengangkatnya.
Ku buka pintu itu. "Haaaaah," Selena datang bersama Papa dan Mama . Ada apa ini?
"Kinan mana Rey?" tanya Papa padaku. Dari raut wajah Papa, aku sudah tau pasti suamiku akan dimarahi.
"Ada Pa, silahkan masuk!" Ku buka pintu ini lebar-lebar. Mereka masuk dan duduk di kursi tamu.
Rey datang tiba-tiba di belakangku, "Ada apalagi?" tanyanya dengan muka yang ditekuk.
"Kamu itu laki-laki apa Rey, Selena ini membutuhkan kamu. Bahkan dia di rumah sakit Kamu sama sekali tidak datang menjenguknya."
Ku lihat Rey hanya diam dan membuang mukanya. "Rey, kamu dengar Papa ngomong tidak?" teriak Papa.
"Rey tidak peduli dengannya Pa."
Selena langsung menangis tersedu-sedu. Sebagai sesama wanita aku bisa merasakan sakitnya. Bagaimana jika aku yang diposisinya? Rey, kamu terlalu kasar padanya. Aku tidak suka sikapanya kali ini.
"Om, Selena boleh tinggal di rumah ini kan? Anak dikandungan Selena selalu ingin dekat dengan ayahnya."
Pertanyaan itu langsung disahut oleh Rey, "Halah, lebay banget Kamu Sel. Tidak usah mengada-ada. Aku tidak mau kamu merusak kebahagian keluargaku," teriak Rey.
Aku tidak tega melihat nasib Selena, "Rey, izinkan Selena tinggal disini setidaknya sampai morning sickness berkurang!" Entah benar atau tidak ucapanku ini. Tapi pengalamanku hamil Pinky tanpa Kevin dulu seperti ikut merasakan betul apa yang dirasakan Selena sekarang.
Dahi Rey mengkerut seketika, "Kamu mengizinkan dia tinggal disini bersama kita?" Ku helakan nafasku.
"Dia itu pandai berpura-pura."
"Rey, dia lagi hamil. Aku tau betul bagaimana perasaannya."
Rey meninggalkan kami begitu saja. Sepertinya dia tidak terima dengan ideku. Papa yang masih geram terus memanggilnya, tapi Rey tidak mengindahkan semua itu.
Mama tiba-tiba memelukku, "Maaf ya Kinan, Mama tau ini sangat berat bagimu! Maafkan anak Mama!" Aku memeluknya balik. Sungguh aku merindukan sosok Ibu saat ini. Dan aku beruntung memiliki mertua sebaik ini. Mama dan Papa pamit pulang.
Selepas Papa dan Mama pulang. Ku antar Selena ke kamar tamu. Dia terlihat sangat bahagia, namun tidak bagi Rey. Aku mendengar Selena sedang menelepon seseorang untuk membawakan semua baju-bajunya ke rumah ini.
Kami makan malam bertiga. Rey sangat tidak memperdulikan Selena. Bahkan dia sering menggodaku di depan Selena. Kenapa dia jadi seperti ini? Terlihat jahat sekali kamu Rey. Tidak bisakah nanti di kamar saja?
"Sayang ayo habis ini masuk kamar! Kita bercinta disana, aku sudah tidak sabar."
Cuuuup cuuuuuuup
Dia berkata seperti itu dan menciumiku di depan Selena. Ku lihat raut wajah geram diwajah Selena.
Namun tiba-tiba Selena merengek, "Rey, aku ingin martabak!"
"Aku tidak peduli," ucap Rey dengan senyum palsunya.
"Rey ini keinginan anakmu!" Dia mengelus-elus perutnya.
"Aku tidak bisa memastikan kalau itu anakku. Kalau kamu ingin martabak. Beli saja online suruh ngantar kesini. Tidak usah lebay!"
"Ayo sayang Kita ke kamar!" Dia merangkul bahuku. Dan melirik ke arah Selena. Kita berdua meninggalkan Selena begitu saja di meja makan sendiri. Kakinya dihentak-hentakkan karena kesal dengan tingkah suamiku.
Dia mengunci pintu kamar dan duduk di ranjang disampingku. "Rey, kamu jangan terlalu kasar dengannya!" pintaku.
"Semakin kamu menyuruhku berbaik dengannya, semakin kasar aku dengannya," ancamnya.
"Rey, kenapa kamu jahat sekali. Dia lagi hamil kalau Aku yang hamil apa kamu akan perlakukanku seperti itu?"
"Gombal."
"Aku mencintaimu, bukan dia. Tolong jangan paksa aku untuk baik padanya!"
"Sudahlah, ayo kita teruskan rencana kita!" serunya.
Mataku membulat mendengarnya "Rencana apa?" Apa rencana mengerjai Selena?
Dia mengerutkan dahinya, "Tadi di bawah kamu lupa?"
"Aku kira kamu hanya memanas-manasi Selena saja."
"Iya itu salah satunya biar dia tidak betah, kamu kan yang membukakan pintu rumah ini untuknya. Sama saja kamu membiarkan mak lampir menghantui hari-hari kita." Aku tidak pernah melihat Rey semarah ini padaku.
"Kamu jahat Rey," ucapku tapi dia seperti tidak memperdulikannya. Dia tiba-tiba membuka bajunya.
"Ayo! Sudah beberapa hari ini Kita melupakan ini semua" pintanya.
Cuuuup cuuuuuup
Dia mulai menciumi bibirku, seperti tak membiarkanku bicara lebih banyak lagi. Menjatuhkanku ke atas ranjang. Tangannya mulai membuka satu persatu kancing bajuku.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu itu mengganggu malam Kami, "Rey," terdengar teriakan Selena dari arah luar kamar. Semua ini berhenti seketika mendengar suara itu.
"Sial," wajahnya mengkerut. Nafasnya terengah-engah. Dia memandangiku, "Sudah sayang biarkan saja! Kita lanjutkan lagi!"
Cuuuup
Dia menciumi bibirku lagi. Dan lidahnya mulai menerobos masuk dalam mulutku. Tangannya mulai bermain-main dengan payudaraku.
"Reeeeeyy."
Dia memejamkan matanya. Dan seperti menahan emosinya. "Rey, coba buka dulu! Mungkin dia perlu sesuatu," pintaku.
Dia duduk dan aku mengaitkan lagi kancing baju yang sudah terbuka. Kita berjalan membuka pintu kamar.
"Apa? Kamu tidak dengar tadi di bawah aku bicara apa? Aku mau bercinta dengan istriku."
"Remot AC dimana? Aku kedinginan di dalam kamar."
"Kamu bisa kan tanya salah satu asisten rumah tangga disini. Kenapa harus menggangguku?"
"Aku ingin kamu yang mencarinya."
"Halah, itu alasanmu saja!"
Dia berlari menangis turun ke bawah dengan memegangi perutnya. Akhirnya kami berdua membantunya mencari dimana hilangnya remot AC di kamar tamu.
Mencari kesana kemari, di mana-mana juga tidak ketemu remot itu. Bagaimana bisa hilang?
Tiba-tiba Selena bertanya, "Rey, boleh aku memelukmu? Sebentar saja agar aku bisa tidur nyenyak malam ini." Mulutku ternganga mendengarnya. Matanya seperti menggoda suamiku yang kini hanya bertelanjang dada dan memakai celana pendek.
"Jangan mimpi kamu!" bentaknya. "Ayo sayang kita lanjutkan lagi bercinta!" Dia menggandengku keluar kamar. Dan matanya melirik ke arah Selena.
"Tapi remot AC nya mana?" teriak Selena.
"Aku tidak peduli. Pulang sana ke rumahmu jika tidak betah disini!"
**Dukung terus Author,
Dengan like, coment, dan votenya** ^_^