
Semalam Kinan menolakku. Sungguh membuat pagi hariku tak bersemangat. Pagi ini ku duduk di teras dengan ditemani satu bungkus rokok. Ku ambil satu puntung rokok. Ku nyalakan korek dan ku hisap dalam-dalam asapnya. Entah aku belum bisa menghilangkan kebiasaan ini.
Kinan tiba-tiba datang mendekatiku dengan wajah yang di tekuk. Ku hisap rokokku kuat-kuat dan ku hembuskan asapnya menjauh.
"Kalau aku lagi merokok jangan mendekat!" ucapku dengan melirik tajam ke arahnya.
Tangannya tiba-tiba mengambil satu bungkus rokok yang ku taruh di meja dan membuangnya begitu saja.
Aku mengerutkan dahi dan berdiri menghadapnya, "Lah kok dibuang?"
"Kamu milih aku apa rokok itu?" teriaknya.
"Ya kamu,"
"Ya sudah mulai sekarang tidak usah merokok." Dia langsung pergi ke dalam rumah begitu saja. Entah kenapa dia akhir-akhir ini selalu tidak bisa mengendalikan emosinya, apa karena kehamilannya?
Aku berjalan keluar halaman melihat-lihat pemandangan di sekitar rumah dengan menghabiskan setengah rokokku yang masih menyala ini.
Suasana pagi disini memang indah, embun pagi yang segar membuatku bisa membuang sepuntung rokok yang ku jepit antara telunjuk dan jari tengah ini begitu saja.
Ku lihat kiri kanan, banyak orang yang berlalu lalang pergi bekerja dengan pakaian rapi. Entah kenapa ini merindukanku untuk ingin segera bekerja kembali. Tapi disisi lain rasanya masih belum puas aku berlama-lama menghabiskan waktuku untuk hidup bahagia disini bersamanya.
Aku bersyukur dengan semua nikmat yang aku rasakan. Aku bersyukur karena setiap bangun pagi aku bisa melihatnya. Dan bisa setiap saat memeluknya.
Ku pandangi mentari yang mulai menampakkan sinarnya di sana. Terima kasih Tuhan masih mengizinkanku untuk menikmati indahnya.
Tiba-tiba ada yang memanggilku dan membangunkan lamunanku, "Tetangga baru Mas?"
Ku menoleh ke arah suara itu. Terlihat laki-laki yang sepertinya seumuran denganku menyapaku dengan penuh senyuman. "Iya, aku baru disini." jawabku singkat.
Dia berjalan menghampiriku dan menjabat tanganku, "Kenalkan namaku Andre!"
"Aku Reyhan, panggil saja aku Rey!"
"Oke," dia tersenyum lebar. "Ayo mainlah ke rumahku!" tangannya menunjuk ke arah pintu rumahnya. Rumah yang satu type dengan rumahku tapi lebih terlihat sejuk dengan banyak tanaman di sana.
"Apa kamu tidak bekerja?" tanyaku.
"Oh hari ini aku masih ambil cuti, tadi malam baru sampai rumah setelah menjenguk Ibuku yang sedang sakit."
"Oh, iya."
"Ayo masuklah!" Kami berjalan ke rumahnya. "Aku tinggal disini sejak tujuh bulan yang lalu. Dan sampai sekarang aku masih kesusahan untuk bersosialisasi dengan orang-orang disekitar sini. Entah mereka yang terlalu menutup diri atau aku yang kurang bisa berinteraksi dengan mereka," ucapnya dengan menggangkat kedua bahunya.
"Duduklah! Aku senang bisa berkenalan denganmu, setidaknya aku mempunyai tetangga disini." Aku terkekeh mendengarnya.
"Kamu mau minum apa?" tanyanya.
"Tidak usah repot-repot,"
"Tidak apa-apa cuma air, nanti aku juga akan ke rumahmu minta air juga bolehkan?"
"Tentu saja,"
"Sayang!" teriaknya. Terdengar suara langkah kaki ke arah kami berdua duduk.
"Ada apa Mas?" seorang wanita menyapanya dengan sopan. Mungkin dia istrinya.
"Tolong buatkan minum tetangga baru kita!" Aku tersenyum pada wanita itu. Dan wanita itu membalas senyumanku.
Dia menjabat tanganku, "Kenalkan aku Sisca istri Mas Andre."
"Aku Rey,"
"Mau minum apa? Kopi atau teh?"
"Kopi boleh." jawabku singkat. Sebenarnya tadi Kinan sudah membuatkanku kopi di meja dan belum sempat aku minum.
Wanita itu berjalan masuk ke dalam rumahnya. Dan kami melanjutkan berbincang-bincang lagi. Andre menceritakan kehidupannya. Dia dan istrinya sudah dua tahun menikah tapi belum diberikan momongan.
Dia juga bercerita tentang pekerjaannya. Dia sekarang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan yang ada di kota ini. Dan istrinya sebagai instruktur senam.
Tidak banyak yang aku ceritakan tentang diriku, aku hanya berkata aku mempunyai bayi perempuan dan istri yang sedang mengandung anakku.
"Kamu bekerja dimana Rey?" tanyanya.
"Oh, aku sedang mencari pekerjaan sekarang!"
"Ngomong-ngomong dulu kamu kerja dimana? Di perusahaanku sedang membutuhkan manajer. Jika kamu berminat bisa melamar kesana."
Aku ternganga mendengarnya, sungguh ini diluar dugaanku. Mendapatkan pekerjaan sebagai manager. Oh tidak, bahkan dulu manajer diperusahaanku sering ku maki-maki. Apa benar kata Kinan, ini kutukan untukku.
Tiba-tiba istrinya datang membawa dua buah cangkir kopi untuk kami. "Silahkan diminum!" Dia tersenyum padaku.
"Terima kasih,"
Setelah puas berbincang-bincang. Aku memutuskan untuk pamit pulang. Kinan pasti sudah menungguku sarapan.
Namun tiba-tiba istrinya keluar lagi. "Mau pulang?" tanyanya.
"Iya,"
"Ini aku tadi buat pisang goreng banyak." Dia memberikanku satu piring pisang goreng.
Ku garuk-garuk kepalaku, "Waduh, aku jadi malu."
"Tidak apa-apa," ucap istrinya.
"Ya sudah terima kasih ya! Dre nanti akan segera ku hubungi."
"Oke santai saja."
Aku berjalan pergi meninggalkan rumah mereka. Dan ku lihat Kinan berdiri cemas pasti dia sedang mencariku. Akan ku kerjai kali ini.
"Rey, kamu darimana?"
Ku pasang wajah cemberut dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa menjawabnya. Dia menarik lenganku.
"Itu apa?" Dia melihat isi piring ini. "Pisang goreng? Aku kan bisa membuatkanmu Rey. Kenapa harus beli?"
"Aku tadi dikasih tetangga sebelah."
"Kamu mengenal mereka?" tanyanya. Aku hanya berdehem dan meninggalkannya. "Rey, kamu marah denganku?"
Aku meliriknya tajam, "Kenapa tadi kamu membuang rokokku?"
"Jadi hanya karena itu kamu marah Rey?"
"Ra Rey Ra Rey, Kinan coba kamu bisa tidak memanggilku seperti itu. Perasaan dulu kamu sama Kevin selalu memanggilnya sayang di depanku. Tapi kenapa kamu tidak mau memanggilku seperti itu?"
"Ya kan itu namamu?"
"Ya sopan tidak seperti itu? Umur kita terpaut enam tahun. Kalau kita masih anak-anak. Ibaratnya aku ini sudah kelas enam SD kamu masih TK. Aku sudah tau rasa nikmatnya mimpi basah, sedangkan kamu membersihkan ingus di hidung pasti belum bisa."
"Iiiihhh, terus aku harus memanggilmu apa? Aku dulu sama Kevin kan sudah bersepakat," jawabnya lirih.
"Terus sama aku tidak mau bersepakat gitu? Lihat tetangga sebelah tadi. Panggil suaminya saja 'Mas'? Lah kamu Ra Rey Ra Rey."
"Terus aku harus panggil kamu apa? 'Kak'?"
"Emangnya aku Kakakmu?"
"Terus apa?"
"Terserah." Aku berjalan menuju meja makan. Duduk disana dan mengambil satu pisang goreng lalu memakannya. "Enak, mereka tadi mesra banget, memang betul ya rumput tetangga itu lebih hijau."
"Iiiihhh iyalah hijau kan disiram setiap hari. Pasti burung mereka juga lebih berkicau," sindirnya.
"Iyalah berkicau, istrinya tidak nolak untuk diajak."
Dia mengerutkan dahinya, "Kamu menyindirku? Kan kata dokter tidak boleh sering-sering."
Ku buang mukaku, "Alasan."
"Iya sudah nanti malam aku tidak nolak," Dia berdiri dan memelukku yang sedang duduk ini dari belakang. "Maafkan aku Rey!"
"Ck," aku berdecak. "Rey lagi!"
"Kak," ucapnya dengan wajah polos. Aku hanya diam dan meliriknya. "Kak Rey," Dia mendekatkan pipinya ke pipiku. Aku tidak sanggup lagi menahan tawaku. Ku tarik hidungnya.
Dia menjauhkan wajahnya dan berteriak, "Sakit." Kemudian dia mendekatkan lagi pipinya ke pipiku. "Iya deh, sayangku," bisiknya ditelingaku. Tanpa berpikir panjang langsung ku cium pipinya.
"Tadi tetangga sebelah siapa?" tanyanya lirih.
"Namanya Andre, istrinya namanya Sisca."
Dia langsung berdiri dan melotot padaku, "Sisca? Instruktur senam itu?"
"Kamu mengenalnya?"
"Dia kan yang kata tetangga suka menggoda suami orang, terus selalu sering bertengkar dengan suaminya juga kan?"
"Huuus, kamu tidak boleh bicara seperti itu! Sekarang kamu ikut-ikutan berghibah ria ya? Mereka mesra dan baik-baik saja."
"Pokoknya aku tidak suka kamu kesana!"
"Kamu takut dia menggodaku begitu?" Dia hanya mengangguk. "Ya sudah aku kesana pakai masker saja atau pakai kantong kresek hitam?" Dia hanya terdiam dengan wajah cemberut.