
Rey POV
Semakin lama Andini semakin gencar terus menggodaku. Rasanya aku tidak betah lama-lama di kantor. Belum lagi Lutfi yang selalu mengawasi setiap gerakku saat di bekerja. Aku tau pasti dia disuruh Arka untuk memata-mataiku dan Andini.
Tidak ada cara lain selain segera pergi dari sini. Aku benar-benar tidak mau sampai Kinan tau tentang rahasia selama ini. Aku berniat untuk mengajaknya pulang. Tapi dua minggu lagi dokter memperkirakannya akan melahirkan. Bisa saja kelahiran anakku lebih cepat. Aku tidak mungkin pindah sekarang. Ya aku harus bertahan sampai anakku lahir dulu.
Selesai sarapan dengannya aku bergegas untuk berangkat ke kantor. Jika Arka lebih datang dulu pasti dia akan memaki-maki diriku seperti biasanya.
Aku berjalan cepat masuk meja kerjaku. Lagi-lagi aku bertemu Andin, dia tersenyum tidak jelas padaku. Aku tidak memperdulikan sikapnya benar-benar membuatku muak.
"Rey, tumben kamu membaca pesan dariku. Aku mempunyai kejutan untukmu. Kamu pasti menyukainya!"
Deg
Mataku membulat seketika mendengar ocehannya. Aku belum membuka ponselku kenapa dia berbicara seperti itu. Ponsel? Dimana ponselku? Aku meraba-raba saku celanaku. Hanya dompet yang aku bawa. Lalu ponselku dimana? Apa jangan-jangan tertinggal di kamar?
Pikiranku menjadi tidak tenang. Bagaimana jika Kinan membukanya? Ku gigiti bibir bawahku, ku garuk-garuk kepalaku.
Aku melihat Andini masih berdiri di dekat mejaku dengan memainkan ponselnya. "Apa kamu mengirim pesan ke nomorku lagi?" teriakku.
Dia mengangguk dengan tersenyum licik padaku, "Apa kamu tau ponselku tertinggal di rumah?"
"Tapi lihat! Kamu sudah membacanya."
Dia memperlihatkan ponselnya padaku. Ku lihat ada centang biru. Jantungku rasanya berdebar hebat. "Kamu tau itu berarti istriku yang membacanya!" teriakku menggema di seluruh ruangan ini. Mulutnya ternganga lebar sepertinya untuk dimasukan satu bola basket akan masuk kedalamnya.
Aku benar-benar geram dibuatnya. "Apa aku perlu mematahkan tanganmu agar kamu tidak selalu menggangguku!" Ku cengkram keras tangannya. Dia merintih kesakitan, bahkan semua orang disini ingin aku menyudahi penyiksaan ini.
Ku lepaskan cengkramanku. Dia masih meringis kesakitan sambil memegangi tangannya. Dengan cepat aku pergi dari tempat ini. "Rey, kamu mau kemana? Satu jam lagi kan ada meeting?" Yuda menghadangku.
"Aku tidak peduli Yud," tegasku.
Aku berlari menuju mobil, secepat mungkin ku lajukan mobilku. Bagaimana jika Kinan pergi dari rumah? Bagaimana jika dia meninggalkanku sendiri lagi? Bahkan sebentar lagi anakku akan lahir.
Sesampainya di rumah ku banting pintu mobilku. Ku lihat Pinky masih tertidur di kamarnya. Ada perasaan sedikit lega, setidaknya Kinan tidak pergi meninggalkanku. Ku buka pintu kamar perlahan-lahan.
Kleeeek
Aku melihatnya menangis dengan memegang ponselku. Ini pasti sangat menyakitkan baginya. Maafkan aku!
Dia memberikan ponsel itu padaku. Aku tidak bisa menahan diri untuk membantingnya. Gara-gara ponsel itu dia menangis.
Tok tok tok
Suara ketukan itu mampu membuat dia menghentikan tangisnya. Dia berjalan meninggalkanku dan membukanya. Aku mengikutinya dari belakang.
Di bukalah pintu itu, "Andin." Mataku membulat. Aku tidak terlalu mendengar Andin berbicara apa dengan Kinan. Aku mendekati mereka.
Andin tiba-tiba menarik tangan kiriku. "Jangan sentuh suamiku!" Kinan berteriak dengan bola mata yang seperti ingin keluar. Dia menarik tanganku berusaha melepaskan tangan Andin.
"Hei, aku cuma kasian padamu. Kalau Rey dipecat Pak Arka kamu mau makan apa?"
"Kamu pikir kita semiskin itu? Asal kamu tau suamiku punya perusahaan yang lebih besar dari tempat kerjamu."
"Haa, haaa, ngimpi," teriaknya dengan wajah dia dekatkan ke Kinan.
"Rey, nanti Pak Arka memecatmu!"
Kinan mendorong bahunya, "Heeeeh bilang saja kamu masih ingin suamiku kerja disana sehingga kamu bisa selalu menggodanya. Iya kan? Dasar wanita tidak tau malu kamu ya!"
"Kalau aku mencintai Rey, memang kamu mau apa? Lihat tubuhmu, lihat perutmu! Aku tidak yakin kamu bisa memuaskannya."
Kinan menjambak rambut Andin. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu!" teriaknya. Andin membalas dengan menjambak rambut Kinan. Aku berusaha melerai mereka dengan memegangi tubuh Kinan dari belakang.
"Sudah berhenti, sayang kamu lagi hamil! Tahanlah emosimu!"
"Wanita ini perlu diberi pelajaran!" teriaknya. Aku melihat di pintu gerbang tetangga berdatangan untuk melihat. Oh tidak ini harus segera ku hentikan.
"Andin kamu pergi dari sini!" teriakku.
"Ada apa ini?" Ku lihat Sisca datang menghampiri kami.
"Sisca tolong kamu pegang Andin!" Dia menahan tangan Andin yang mencoba terus menjambak Kinan. Tapi yang ada Sisca di dorong oleh Andin hingga jatuh tersungkur.
Andin mendorong Kinan ke belakang dan aku hanya bisa menangkap sebagian tubuhnya.
Deg
Dia terjatuh dengan memegangi perutnya. Merintih dan mengigiti bibir bawahnya. "Sayang kamu tidak apa?" Dia semakin menangis menjadi-jadi. "Andin jika terjadi apa-apa dengan istriku akan ku bunuh kamu!" teriakku.
Sisca membantuku menolong membantunya berdiri. "Rey ... sa-kit!" Dia mencengkram kuat tanganku.
"Rey, roknya basah. Sepertinya air ketubannya pecah."
Deg
Aku terpaku, rahangku mengatup, jantungku rasanya seperti terhenti saat ini juga. "Rey," teriak Sisca.
"A-ku ha-rus bagaimana Sis?"
"Cepat bawa ke rumah sakit!"
"Ping-ky, aku titip padamu dulu!"
"Iya, iya aku akan menjaganya! Cepat Rey!" teriaknya.
Aku membopongnya ke dalam mobil. Secepat mungkin mengemudikannya. Wajahnya berubah pucat. Ku bunyikan klakson ku berulang kali rasanya ingin ku singkirkan satu-satu semua kendaraan yang berada di depanku.
Gimana keadaan Kinan?
Nanti aku ketik lagi. Semoga bisa cepat!
Biasa sok repot, padahal repot beneran!🤥
Like/coment \= author seneng
Silent reader \= author binggung