Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Berhenti mencintaiku!


Rey POV


Rasanya ingin membawa Kinan dan Pinky pindah ke planet lain saja. Bagaimana bisa betah tinggal disini, jika ada Mak Lampir itu yang selalu menghantuiku.


Oh cobaan apalagi ini Tuhan? Bagaimana bisa wanita itu terus menerus menjerat leherku?


Dia menuntutku untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Bagaimana bisa itu terjadi? Dia bilang aku menghamilinya saat mabuk. Kapan dan dimana? Aku berusaha mengingatnya tapi masih belum jelas. Sebelum aku menikah dengan Kinan, dia memang sering mengikutiku pergi ke klub. Masak iya aku menyentuhnya disana?


"Aaaaaaarrhkk,"


Selama bertahun-tahun berpacaran. Pernah bermesraan dengannya dulu diawal pacaran tapi itu pun hanya pelarianku semata. Setelah itu aku sedikit pun tidak berniat untuk menyentuhnya dan sampai sekarang pun juga tidak bernafsu padanya. Walaupun dia telanjang menggodaku, diotakku hanya ada Kinan.


Konyolnya lagi dia sekarang tinggal bersama di rumah kami. Bagaimana jalan pikiran Kinan menyuruhku untuk menerimanya tinggal bersama? Mataku rasanya risih melihatnya, belum lagi rengekannya minta apapun yang dia mau harus terpenuhi.


Tidak sedikit pun aku tersentuh untuk kehamilannya. Aku ragu jika dia anakku. Tidak ada ikatan batin pun aku terhadapnya. Apa karena dia Ibu dari anak itu atau karena ingin Kinan yang hamil saat ini? Entahlah aku hanya ingin segera terlepas dari masalah ini.


Aku takut kehilangan Kinan, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Aku sungguh mencintainya bahkan lebih dari diriku sendiri. Aku tidak ingin menyakitinya bahkan menduakannya. Aku sangat berterimakasih padanya sampai saat ini, dia selalu memberiku semangat dalam menghadapi masalah ini.


Aku tidak bisa membayangkan sakit hatinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa setegar ini menghadapinya. Maafkan aku sayang! Akan segera ku kembalikan senyummu lagi! Aku berjanji itu!


Pagi ini dia menyiapkan semua keperluan kerjaku. Dia membantuku memakaikan dasi. Ini saat yang paling aku suka. Dia sangat terampil dan perhatian sekali padaku.


Aku melihat tanda kepemilikanku yang ku berikan semalam padanya di leher dan sekitar dadanya. Entah kenapa rasanya bangga sekali. Dan aku tertarik lagi untuk mengulangnya.


Ku hentikan tangannya yang sibuk memakaikan dasiku. "Ada apa?" tanyanya kebinggungan.


"Kita ulangi sebentar saja ya semalam!" pintaku.


Matanya melihat jam yang berada di dinding. "Ini sudah siang Rey."


"Tidak apa-apa, sebentar saja. Aku janji gak sampai lima belas menit beneran!"


"Ta-pi,"


Cuuuuup


Aku mencium bibirnya. Dia seperti menahanku. "Kalau lebih dari lima belas menit?" tanya yang semakin membuatku gemas.


"Aku akan melepasnya,"


"Janji,"


Ku anggukan kepalaku dan ku kejar wajahnya yang berusaha menghindar. Memang sudah gila aku ini. Di waktu mepet masih sempat berpikir seperti ini. Oh untung istriku mau menurutinya.


Ku lihat jam di dinding tiga belas menit akhirnya aku sudah puas dan segera memakai bajuku kembali.


"Terima kasih ya sayang!" Dia sedang sibuk menutup kancing bajunya dan menurunkan roknya yang telah ku buat berantakan tadi.


"Rey, kemejamu sedikit lusuh. Aku ambilkan kemeja yang lain ya!" Dia sangat perhatian sekali padaku.


"Uuuuuhh," dia merintih memegangi perut bagian bawahnya.


"Kenapa?" Dia hanya menggelengkan kepalanya. Pasti tadi aku terlalu kasar karena buru-buru. "Maaf sayang! Aku tidak usah kerja hari ini, kamu tidak apa-apakan?"


"Tidak apa-apa bentar lagi juga hilang."


"Pasti Kamu sering menahan sakit seperti ini karenaku, iya kan? Aku minta maaf ya! Lain kali aku akan lebih lembut padamu!"


Dia tersenyum tipis padaku, "Kamu sangat lembut padaku Rey, aku menyukainya. Sudah aku ambilkan kemejamu sebentar."


Dia membantuku mengaitkan satu persatu kemejaku. Ku pandangi wajah cantiknya dengan seksama. "Jangan tinggalkan aku sayang!" ucapan ini tiba-tiba keluar lagi dari mulutku.


"Siapa juga yang mau ninggalin kamu. Aneh banget kamu. Sudah selesai, ayo kita sarapan!"


Kami sarapan berdua di meja makan, "Dimana Selena?" tanyanya. Aku tidak suka mendengar nama itu. Ku taruh pisau dan garpu itu di piring lagi.


Hooooeeek hoooeeek


Terdengar suaranya yang sedang muntah-muntah. Matanya membulat seketika. "Coba aku lihat dia dulu Rey!"


Dahinya mengkerut, "Rey, kamu tidak kasihan padanya." Akhirnya ku lepaskan tangannya. Benar-benar merusak kebahagianku kedatangannya.


Ku putuskan untuk mengikuti istriku melihatnya. "Sel, kamu tidak apa-apa?" tanya istriku padanya.


"Kamarnya terlalu dingin semalam, aku belum ketemu remot AC nya." Ku garuk-garuk kepalaku, ada-ada saja alasannya.


"Badanmu dingin sekali Sel? Wajahmu juga pucat. Kita ke rumah sakit saja ya!" Kenapa Kinan tiba-tiba mempunyai perhatian lebih padanya?


Aku sudah muak melihat wanita itu, "Sayang aku berangkat kerja dulu ya!"


"Rey, bisakah kamu libur hari ini! Selena harus segera kita antar ke rumah sakit." Mulutku ternganga mendengarnya.


"Tidak, biar diantar sopir saja!"


"Rey, kamu tidak kasihan padanya! Dia mengandung anakmu," teriaknya.


"Aku tidak yakin itu anakku, sudah aku mau kerja."


"Rey, kenapa kamu sejahat itu!" Aku tidak mau mendengarnya. Aku benar-benar malas untuk dekat-dekat Mak Lampir itu.


Ku kendalikan mobilku secepat mungkin menuju kantor. Maafkan aku sayang.


Di kantor ponselku selalu berdering, Mama meneleponku berkali-kali. Ini pasti tentang Selena lagi. Aku malas untuk mengangkatnya.


Tak selang beberapa lama, Kinan meneleponku. Ku pegang dahiku. Aku tidak pernah bisa mengabaikannya. Dan aku mengangkat telepon darinya.


"Rey cepat ke rumah sakit." Ku dengar suara Mama disana. Ku jauhkan ponselku dari telingaku.


"Rey, tidak bisa banyak kerjaan hari ini Ma." Ku tutup langsung telepon itu. Berarti sekarang Kinan sedang bersama Mama.


Tak selang beberapa lama lagi-lagi Kinan meneleponku, "Rey, cepat ke rumah sakit!" pintanya.


"Aku sibuk sayang. Aku tutup ya teleponnya. Aku mencintaimu. Muuaaah."


"Kamu tidak punya perasaan Rey, lupakan cintamu padaku!" teriaknya.


Deg


"Aku tidak bisa."


"Kalau cintamu padaku telah membutakan semuanya dan membuatmu menjadi membangkang orang tuamu juga lebih baik aku pergi dari kehidupanmu!"


"Apa maksudmu Kinan?" Ku dengar dia menangis.


"Ke rumah sakit lihat Selena atau tetap disitu?" Aku benci sekali mendengar nama itu.


"Selena hanya pura-pura sayang."


"Cintamu benar-benar membuatmu seperti orang yang tidak punya hati Rey. Berhenti mencintaiku mulai sekarang!"


Tut tut tut


Pikiranku kacau saat ini. Apa maksud omongan Kinan? Ah aku lupakan itu dan ku lanjutkan dengan pekerjaan yang sudah menungguku di depan mata.


Tak terasa waktu sudah sore. Mungkin aku akan pulang sekarang, Aku terlalu resah memikirkan omongan Kinan. Mungkin aku akan meminta maaf nanti dirumah. Dia pasti akan memaafkanku.


Ku lajukan mobilku dengan cepat. Sesampainya di rumah, ku ketuk-ketuk pintu. Salah satu asisten rumah tanggaku yang membukakannya untukku.


"Sayaaaaang, aku pulang!" teriakku yang menggema di seluruh ruangan.


"Maaf Tuan, Nyonya daritadi siang pergi membawa koper belum pulang sampai sekarang."


Deg


**Dukung terus Author,


Dengan like, coment, dan votenya** ^_^