
"Sayang, percayalah aku tidak akan tergoda dengan wanita manapun." Aku tidak mengerti kenapa dia terlalu bertingkah berlebihan seperti ini. Tapi aku suka itu tanda dia sangat mencintaiku. Hatiku rasanya ingin tertawa puas.
"Aku takut," ucapnya dengan meremas-remas tangannya. "Aku tidak mau kejadian seperti Selena dulu terulang lagi. Sakit tau. Aku kan sekarang gendut, perutku buncit. Bisa saja kamu melirik wanita lain."
Ku duduk bersujud di bawahnya yang sedang duduk di kursi, menciumi tangannya dan ku tatap matanya. "Kamu ingat saat kita pertama bertemu?" Dia hanya menggangguk. "Saat itu setiap aku bertemu kamu rasanya tenang sekali hatiku. Aku sangat menyayangimu tapi aku bisa apa? Hanya bisa mengerti hatimu sudah menjadi milik sahabatku. Kamu tau sakitnya seperti apa?"
Dia menganggukan kepalanya, "Maafkan aku dan Kevin!" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian tidak salah, aku yang salah. Jadi percayalah padaku! Aku tau rasa sakitnya." Ku ambil tangannya, ku letakkan di dadaku. "Tempatmu disini. Aku tidak akan mungkin menggantikan dengan wanita manapun." Ku miringkan kepalaku untuk mengejar wajahnya yang menunduk malu. Hei, aku melihat senyum meronanya.
Ku arahkan tanganku sampai kedagunya, dan ku angkat dagunya agar matanya menatapku. Lagi-lagi dia menggigiti bibir bawahnya. Ku tarik napasku dalam-dalam. Oh, aku tidak kuat menahan ini semua. Langsung ku cium bibirnya mungkin ini terlalu rakus. Sampai membuatnya susah bernapas dan menepuk-nepuk dadaku.
Setelah beberapa menit kemudian, ku lepaskan ciumanku, aku tidak mau dia kehahisan oksigen gara-gara kegilaanku. Dia menatapku dengan napasnya terengah-engah. Ku usap lembut bibirnya yang kebas dan basah karena ulahku. Maafkan aku sayang.
"Kamu ingin aku mati kehabisan oksigen?" tanyanya.
Ku kerutkan dahiku, "Kamu mati aku juga ikut mati, kita mati bersama-sama gara-gara ciuman." Dia tertawa lepas mendengarku dengan memegangi perutnya.
"Sayang," Ku pegang lagi tangannya. "Tadi Andre tetangga sebelah," Dia mengangguk. "Dia menawariku pekerjaan, tapi sebagai manajer. Nah, kira-kira ku ambil tidak pekerjaan itu? Ya sebenarnya uangku untuk makan kita dua tiga tahun pun tidak akan habis walaupun aku tidak bekerja." Ku angkat kedua bahuku, menggodanya.
Dia tertawa lagi, "Sombong banget, aku nyidam si Bugatti nih langsung habis uangmu!" godanya.
"Tidak masalah, tetap masih." Aku terkekeh malu.
"Ya kalau kamu ingin kita tinggal disini ambil saja pekerjaan itu, tapi kalau kamu punya rencana untuk pulang ya tidak perlu."
"Tapi masak iya aku jadi manajer?"
"La terus mau jadi apa? Itukan perusahaan orang bukan perusahaanmu. Nikmati saja kutukan para karyawanmu dulu! Semoga saja kamu nanti tidak dapat atasan yang sifatnya sepertimu."
"Bolehlah. Kalau kamu sanggup."
"Ngeledek," Dia tertawa puas. "Oke besok aku akan coba kesana. Dan ku pastikan mereka akan menerimaku."
"Tidak perlu kamu tunjukan ke semua orang siapa dirimu!" sindirnya.
"Iya deh, kamu sudah mandi belum?" Dia menganggukan kepalanya. "Tapi aku belum mandi."
"Kamu sudah main ke rumah tetangga tapi belum mandi?"
Ku gelengkan kepalaku, "Mandiin aku!" Dahinya seketika mengkerut mendengarnya. "Pinky lagi tidur kan? Ayo nanti keburu bangun! Kita lama nih tidak main air bareng," godaku dengan menggangkat kedua alisku.
"Kamu manja banget!" ucapnya. Ku ciumi perutnya, dia mengelus rambutku. Aku tidur dipangkuannya, memejamkan mataku dan merasakan belaian lembut tangannya. "Aku pakai lingerie dulu ya! Tapi kamu janji jangan melepasnya dan jangan main sambil berdiri di kamar mandi! Aku lagi hamil, aku tidak bisa!" Dia membuang mukanya.
Aku terkekeh mendengarnya, "Iya, iya aku janji."
"Awas bohong lagi!" Aku tersenyum lebar menatapnya. Dia berdiri dan meninggalkanku.
Ku lihat dia berjalan cepat menuju kamar, segera ku kejar sebelum dia menutup pintunya. Namun pintu itu sudah tertutup sebelum aku masuk.
Kleeek kleeek
Beberapa kali ku coba buka namun dia kunci dari dalam. "Buka pintunya sayang!" teriakku.
"Aku mau ganti lingerie tunggu aku di kamar mandi!" teriaknya.
Ku pukul-pukul pintu itu, "Aku bantu ya! Buka pintunya!"