Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Sabar atau kurang kerjaan


Rey POV


Setelah dari makam aku berencana mengajak Els jalan-jalan. Mungkin aku tidak pernah bisa menggantikan Kevin dihatinya tapi ini setidaknya bisa membahagiakannya walaupun tak seberapa.


Di dalam mobil, ku lihat dia hanya terdiam. "Kamu hari ini ingin jalan-jalan kemana cantik? Om Rey akan siap mengantarmu?" Ku dekatkan wajahku ke wajah mungilnya. Akhirnya dia mau tersenyum padaku.


"Om Rey mau mengajakku jalan-jalan?" Ku anggukan kepalaku. "Aku ingin beli boneka Om!"


Ku elus-elus kepalanya, "Oke." Ku kendalikan mobilku menuju mall terdekat. Wajahnya terlihat lebih ceria dari yang sebelumnya. Sesampainya di tempat itu. Dia menggandengku dan mengajakku berlari seolah-olah tidak sabar untuk mendapatkan boneka keinginannya.


Satu jam lebih kami berdua berkeliling mall dan menemaninya makan es krim. Dua boneka dan beberapa mainan anak perempuan yang didominasi warna merah muda sudah ditangan. Sekarang waktunya pulang, Kinan pasti sudah menunggu terlalu lama.


Sesampainya di rumah, ku lihat Papa dan Mama masih berada disana. Els berlari menuju kamar bersama pengasuh Pinky yang membantu membawa mainan yang dia pilih tadi.


"Mama belum pulang?" tanyaku.


"Nungguin kamu, kasian Kinan sendirian walaupun ada pengasuh tapi Mama tidak tega ninggal sendirian. Ya sudah Papa sama Mama pulang dulu. Kalau ada apa-apa telepon kami!"


Aku terkekeh pelan, "Kami sudah terbiasa mengatasi sendiri Ma, tenang saja!" Mama mengernyitkan dahinya seolah-olah kami tak mampu sendiri.


Aku segera menuju kamar menyusul mereka. Kami bersenda gurau di atas tempat tidur. Els terlihat tertawa bahagia dan bercerita banyak dengan Kinan apa yang kami lakukan tadi.


Ku pandangi wajah istriku yang pipinya masih sedikit berisi. Aku masih tertawa jika mengingat bagaimana dia takut aku berpaling darinya hanya gara-gara lemak di tubuhnya.


Tiba-tiba di melempar bantal ke arah wajahku. Ku kerutkan dahiku, "Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanyanya.


"Kamu gendut," Ku cubit pipinya. Wajahnya berubah mengkerut seketika. Aku semakin gemas melihatnya, tak henti tertawa dengan memegangi perutku.


"Aku mulai sekarang akan diet!"


"Jangan dong! Tidak kasian dengan anakmu?" Jika tidak ada anak-anak mungkin akan ku goda terus dia. Dia memalingkan mukanya dariku.


Ku dekatkan mulutku ke telinganya, "Sayang, aku boleh beli ponsel tidak?"


Dia malah tertawa, "Memang aku melarangmu? Salah sendiri ponsel dibanting-banting."


"Iya maaf. Aku lapar nih!" Ku kerucutkan mulutku di dekatnya. Dia memicingkan matanya dan berjalan keluar kamar. Aku berusaha cepat mengikutinya.


"Els disini sebentar ya main sama Pinky!" Gadis kecil itu mengangguk sibuk dengan mainan barunya. Aku meninggalkan mereka bersama pengasuh Pinky.


Ku peluk erat dari belakang dia yang sedang sibuk menyiapkan makanan untukku di dapur. "Kita tidak tinggal sendiri disini ya, ayo lepaskan nanti ada yang lihat!" Tangan berusaha kuat melepaskan kedua tanganku yang melingkar kuat di tubuhnya. Aku tenggelamkan wajahku di bahunya sambil menahan tawa.


"Makan atau tidak?" Dia seperti geram padaku. Akhirnya dengan terpaksa ku lepaskan pelukanku.


Aku duduk di meja makan dengan memperhatikan setiap gerak tubuhnya di dapur. Walaupun ada asisten rumah tangga disini tapi dia terbiasa untuk memasak makanan untukku sendiri.


Kali ini mungkin dia terlihat begitu risih saat mataku tak henti memandangnya, dia sering membenahi bajunya dan mengalihkan pandangan matanya dariku.


"Kenapa lihat-lihat? Badanku masih penuh lemak ya?" Aku terkekeh mendengarnya.


Ku raih tangannya, dan ku ciumi berkali-kali. Dia tersenyum malu-malu menatapku. "Sudah nanti gosong!" Dia berusaha melepaskan tangannya.


Dia berdecak dan pergi menjauhiku.Tak selang beberapa lama semua masakannya sudah siap di meja makan.


"Duduk sini!" Ku tepuk-tepuk pahaku berharap dia mau duduk di atas pangkuanku. Tapi yang ada dia hanya memicingkan matanya tanpa menyetujui permintaan konyolku dan tangannya sibuk mengambilkan makanan di piringku.


Inilah perbedaan jelas kenapa aku suka tinggal di rumah kecil bersamanya saja agar aku bisa leluasa bermesraan dengannya di mana pun. Kalau tinggal disini pasti ruang gerak kita terbatas karena malu dilihat orang-orang yang bekerja di rumahku.


"Oh iya, aku sudah berbicara banyak dengan Papa rencananya aku akan membeli perusahaan tempat kerjaku disana. Bagaimana menurutmu?"


"Aku mana tau urusan seperti itu? Yang aku tau wanita itu kerja disana dan kamu ingin kembali kesana dan dia menjadi sekretarismu gitu?" gerutunya yang membuat ku terkekeh mendengarnya.


Aku menyendok makanan yang ada di depanku, kemudian menatapnya lagi. "Aku akan tendang wanita itu dari sana."


"Kurang kerjaan." Dia menancap-nancapkan garpu di ayam goreng. Raut wajah kesal itu sangat nampak di wajahnya.


"Perusahaan itu sudah kacau dan pasti akan jatuh. Aku sudah mempelajari semua saat kerja disana."


"Terus kenapa kamu beli?"


"Aku ingin berdiri sendiri tanpa bergantung dengan Papa. Tenang saja aku akan disini bersamamu. Lagian aku juga kasian dengan Andre dia ingin keluar dari perusahaan itu tapi susah untuk bekerja di perusahaan lain.


"Kamu terlalu baik." Dia memalingkan wajahnya.


"Kalau kamu tidak mau aku terlalu baik, aku bisa kok jadi kriminal." Dia tertawa dan memukul-mukul dadaku.


Ku pegang erat tangannya, "Kamu kapan selesai?"


"Kemarin kamu sudah tanya, sekarang tanya lagi." Wajahnya seketika cemberut, bibirnya mengerucut.


"Awas kalau kamu bohong seperti dulu masak nifas sampai dua bulan!" ancamku yang sebenarnya masih teringat jelas bagaimana dulu dia mengulur waktu untuk menikah denganku.


"Dulu kan yang aku tau kamu masih pacaran sama Selena. Aku tidak mau seperti pelakor. Iya kalau kamu suka sama aku kalau tidak?"


"Sekarang kamu tau kan aku dari dulu cintanya cuma sama kamu."


Ku tarik tangannya, dan kini dia duduk di atas pangkuanku. Ku hirup dalam aroma tubuhnya. Ku sibakkan sebagian rambut indahnya.


Dia menyandarkan kepalanya di leherku dan mengelus-elus pipiku, "Kamu yang sabar dong!"


"Aku orangnya sabar kok, makan pakai saos saja enggak pernah aku kecrotin, aku tungguin sampai keluar sendiri."


Dia memutar kepalanya, menatapku tajam dan berteriak, "Orang sabar itu bukan seperti itu, itu namanya orang kurang kerjaan."



Like ❤ ya


Coment 🗣 ya