Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Adek itu datangnya dari mana?


Setelah selesai menikmati makan siang dan berbelanja keperluan sekolah. Mereka tak lupa kembali ke toko mainan tadi. Apakah Rey malu? Tentu saja tidak. Dia berjalan biasa dengan percaya diri seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan semua karyawan wanita di toko itu tersenyum menatapnya.


Puas dengan semuanya, mereka menuju tempat bermain di mall tersebut. Rey dan Kinan mengawasi anak-anak mereka yang tengah asyik bermain dengan berdiri tak jauh dari mereka.


Rey menatap manik mata hitam yang indah itu, "Kamu mau beli apa?" Kinan hanya menggelengkan kepalanya. "Nanti dikira suami pelit."


Kinan tertawa sambil menutupi mulitnya, "Aku mau mentahnya aja!"


Laki-laki itu berkerut keningnya dan memundurkan kepalanya, "Sejak kapan pinter kayak gitu?"


"Aku itu dari dulu pinter ya!"


"Oke mau berapa juta? Sepuluh, dua puluh atau seratus juta?"


"Hei, semurah itu kah aku?" Lagi-lagi rey mengerutkan keningnya.


"Aku gak ngomong kayak gitu ya, kamu mau berapa pun aku kasih. Kemarin aku sudah jual ginjal satu buat beliin tas kremesmu. Kurang apa coba?" Dia mendekatkan mulutnya ke telinganya .


Kinan mengernyitkan mukanya, "Kan masih satu jual lagi sana!"


"Oke, sekalian nih hati, jantung, paru-paru aku jual semua!"


"Idiiih, lebay banget."


Satu jam kemudian mereka pulang ke rumah.


Kinan sedang sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Dia terlihat begitu cepat bergerak kesana kemari memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya. Mengetahui istrinya sedang begitu terlihat fokus, Rey berjalan mengendap-endap dengan bola mata berkeliling memantau tidak ada seorang pun melihatnya.


Setelah dirasa aman, "Eh," Kinan terlonjak kaget laki-laki itu langsung memeluk tubuhnya, menciumi bahunya dengan tangan kiri meraba perut dan tangan kanannya sibuk meremas kedua payudaranya secara bergantian.


"Jangan lupakan kita tidak tinggal hanya berdua ya!" tegasnya pada laki-laki yang terus berusaha menggodanya itu. Bola mata Kinan bergerak kesana kemari memastikan tidak ada orang yang melihat tingkah suaminya.


Baiklah setidaknya aman, tangannya melanjutkan memasak makanan yang hampir setengah jadi itu. Apakah Rey sudah berhenti menggodanya? Tentu saja belum, dia terus aktif bahkan memberi tanda merah di leher Kinan.


Wanita mana yang kuat diperlakukan seperti ini. Kinan mencoba menghindar dan menggeliat kegelian namun suaminya itu tidak membiarkannya. "Kenapa?" bisik Rey pelan di telinganya.


"Aku seperti tersengat."


"Ya iyalah teganganku tinggi banget, wanita mana yang gak mati klepek-klepek ku sentuh dikit aja."


"Hei," teriak Kinan. Rey terkekeh pelan.


"Kamu masak apa?" bisiknya. Dia menghentikan aktifitas itu dengan masih memeluk Kinan dari belakang. Kepalanya bersandar di bahu istrinya.


"Aku masak kesukaanmu," Rey menganggukan kepalanya. "Oseng paku payung." Perut wanita itu mengeras menahan tawa.


"Wah aku gak sabar untuk mencicipinya! Gurih banget pasti. Segurih kamu," bisiknya. Kinan berbalik arah dan memukul dada suaminya.


"Dasar mesum gak tau tempat, kayak gitu tadi siang nyalahin aku!"


Dia memukul-mukul dada yang bidang itu berkali-kali. "Le ... pas."


"Papa jahat,"


Deg


Mata mereka berdua membulat mendengar teriakan itu. Rey langsung melepaskan Kinan dan mengelap bibirnya yang basah dengan lengannya.


"Sayang, ka-mu ...." Dia tak mampu mengeluarkan kata-kata pada anak laki-lakinya.


"Papa mau bunuh Mama?" teriaknya.


"Eh, enggak." Tangannya melambai-lambaikan ke anaknya.


"Dengerin dulu sayang! Pa-pa sama Mama lagi berpelukan karena kami saling mencintai." Rey langsung memeluk tubuh Kinan. Mereka saling melempar setengah senyumnya.


"Papa juga cinta sama kamu, ayo sini peluk Papa yang erat kayak Papa peluk Mama tadi ya!" Anak itu berlari ke Rey yang sudah menunggunya sambil berlutut. Alasan ini satu-satunya yang membuat mereka bisa sedikit lebih tenang.


"Papa, ayo temenin aku main! Kak Pinky main masak-masakan lagi aku bosan."


Rey mengangguk dan berjalan bersama anaknya ke kamar. Kepalanya menoleh ke belakang, terlihat Kinan yang memicingkan matanya disana.


Mereka berdua sibuk menata satu persatu koleksi manusia laba-laba itu. "Ini yang besar Papanya, yang sedang Kakaknya, yang kecil banget ini Adeknya," ucap Rey pada anak laki-lakinya itu.


"Lucu ya Pa Adeknya kecil banget." Rey tersenyum mengusap kepala anak itu.


Tiba-tiba Aero bertanya padanya, "Adek itu datangnya dari mana Pa?"


"Adek itu keluar dari dalam perut Mama, keluarnya dibantu Bu dokter."


"Kok bisa Adek di dalam perut Mama, gimana masuknya Pa?"


Deg


Rey mengerutkan dahinya dengan kesusahan menelan salivanya, "Jadi gini," dia terdiam sejenak memutar otaknya. Aero menganggukan kepalanya raut mukanya seperti tidak sabar mendengar penjelasan dari Papanya. "Seperti tanaman, dulu Adek itu juga berupa benih yang ditanam Papa di perut Mama, lalu benih itu tumbuh dan berkembang menjadi bayi. Setelah bayinya membesar dikeluarkan dari perut Mama deh."


"Oh, kalau gitu aku ingin punya Adek bayi Pa!"






Jangan lupa like, coment dan votenya!