
Rey POV
Keadaan istriku berangsur membaik. Dokter telah memindahkannya ke ruang perawatan. Sungguh ingin rasanya aku segera pulang dan meninggalkan tempat yang mampu memorak-porandakan hatiku ini.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu. Ku tidurkan anakku di dekat Kinan. Ku buka pintu itu. "Mama," teriakku. Aku memeluknya erat. "Anak Rey sudah lahir. Mama menjadi Nenek."
Mama mengelus-elus kepalaku. "Mana cucuku?" Mama berjalan bahagia mendekati Kinan. Dia menggendong dan menciumi anakku.
Papa, aku juga tidak lupa memeluknya. Dia menepuk-nepuk keras bahuku. "Papa bangga padamu, akhirnya ada penerus perusahaanku."
Ku lepaskan pelukan itu seketika, "Maksud Papa apa? Kan ada aku Pa."
"Kamu bilang kan tidak mau pulang dan tinggal disini. Ya sudah kamu nikmati saja hidupmu sebagai karyawan! Biar perusahaanku di teruskan cucuku kelak."
Dia berjalan mendekati anakku yang digendong Mama dan meninggalkanku begitu saja. Aku bingung dan mendekati mereka.
"Tapi Pa, Rey setelah ini akan segera pulang."
Papa mengerutkan dahinya, "Buat apa pulang?" teriaknya. "Mau jadi pengangguran? Perusahaanku penuh tidak buka lowongan pekerjaan."
Aku semakin bingung dengan ucapan Papa. "Pa, jadi Rey tidak boleh megang perusahaan itu lagi?"
"Tidak," bentaknya.
Apa-apaan Papa ini. Dulu maksa aku pulang dan membantunya. Setelah aku ingin pulang dan membantunya malah tidak boleh.
Ku lihat wajah Kinan sudah bisa tersenyum. Ini membuatku lebih tenang walaupun dalam hati masih dongkol dengan ucapan Papa.
"Tampan sekali ya Ma cucu kita?"
"Ya iyalah tampan, orang Papanya tampan."
Papa mengernyitkan mukanya, "Aku tidak bicara padamu," ucap Papa dengan sinis.
Ku picingkan mataku, ku lihat Kinan menahan tawanya. "Sayang kamu jangan tertawa dulu! Jangan batuk! Jangan bersin!" Dia tersenyum mengangguk.
"Pinky mana?" tanya Mama.
"Rey titipkan ke tetangga sebelah," jawabku santai sambil melihat anakku.
Tiba-tiba bola mata Mama seperti ingin keluar, "Apa dititipkan tetangga?" teriak Mama. Kenapa Mama seperti marah padaku? Aku masih kebingungan salahku dimana?
Buuuk buuuuk
Ku pegangi bahuku. "Sakit Pa, kenapa Papa tiba-tiba memukulku?"
"Bisa-bisanya menitipkan anak ke tetangga?"
"Terus Rey harus menitipkan ke siapa?" teriakku.
"Kan Papa bilang pulang, masih ngeyel hidup disini. Tidak punya malu menitipkan anak ke tetangga. Apa kamu sudah benar-benar kehabisan uang sampai tidak bisa mencari baby sitter? Jual saja itu mobil kebanggaanmu!"
Ucapan Papa seperti mencubit hatiku. Kenapa Papa dan Mama datang kemari bukannya menghiburku malah semakin menyalahkan keadaanku. Aku menyesal memberitahu mereka tentang semua ini. Belum sempat aku jawab tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Tok tok tok
Aku berjalan membuka pintu dengan wajah cemberut ku berikan pada Papa. "Andre, Sisca, masuklah!"
"Sisca maaf merepotkanmu harus menjaga Pinky!" ucap Kinan.
"Tidak apa-apa aku seneng kok, dia anak pintar tidak rewel." Aku lega mendengar ucapan Sisca. "Bagaimana keadaanmu sudah membaik? Aku sangat mengkhawatirkan mu Kinan."
"Terima kasih ya Sis, aku sudah baik-baik saja kok," ucap Kinan dengan senyum manisnya.
Aku dan Andre duduk di sofa dan Papa juga ikut mendekati kami. Mama, Kinan dan Sisca terlihat asyik berbincang-bincang.
Mungkin sekarang saatnya aku bilang pada Andre. "Dre, maaf ya aku tidak bisa lagi kerja di perusahaan Arka? Aku mau pulang."
Ku lihat Andre dan Papa mengerutkan dahinya. "Kenapa Rey? Apa gara-gara Andini?" tanyanya.
"Siapa lagi Andini?" tanya Papa dengan nada suara tinggi. Haduh pasti aku akan dimarahi lagi.
Tiba-tiba Mama mememotong pembicaraan kami. "Oh iya Rey, apa sebab Kinan tiba-tiba pecah ketuban dan harus dioperasi? Pertanyaan Mama di telepon tadi belum kamu jawab?"
Kenapa dua pertanyaan ini seperti ingin menyekik leherku? Saat ini aku sangat kesulitan untuk menelan salivaku.
"Oh, tadi itu Andini mendorong Kinan sampai jatuh ke lantai Tante," ucap Sisca.
"Apa? Siapa lagi itu Andini?" teriak Mama.
"Andini itu teman sekantor Rey, dia menaruh hati pada Rey. Begitu ceritanya Tante."
Ku lihat Papa dan Mama ternganga mendengar penjelasan Sisca. Wajah mereka berdua seperti ingin mencabut jantungku saat ini juga.
"Ka-mu bermain wanita lagi Rey?" tanya Papa dengan napas terpenggal-penggal. Wajahnya semakin memerah. Rahangku mengatup seperti sangat susah untuk menjelaskan semua ini.
Buuuk buuuuk
Pukulan itu mendarat lagi di bahuku. "Pa dengerin Rey dulu!"
"Apa?" Bola mata Papa seperti ingin keluar lagi. "Kamu ini sudah membahayakan nyawa istri dan anakmu masih saja bisa-bisanya cengengesan tadi. Jadi alasan kamu tidak mau pulang karena wanita itu? Papa tidak akan membiarkanmu memegang perusahaan lagi." Mataku membulat mendengar ucapan Papa.
"Kamu punya perusahaan Rey?"
Deg
"Katanya dulu kamu manajer?" Sungguh pertanyaan Andre membuatku semakin terpuruk.
"Dia ini chief executive officer yang tidak bertanggung jawab," teriak Papa. Ku garuk-garuk kepalaku yang tidak gatal ini. Andre ternganga mendengarnya. Aku pergi berdiri pergi meninggalkan mereka.
"Heeh, mau kemana kamu? Pertanyaan Papa soal wanita tadi belum kamu jawab?" Papa berteriak lagi.
Ku kepalkan kedua tanganku. Napasku terengah-engah. "Rey, tidak mengkhianati Kinan Pa. Wanita itu yang selalu menggodaku. Kenapa kalian terus menyalahkanku?"
Papa berdiri dan berteriak, "Kalau tidak menyalahkanmu terus menyalahkan siapa?"
"Salahkan superman tuh, celananya di dalam cangcutnya di luar!"
Braaaak
Ku banting pintu ruangan itu. Dan pergi menenangkan diri. Meminum secangkir kopi ditemani sepuntung rokok di kantin rumah sakit ini.
Like ❤