Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Cintaku akan selalu indah


Kinan terbangun dari tidurnya dan melirik ke arah samping kirinya, Rey masih tertidur terngkurap dengan selimut yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya. Otot pada lengan, dan bahunya sangat nampak indah.


Wanita itu merapikan rambut yang berantakan dan juga tak lupa mencium pipi laki-laki yang masih belum terbangun dari mimpi indah semalam bersamanya.


Cuuuup


Tiba-tiba mata itu perlahan-lahan terbuka dan tersenyum pada wanita yang telah menciumnya.


Rey langsung mencium tangan Kinan dan meletakkannya di bawah pipinya. "Apa kamu bahagia semalam?" tanyanya dengan suara lirih dan berat.


Pertanyaan macam apa, siapa pasangan yang tak bahagia dengan malam indah itu. Apa tujuan dia bertanya dengan pertanyaan yang membuat setiap wanita malu untuk menjawabnya?


Kinan langsung memeluk laki-laki yang kini merubah posisinya menjadi bersandar di tempat tidur itu. "Semalam kamu memberikan seluruh cintamu untukku, siapa yang tak bahagia?" Terlihat sudut mulut Rey.


"Apa masih sakit?"


Kinan melepas pelukannya. "Kamu terlalu menghentaknya keras." Wajahnya mengernyit.


Rey tertawa puas dan mengucek matanya. "Oh iya, bukannya wanita menyukai itu?" Dia memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya pada wanita yang sekarang pipinya menjadi merah muda itu.


Kinan mencoba bersikap tegas kali ini. Dia tak melupakan laki-laki di depannya ini dulunya seperti apa. Matanya menatap tajam mata suaminya itu. Wajahnya berubah menjadi cemberut seketika.


"Apa kamu juga seperti ini saat berkencan dengan teman wanitamu dulu?"


Oh pertanyaan itu lagi. Rey mengaruk-garuk kepalanya, "Kalau aku jawab iya pasti marah, kalau aku jawab enggak pasti dikira bohong ujung-ujungnya juga marah. Sudah lupakan!"


"Kamu tidak mau menjawab?"


"Ck," Rey berdecak, "Sudah aku mau mandi, kamu mandi bareng?" Dia menyambar sehelai handuk itu dan menutupi tubuh bagian bawahnya.


"Aku capek." Kinan berteriak dan menenggelamkan wajahnya ke bantal.


"Mandi aja capek."


"Masalahnya, pasti lebih dari itu." Wanita itu seperti sangat hafal bagaimana suaminya. Rey hanya tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Laki-laki itu berjalan menuju kamar mandi. Kinan mulai terbangun dan memunguti lingerie yang berserakan di lantai.


Setelah mandi mereka menikmati sarapan berdua yang telah di sediakan oleh hotel tersebut.


"Jadi besok kita pulang?" tanya Kinan dengan tangan yang sibuk mengiris pancake strawberry yang berada di depannya kemudian memasukkan ke mulutnya. Rey berdehem seraya meminum secangkir kopi.


"Ini namanya bukan bulan madu tapi piknik, masak bulan madu cuma sehari."


Rey terkekeh dan meletakkan kopinya di meja. "Ya sudah sampai minggu depan."


"Jangan, kasian Mama pasti kerepotan mengurus anak-anak."


"Ya sudah, kapan-kapan kita jalan berdua lagi." Laki-laki itu mengelus kepala istrinya. Mereka melanjutkan sarapannya kembali dan menghabiskan waktu seharian di dalam kamar hotel.


Sampai waktu sore pun tiba, entah kenapa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya Rey ingin menghentikan waktu dan terus memadu kasih dengan wanitanya disini. Namun dia sadar akan janjinya menghabiskan waktu sore ini di pantai bersamanya.


Ya, tempat terbaik menghabiskan waktu sore hari adalah di pantai. Mereka sangat bersemangat menuju kesana. Dari kejauhan terdengar suara deburan ombak yang menerjang bebatuan. Mata Kinan berbinar dan tersenyum sempurna. Dia seperti tak sabar merasakan lembutnya pasir pantai di sela-sela kakinya.


Kinan berlari dengan menggandeng tangan Rey. Semilir angin dan aroma segar yang bercampur bau garam membuat suasana sore mereka semakin romantis.


"Aku sangat bahagia Rey." Wanita itu berteriak keras.


"Bahagia di pantai atau bahagia hidup bersamaku?"


"Dua, duanya."


Rey mengernyitkan mukanya. "Harus pilih salah satu dong!"


"Iya ... aku bahagia bersamamu. Pantai ini tanpamu juga tak akan indah."


"Benarkah?"


Wanita itu mengangguk. Rey mendekati wajah cantiknya. Dia memiringkan kepalanya dan merapikan rambut panjang wanitanya yang tertiup angin pantai itu.


"Cintaku juga akan selalu indah untukmu," ucap Rey dengan mengangkat dagu Kinan. Kinan tertunduk malu dan tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.



"Kamu tau aku lama sekali tak ke pantai?" Dia berlari mundur berharap Rey mengikutinya. Apakah Rey mengikutinya?


Tentu saja, mana bisa dia berjauhan dengan wanita impiannya. "Oh ya, kapan kamu terakhir ke pantai?" teriaknya.


"Dulu banget waktu Kevin melamarku."


Deg


Hati laki-laki itu seperti teremas, dia melempar setengah senyum pada wanita yang kini sedang mengingat kenangan indahnya dulu itu.


"Pasti sangat romantis,"


Kinan menghentikan langkah kakinya. Wajahnya berubah datar. Dia baru tersadar melupakan perasaan Rey dengan mengingatkan masa lalu bersama sahabatnya.


"Maaf," ucapnya lirih. Dia menunduk dengan rasa bersalah itu.


"Kamu tidak salah," Rey langsung memeluk Kinan erat. "Terima kasih sudah membalas cintaku!"


Rey melihat mata indah itu mengeluarkan butir-butir mutiara. "Hei kenapa menangis?"


"Aku mencintaimu Rey."


Mereka berpelukan erat bahkan sangat erat. Lalu mengukir nama mereka di pasir sambil menikmati indahnya matahari terbenam.


Reyhan ❤ Kinan



Heleeeh jadi pengen 🤣


Dua bab lagi ✌😭 oke


Tinggalin jejaknya dong! 🦗