
Rey terkekeh mendengar permintaan anaknya kali ini. Dalam hati sebenarnya ingin sekali untuk memiliki anak lagi, namun kejadian sekitar empat tahun lalu membuatnya takut kehilangan wanitanya.
"Papa," teriak Aero padanya. Rey terlalu lama melamun mengingat kejadian itu. Dia menggaruk-garuk kepalanya.
"Kita coba tanya Mama ya dulu ya! Ayo kita segera makan malam! Mama sudah masak makan malam yang enak buat kita."
"Mama masak apa Pa?"
"Tadi ada ayam goreng tepung saos asam manis kesukaan kamu." Rey bediri dan keluar dari kamar anaknya.
Namun dia kembali lagi, "Oh iya, panggil Kak Pinky juga. Papa tunggu di bawah ya!" Anak itu mengangguk sambil memberesi mainannya.
Rey berjalan pelan menuruni anak tangga di rumahnya. Dia melihat Kinan masih sibuk menata makan di meja makan.
Matanya menatap semua makanan yang dibuat istrinya itu. Kali ini ada cap jay goreng, ayam goreng tepung saos asam manis, fuyunghai udang ayam, dan ada juga nasi goreng sosis disana.
"Banyak banget kamu masak?" Dia menggeser sedikit kursi meja makan ke belakang kemudian duduk dengan mata melirik istrinya yang masih mondar-mandir seperti tidak habis-habis memindahakan makanan dari dapur ke meja makan.
"Aku lagi pengen aja." Dia menuangkan air putih ke gelas yang berada di depan Rey.
Tiba-tiba Pinky dan Aero berlarian dari kamarnya menuju meja makan. Kinan hanya menggelengkan kepalanya, ini seperti sudah kebiasaan mereka.
"Wah Mama masak banyak banget," teriak Aero. Dia langsung menggeser kursinya kebelakang berjinjit dan duduk memegang sendok dan garpu.
"Tumben Mama masak nasi goreng malam ini?" tanya Pinky.
"Maklum Mama ini kurang kerjaan, nasi sudah matang digoreng lagi," ucap Rey dengan meminum air putih di depannya.
"Ha, ha, ha."
Terdengar gelak tawa dari kedua anaknya. Kinan berdecak dan memicingkan matanya ke arah Rey, sambil mengambilkan suaminya itu makanan di piringnya. Tak lupa juga dia mengambilkan makanan ke piring anak-anaknya.
Ditengah asiknya menikmati makan malam, Aero langsung membahas lagi tentang keinginannya di dalam kamar tadi. "Jadi kapan Papa menanam benihnya ke perut Mama?"
Kinan ternganga mendengar pertanyaan anak laki-lakinya. Rey seperti kesusahan menelan makanannya, dia mengambil air minum dan meminumnya sedikit kemudian menaruhnya kembali.
"Menanam benih apa dek?" tanya Pinky keheranan.
"Benih adek bayi lah Kak."
Deg
Jantung Kinan rasanya terhenti, dia menatap tajam mata suaminya yang terlihat salah tingkah sekarang. Kakinya menyenggol kaki Rey, sepertinya ingin tau bagaimana anak sekecil dan sepolos itu bisa bertanya seperti itu padanya. Dia sudah berpikir buruk pasti Rey yang mengajari semua ini.
Rey berdehem, "Nan-ti Mama sama Papa bicara berdua dulu ya!"
"Wah kita mau punya adek?" tanya Pinky pada Aero. Mata mereka terlihat berbinar. Aero mengganguk-anggukan kepalanya. "Aku mau cewek Ma," usul Pinky.
"Cowok aja Ma, nanti ada yang nemenin aku main Spiderman!" Aero seperti sangat antusias sekali.
"Cowok."
Kinan hanya ternganga mendengar mereka berdebat. "Ssssstt. Eh, sudah berhenti! seru Rey. "Ayo makan! Urusan adek bayi kita bicarakan kapan-kapan!"
Kinan menatap dengan wajah mengernyit ke suaminya. Kemudian mereka melanjutkan makan malamnya kembali.
"Pa, gigi ku belum copot-copot dari kemarin. Buat makan gak enak, gak bisa gigit." Pinky menujukan sederet giginya dan menggerak-gerakan giginya yang sedikit lagi akan terlepas.
Semua menatapnya, Aero tertawa keheranan. "Kak Pinky giginya mau copot nanti kayak nenek-nenek?"
"Nanti juga akan tumbuh lagi, ini kan gigi susu. Iya kan Pa?"
Rey tersenyum dan mengangguk. "Gigi susu?" tanya Aero keheranan. "Apa di dalamnya gigi ada susunya Pa? Terus gimana meresnya Pa?"
"Ppppfftt, ppppfft." Rey dan Kinan mengunyah makanan sambil menahan tawa dengan pertanyaan anak laki-lakinya itu.
Rey meletakan sendoknya di piring kemudian mengelus kepala anaknya, "Sayang, gak semua susu itu bisa diperas. Contohnya nih, susu beruang kalau diperas nanti ditabok sama beruangnya bahaya! Lah kalau gigi diperas nanti dimarahi Raffi Ahmad gimana?"
"Papa ngawur," teriak Aero.
Lagi-lagi gelak tawa terdengar dari meja anak-anak mereka. Seketika Kinan langsung memegangi dahinya. "Sudah ayo makan! Papa kalian ini terlalu banyak bergaul dengan Pak Setresna jadinya kayak gini!"
"Pak Setresna temen bisnis Papa ya Ma?"
"Iya yang biasa berpakaian aneh di pinggir jalan."
Rey berdecak sambil melirik tajam ke Kinan. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Kinan, "Awas kamu!"
❤
❤
❤
❤
❤
❤
❤
❤
🧐
Likenya dong!