Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Tutup matamu 2


Rey masih terus memandangiku saat makan, "Kamu mau lagi?" tanyaku.


"Aku maunya kamu!"


Aku berdiri dari tempat tidur, "Aku taruh piring ini ke dapur dulu."


"Biar aku saja!" Dia mengambil piring itu dan berjalan keluar kamar. Aku berusaha secepat mungkin mengganti bajuku dengan lingerie. Ku pandangi tubuhku di depan kaca. Ku usap perutku yang semakin membuncit, apa dia akan menyukainya?


Kleeeek


Dia membuka pintu kamar, ku tatap matanya kemudian aku menunduk malu dengan ku tutupi perutku dengan kedua telapak tanganku.


Dia mendekatiku dan melingkarkan tangannya ke pinggangku, memelukku dari belakang, kemudian mengelus-elus perutku.


"Rey," sapaku pelan. Dia hanya berdehem. "Tubuhku jelek ya? Aku malu."


"Kata siapa? Aku menyukainya, kamu terlihat lebih sexy dengan mengandung anakku seperti ini."


"Bohong!" Dia memundurkan kepalanya dan mengerutkan dahinya.


"Aku tidak bohong, aku harus menjawabnya bagaimana? Sudah, aku tidak mau berdebat malam ini!"


Cuuup cuuup


Bibirnya mulai menciumi lekuk leherku sampai telingaku. Hembusan nafasnya sangat jelas terdengar ditelingaku.


Ku esap lembut kepalanya yang sekarang tepat di lekukan leherku. Tangan kanannya meremas pelan payudaraku kanan kiri bergantian. Sedangkan tangan kirinya mengelus-elus pahaku kemudian menerobos masuk ke bawah sana. Jari tangannya bermain-main di dalam sana.


Aku hanya bisa memejamkan mata menahan setiap sentuhannya, mendesah dengan oksigen yang sepertinya saat ini semakin lama sedikit yang bisa ku hirup. Dadaku kembang kempis dibuatnya.


"Reeeyy," desahku pelan. Ku jambak-jambak rambutnya yang sedari tadi menciumi leherku. Ku gigit bibir bawahku untuk menyalurkan rasa tidak tahanku terhadap sentuhannya.


"Kenapa?" dia berbisik di telingaku. "Enak?" Hembusan napasnya semakin membuatku seperti tersengat. Dia menghisap kuat leherku, aku yakin esok pagi akan penuh tanda cintanya.


Aku hanya bisa mengangguk malu. Tangan kanannya menyudahi permainannya dan mengarahkan daguku, "Cium!" pintanya. Bibirnya langsung menggantikan gigitan gigiku di bibir bawahku.


Cuuuuup cuup cuuuuup


Lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutku, menari-nari bersama lidahku di dalam sana. Jari tangan kirinya masih asyik bermain-main di area sensitifku namun tiba-tiba dia memasukkan jari tengahnya ke sana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan ingin menjerit pun tidak bisa karena ditahan oleh ciumannya.


Aku hanya bisa menggeliat, jari itu semakin cepat dia keluar masukan di bawah sana. Oh tidak, aku tidak kuat menahannya. Ku jambak keras rambutnya. Tapi sepertinya dia tidak memperduikannya dan semakin mempercepat gerakan jarinya.


"Eeeeemmmm," desahku. Cairan hangat sepertinya mengalir di antara pahaku. Dia melepas jari tengahnya dan ciumannya. Dia menatapku dengan penuh senyuman di wajahnya.


Aku hanya menunduk malu, nafasku terpenggal-penggal saat ini. Aku benar-benar butuh banyak oksigen. Dia membalikan tubuhku. Membelai lembut pipiku dengan punggung jarinya. Menatapku dengan mata sendunya. Aku tidak bisa menahan ini semua. Ku lingkarkan tanganku di lehernya. Ku peluk erat dirinya.


"Apa kamu bahagia?" tanyanya. Aku hanya mengangguk di pelukan itu. "Jangan pernah tinggalkan aku lagi! Aku sudah hancur, aku hampir mati mencarimu."


Ku lepas pelukan itu, "Aku minta maaf, aku mencintaimu Rey. Aku butuh kamu." Mataku berkaca-kaca seperti tidak sanggup lagi menahan jatuhnya.


"Jangan nangis!" Dia menyapu air mataku dengan jarinya. Lagi-lagi dia menciumku.


Cuuuup cuuup


Ku dorong pelan dadanya. "Rey, aku mau ke kamar mandi sebentar!"


"Aku ikut."


"Tidak, tidak aku cuma buang air kecil. Kamu tunggu di kamar sebentar!" Aku meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Tiba-tiba tangannya menahan pintu yang akan ku tutup. "Rey kamu apa-apaan?" Dia tetap menahannya.


"Aku cuma mau lihat," ucapnya dengan santai. Mulutku ternganga mendengarnya.


"Tidak, jorok kamu Rey. Aku cuma sebentar, aku sudah tidak tahan!"


Dia menutup pintu kamar mandinya dan berdua di dalam kamar mandi berasamaku. "Rey aku tidak mau bercinta disini," tegasku.


"Siapa yang mengajakmu disini?" Dahinya mengkerut. "Ya sudah aku cuma mau mendengarkan saja!"


"Tutup matamu!"


"Oke."


Aku mencoba secepat mungkin menyudahi buang air kecilku sebelum dia membuka matanya. Namun di tengah jalan dia membuka matanya dan melihatku.


"Rey, kamu bohong!" Ku pukul-pukul bahunya. Dia tidak memperdulikanku dan masih menatap dibawah sana.


"Sudah?" tanyanya. "Sini aku bantu bersihkan!"


"Tidak perlu!" teriakku kecewa. Dia terkekeh mendengarnya.


"Butuh tisu?" Dia mengambilkannya untukku. Dan aku berusaha membersihkannya sendiri. "Sini aku gendong!" serunya.


Ku kalungkan kedua tanganku di lehernya, dia mengangkat tubuhku pelan dan berjalan ke dekat tempat tidur. Dia menidurkan tubuhku disana sangat lembut. Kemudian dia berdiri dan membuka satu persatu kaos dan celananya.


Aku hanya membuang malu muka ini. "Kamu tidak ingin melihatnya?" tanyanya yang menurutku sangat konyol. Aku hanya menggelengkan kepala dan menutupi mukaku dengan kedua telapak tanganku.


"Apa karena lama tidak bertemu denganku kamu jadi malu-malu seperti ini lagi?" Tiba-tiba dia tidur di sampingku.


Dia mengelus-elus perutku. Dan mulai menciuminya. "Bobok yang nyenyak dulu ya sayang! Papa lagi kangen sama Mama. Tenang saja Papa kangen-kangenannya pelan kok tidak akan mengganggu tidurmu!"


Cuuuup cuuup


Ku tutupi mulutku dengan tanganku. Aku bisa menahan tawa. Dia mulai menciumi bibirku lagi. Dengan tangan kanan yang memainkan area sensitifku.


Deg! Deg! Deg!


Jantungku berdetak kencang lagi. Dia memasukan jarinya lagi ke dalam sana. "R-Rey," desahku pelan. Ciumannya turun ke leher lalu ke dada dan terakhir mengigit pelan kedua puncak payudaraku secara bergantian.


Aku tidak tahan menahan teriakan ini. Suara decapan yang begitu intim memenuhi seluruh kamar yang hening ini. Dia juga menambah kecepatan jarinya di bawah sana.


"Aku masukin ya?" tanyanya berbisik di telingaku. Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan gairahnya. "Aku janji akan melakukannya pelan tanpa membangunkan anak kita." Aku hanya bisa mengangguk.


Ku cengkram erat sprei ini, dia mulai memasukan kejantanannya di dalam sana. Kali ini tenagaku seperti tercabut dari tubuhku. Dia hentakkan pelan berkali-kali.


"Rey, jangan lama-lama keluarnya! Aku capek!" seruku yang sudah mulai lemas.


"Iya sayang, aku hentak agak dalam tidak apa-apa?" Aku hanya mengangguk. "Kalau sakit bilang ya!"


Hentakan sedikit keras itu, membuat tanganku mencengkram erat punggungnya. Nafasku sudah tidak beraturan rasanya. Tangannya mengusap keringat yang mengalir di dahiku. Tak lama kemudian dia mengerang dan menenggelamkan wajahnya ke lekuk leherku. Ku rasakan kehangatan cintanya mengalir di bawah sana setelah dia mencabutnya.


Dia tersenyum padaku dengan napas yang masih terpenggal-penggal juga. "Aku merindukan ini sayang, aku tersiksa tanpamu harus bermain sendiri. Terima kasih. Aku sangat mencintaimu!"


Cuuup cuup


-


-


-


-


-


Like, coment, sama votenya!