Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Merindukanmu


Kinan POV


Setelah perjalanan yang bagiku sangat melelahkan ini, di rumah kami sudah disambut oleh Papa dan Mama. Oh, ada yang membuatku terkejut Tante Ina dan Els juga ada disana. Aku terharu melihat mereka dari dalam mobil. Ingin rasanya segera turun dan berlari memeluk mereka.


Terbukalah pintu geser otomatis dari mobil ini. Aku langsung turun memberikan senyumku pada mereka semua. Mama langsung menggantikanku untuk menggendong anakku dan Els dia berlari memelukku.


"Tante, Els kangen!" Aku mencium puncak kepalanya.


"Maafkan Tante sayang!" Ku sapu air mataku yang tiba-tiba mengalir ini. Ku pegang kedua pipinya, "Tante juga kangen kamu. Kamu tambah cantik sekarang!"


Tak lupa juga aku memeluk Tante Ina, "Maafkan Kinan pergi tanpa pamit dengan Tante!"


"Minta maaf sama Rey bukan dengan Tante! Ingat ya kamu tidak boleh mengulanginya lagi!" ancamnya yang membuatku terkekeh pelan. Aku melihat ke arah Rey, dia memicingkan matanya.


Kami masuk ke dalam rumah bersama-sama. Bola mataku berkeliling di seluruh ruangan rumah ini. Masih sama seperti yang dulu. Tidak ada yang berubah, aku tersenyum lebar melihat ini semua.


Mama dan Tante Ina sibuk dengan Aero. Aku mendengar sekilas Papa dan Rey seperti sedang berbicara masalah perusahaan. Akhirnya ku putuskan bersama Els dan Pinky masuk ke dalam kamar.


Els terlihat sangat senang sekali dia sering mengajak Pinky bermain ciluk ba, "Pinky cantik banget ya Tante, mirip Om Kevin kalau tersenyum," ucapnya yang mampu membuat hatiku tersentuh.


Aku mengelus kepalanya, "Kamu rindu Om Kevin!" Entah kenapa air mataku tak bisa ku tampung lagi. Dia hanya mengangguk.


"Tante jangan nangis! Nanti Om Kevin sedih!"


"Eeeh, tidak." Ku hapus air mataku dan ku kibas-kibaskan tangan kedua tanganku untuk menghentikan ini semua.


"Tante, boleh Els memeluk Tante lagi! Els kesepian tanpa Om Kevin dan Tante selama ini. Els seperti hidup sendiri di dunia ini."


"Oh sayang, Tante minta maaf sudah meninggalkanmu! Nanti malam tidur disini ya sama Tante! Tante benar-benar kangen sama kamu!"


"Boleh?"


"Tentu saja!"


"Hore ... hore," dia meloncat kegirangan.


Tiba-tiba Rey masuk ke dalam kamar. "Ada apa ini?"


"Om Rey, nanti malam aku boleh tidur disini ya! Aku kangen Tante Kinan dan Pinky, aku juga ingin melihat dedek bayi lebih lama."


Rey mengusap-usap kepala Els, "Boleh lah, kenapa tidak. Ya sudah Om Rey keluar sebentar! Kamu temeni Pinky sama dedek bayi disini ya!"


"Siap!"


Ku pegang tangannya, "Kamu mau kemana? Kita kan baru sampai rumah."


"Sebentar saja!"


Ku kerutkan dahiku, "Kamu tidak mau jujur padaku lagi!"


Dia memejamkan matanya kemudian memegang kedua pipiku. "Aku mau ke makan Kevin. Boleh kan?"


Deg


Aku terpaku mendengarnya. Dia menatap mataku tajam. Ku tundukan pandanganku, memang aku terlalu berlebihan. Dia mengangkat daguku dengan jari-jarinya. Matanya seolah-olah tak berkedip menatap dan menunggu jawabanku.


"Om Rey aku boleh ikut tidak, aku rindu Om Kevin juga!" ucapan itu membuyarkan pandangan kami.


"Boleh, tapi kamu ajak Els ya!"


"Oke, ayo sayang!"


Rey mencium keningku, dan berjalan keluar kamar bersama Els. Sungguh rasanya ingin ikut bersama mereka tapi keadaan ini membuatku harus terdiam disini dan hanya bisa berdo'a.


Ku pandangi Pinky yang tengah asyik bermain dengan bonekanya. Ku elus-elus kepalanya, "Kamu pasti sekarang melihatnya Vin, dia bertambah besar dan tumbuh menjadi gadis yang cantik. Aku yakin disana kamu sangat bangga padanya." Oh, tak terasa air mataku menetes lagi.


Tiba-tiba Tante Ina masuk menggendong Aero, dengan cepat ku hapus air mata ini. "Kinan, Tante pulang dulu ya! Kasian Pak sopirnya sudah menunggu daritadi." Aku terkekeh pelan.


"Iya tadi di bawah Rey sudah bilang sama Tante."


Aku mengangguk dan bermain kembali dengan kedua anakku.


Rey POV


Kali ini aku ke makam mu ditemani gadis kecil kebanggaanmu ini Vin. Aku mengendalikan setir mobilku sambil tersenyum melihat tingkahnya. Dia anak yang ceria dan kuat, bahkan aku belum tentu mampu menjadi sepertinya.


Jika mengingat dulu rasanya tak bisa untuk berhenti tertawa. Bagaimana melihat nasibmu yang suka berhura-hura tidak jelas tiba-tiba saja di suruh menjaga dan merawat anak kecil sepertinya? Tapi kamu hebat, kamu bisa menjalani itu semua. Oh aku sangat merindukan menggodamu dan melihat wajah kesalmu.


"Om Rey kenapa tertawa sendiri?" Pertanyaan gadis kecil ini membangunkan lamunanku.


"Oh, Om cuma mengingat Om Kevin saja." Aku


tersenyum padanya. Namun tiba-tiba wajah gadis kecil itu seperti berubah menjadi datar. "Kenapa sayang?"


Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayo Om! Aku tidak sabar ke makam Om Kevin." Ku anggukan kepalaku dan menambah kecepatan mobilku.


Sesampainya di makam, dia langsung keluar mobil tanpa menungguku membukakan pintu dan berlari menuju makam Kevin.


"Els, tunggu Om dulu!" Ku kerutkan dahiku. Ku banting pintu mobilku dan ikut berlari mengejarnya.


Dia terduduk mengelus batu nisan itu. Ku berjalan mendekatinya. Namun tiba-tiba saja dia menangis memeluk makam Kevin.


"Om Kevin, Els kangen. Hidup Els sepi tanpa Om Kevin. Els sudah berusaha tidak bersedih tapi Els tidak bisa." Suara tangisan itu semakin keras.


Hatiku rasanya berdarah-darah. Semua ini karenaku, jika aku yang berada di dalam makam ini mungkin akan berbeda lagi ceritanya. Kali ini aku bagaikan orang tak berguna.


Ku hapus air mata tak berguna ini dan duduk disamping gadis kecil ini. Ku elus kepalanya. "Maafkan Om Rey ya sayang, semua ini salah Om. Harusnya Om Rey yang pergi bukan Om Kevinmu."


Tiba-tiba gadis kecil itu memelukku, "Bukan salah Om Rey, penjahat itu yang salah. Dia yang menembak Om Kevin." Dia masih menangis terisak-isak.


"Tenanglah, Om Rey sudah menangkap penjahat itu." Dia melepas pelukan ini.


"Benarkah Om?" Matanya polosnya menatapku tajam.


Ku anggukan kepalaku, "Dia sudah di tangkap Pak Polisi dan sudah mendapat hukuman karena telah menembak Om Kevin."


Ku hapus air mata yang mengalir di wajah lucunya. "Jangan sedih lagi ya! Ada Om Rey disini!" Dia memelukku lagi.


Aku juga sangat merindukanmu Vin, tenanglah disana aku akan membahagiakan mereka sekuat tenagaku. Kamu akan selalu hidup di dalam hatiku.



-


-


-


-


-


-


-


Hidung mampet ngetiknya 🤧 lagi kangen saja sama Kevin.


Like ❤ ya


Coment 🗣 ya