Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 63


Sehari beristirahat dari acara akad nikah di Bogor. Hari ini di hotel mewah milik keluarga argantara diadakan acara resepsi pernikahan Danish dan Alika. Tentu saja kali ini tamu undangan lebih banyak dari acara akad nikah.


Dengan gaun biru muda gemerlap, Alika tampil menyerupai putri cinderella yang cantik. Tampilan yang di kenakan Alika dan Danish pada resepsi hari ini atas rekomendasi Mama Vella. Bukan tanpa paksaan Alika langsung menyetujuinya.


Dekorasi bak kerjaan dalam kartun disney dan lampu gemerlap yang mendukung. Membuat suasana di dalam gedung itu terlihat seperti dalam negeri dongeng.


Bukan hanya Alika yang terlihat memukau. Danish juga terlihat begitu tampan dengan pakaian ala pangeran negeri dongeng.


Alika turun dari kereta kencana yang langsung di sambut uluran tangan Danish. Lalu mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju sebuah panggung.


Acara di buka dengan dansa romantis yang di lakukan oleh kedua mempelai. Para tamu undangan pun bertepuk tangan ikut merasakan kebahagiaan kedua mempelai.


Terkecuali Gea yang lagi-lagi di buat iri oleh kemegahan pesta pernikahan saudaranya. Sebenarnya hari ini dia enggan datang dan memilih untuk pulang ke Bandung. Tapi karena sudah di undang khusus Adi memaksanya untuk datang.


"Acara apaan sih alay banget. ngebosenin kayak anak TK aja." Ucap Gea sebagai bentuk ke iriannya.


"Menurutku acaranya bagus, modern gitu. Tapi kan ya emang selera orang berbeda-beda." Ucap Adi menimpali perkataan Gea.


Sontak itu membuat Gea kesal. Apalagi melihat tatapan Adi terus tertuju pada Alika saja. Suaminya itu masih saja mengagumi sosok Alika.


"Terserah kau saja lah, kita memang tidak sepemikiran." Ucap Gea seraya beranjak dari tempat duduknya. Adi sedikitpun tidak menoleh padanya. Itu semakin membuatnya kesal.


Gea keluar dari tempat acara menuju ke toilet. Dia terus bergeming merasa kesal sendiri. Dia merasa tidak terima dengan takdir yang dimiliki oleh Alika.


"Enak sekali sih dia, dinikahi pria kaya yang mencintainya. Sementara aku?" Gumam Gea seraya tersenyum getir. Dia menatap dirinya di kaca besar yang ada di hadapannya.


"Hemm, sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Agar acara ini lebih meriah lagi." Gumam Gea seraya tersenyum licik.


Gea dengan otak yang penuh segudang kelicikan telah merencanakan sesuatu. Keiriannya melihat kebahagiaan Alika membuat dirinya buta mata hati. Dia berniat membuat kekacauan dengan membakar kain gorden yang menghiasi seluruh sudut ruangan.


Sebelum melakukan aksinya, dia mencari sudut yang paling sepi. Setelah menemukan tempat yang strategis, dia mengeluarkan korek api dari dalam tasnya.


"Lihat saja, acaramu akan lebih meriah setelah ini." Gumam Gea seraya tersenyum licik.


Di nyalakannya api lalu Gea menyambarkannya ke gorden. Namun ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Kainnya tidak mau terbakar juga.


"Ishh, kok nggak bisa sih." Ucap Gea dengan kesal.


"Ya jelas nggak bisa lah, itu kan kain anti terbakar." Ujar Miko yang sudah berdiri di belakang Gea sejak tadi.


Sontak saja Gea segera menyimpan korek api itu. Hatinya langsung dongkol karena belum juga berhasil tapi sudah ketahuan saja.


"Dasarnya jahat tetap saja jahat ya. Kau ingin membunuh seisi gedung ini ya, dasar gila!" Ucap Miko penuh emosi.


"Apaan sih, aku nggak ngapa-ngapain. Asal ngomong aja." Elak Gea dengan sinisnya. Sudah tertangkap basah tapi masih saja mengelak.


"Sayangnya kau tidak bisa mengelak, karena aku punya buktinya." Ucap Miko seraya mengangkat ponselnya. Dia sudah merekam apa yang di lakukan Gea tadi. Kemudian dia berlalu pergi begitu saja membuat Gea kesal.


Gea pun menyusulnya dengan tetap berjalan elegan seakan tidak melakukan apapun. Dia kembali duduk di sebelah suaminya. Dapat terlihat saat ini Miko sedang menunjukkan video itu kepada Danish dan Alika. Tapi ekspresi Danish serta Alika biasa saja. Bahkan mereka juga tidak melihat kearah Gea. Gea pun tetap tenang dan tidak panik. Karena dia yakin sepupunya itu pasti akan membelanya.


"Dia tidak akan berani melawanku." Gumam Gea dalam hati meremehkan Alika.


Para tamu undangan menikmati hidangan yang di sediakan. Banyak yang memuji kecantikan Alika dan berkata jika Danish pintar memilih istri. Tapi banyak juga yang julid di sana. Dengan mengungkit status Alika yang sudah janda.


"Bro Arka, kau kapan menyusul?" Tanya Miko yang tiba-tiba saja datang dari belakang Arka duduk.


"Kau saja dulu. Aku tidak terburu-buru." Jawab Arka seraya menepuk bahu Miko yang saat ini duduk di sampingnya.


"Iya Miko, biar Arka mematangkan diri dulu. Di saat yang tepat nanti dia pasti akan menikah dengan perempuan yang tepat juga." Ucap Bunda Sifa.


Di saat itu Jenny tersenyum. Dia semakin semangat untuk memantaskan diri menjadi istri Arka nantinya. Karena jika di telaah dari perkataan Bunda Sifa, saat ini Arka belum mempunyai kekasih ataupu wanita pilihan untuk di jadikan istri.


**


Tiba di puncak acara, dimana para tamu undangan berpamitan pulang. Dengan bergantian mereka naik ke pelaminan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


Terlihat pancaran kebahagiaan keduanya. Senyuman terus terukir di bibir mereka berdua.


"Ayo kita ke depan mengucapkan selamat pada mereka." Ajak Adi pada Gea.


"Enggak ah kau saja. Aku tunggu di luar." Ucap Gea menolak.


"Tidak, ayo. Cuma salaman doang apa susahnya." Ucap Adi seraya menggandeng paksa tangan Gea.


Sebenarnya Zoya merasa ciut juga untuk berhadapan dengan Alika dan Danish. Tapi dia mencoba bersikap biasa saja seakan tidak melakukan kesalahan apapun pada mereka.


"Selamat ya untuk kalian berdua." Ucap Adi.


"Iya terima kasih." Balas Danish seraya tersenyum. Dia tahu Adi adalah mantan kekasih Alika, tapi kini sudah menjadi suami Gea. Jadi dia bersikap biasa saja.


Gea langsung buru-buru mendorong suaminya untuk pergi dari sana. Karena entah mengapa tatapan Alika berbeda hari ini.


"Tunggu Gea." Panggil Alika menghentikan langkah Gea serta Adi.


"Ya, ada apa?" Gea mencoba menutupi kegugupannya.


"Aku memaafkan yang kau lakukan kali ini. Tapi jika suatu saat nanti kau mengulanginya, aku akan menyerahkan semuanya ke jalur hukum." Ucap Alika dengan jelas.


Gea membelalakan mata mendengar perkataan Alika. Dia tidak menyangka Alika berani berucap seperti itu padanya.


"Gea apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Adi. Tapi Gea diam membisu malah berekspresi kesal menatap Alika.


"Oh aku tahu, pasti saat pergi tadi kau tidak ke toilet tapi melakukan kekacauan." Terka Adi.


"Ah diam kau." Ucap Gea seraya berlalu pergi dari sana.


"Alika, Danish atas nama Gea aku minta maaf." Ucap Adi sebelum pergi menyusul istrinya yang sudah keluar dari tempat acara.


Danish bertepuk tangan untuk istrinya. Dia sedikit kaget, ternyata Alika yang kalem bisa tegas juga.


"Oh pantas saja tadi kau melarangku untuk bicara padanya. Aku sedikit terkejut ternyata istriku bisa berbicara dengan nada setegas itu." Ucap Danish seraya tertawa kecil.


"Ya habisnya dia tidak berhentinya terus menggangguku mas. Sekali-kali di tegasin aja." Ucap Alika seraya tersenyum.