Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 31


Bandung


Flashback kemarin...


Di sebuah ruang tamu yang terbilang cukup mewah, duduk dua orang pria yang sepertinya sedang berbicara tentang hal yang serius. Namun tidak lama pria muda yang menjadi tamu di rumah itu pergi, meninggalkan tuan rumah yang terlihat bingung.


"Dia ngomong apa yah?" Tanya Gea pada Ayahnya yang duduk terdiam setelah Alvino pergi.


"Dia akan menuntut balik uang yang sudah ayah terima kalau ayah tidak bisa mencegah perceraian yang Alika ajukan." Jawab Brata


"Apa? Jadi Alika mau bercerai yah, kenapa kita enggak tahu kabar itu?" Gea langsung terperanjat.


"Ya mungkin Halimah sudah tahu tentang semua ini, tapi dia tidak memberitahu kita. Persidangannya saja sudah berjalan saat ini." Ucap Brata


"Apakah mereka bercerai atas keputusan bersama?" Tanya Gea


"Awalnya iya, tapi Alvino berubah pikiran. Dia ingin kembali dengan Alika entahlah apa yang sudah terjadi pada mereka. Ayah tidak mau tahu. Tapi katanya sekarang Alika dekat dengan pria kaya yang sangat baik padanya. Bahkan pria itu membuat hidup Alika terjamin sekarang." Ucap Brata yang membuat Gea langsung iri hati mendengarnya. Tapi Gea lebih mengkhawatirkan hubungannya dengan Adi yang pastinya terancam.


"Aku saja saat ini belum menikah dengan Adi, tapi perempuan sialan itu sudah mau bercerai saja. Bisa-bisa Adi akan meliriknya lagi jika tahu dia janda. Apapun caranya kita harus menghentikan perceraian itu Ayah." Ucap Gea menggebu.


"Ya, Ayah sudah tahu apa yang harus kita lakukan. Ayo ikut, kita harus menemui Halimah untuk mempertanggung jawabkan ini semua." Ucap Brata.


Sampai di rumah Halimah, Brata langsung meminta pertanggung jawaban untuk masalah ini. Jika Halimah tidak mau membujuk Alika untuk tidak menghentikan perceraian, ia harus mengembalikan uang sebesar lima ratus juta padanya.


"Cegah perceraian ini atau kembalikan uang lima ratus juta yang sudah ku keluarkan untuk biaya pernikahan dan biaya rumah sakit." Ucap Brata


"Iya nggak bersyukur banget itu Alika, sudah dinikahkan dengan pria kaya tapi malah minta cerai." cibir Gea menimpali perkataan Ayahnya.


"Kamu ya jangan asal ngomong, kamu itu tidak tahu apa yang dialami Alika selama berumah tangga. Kalau enak menikah dengan pria kaya kenapa dulu tidak kamu saja yang menikah dengannya." Ucap Halimah yang merasa tidak terima dengan cibiran Gea untuk Alika.


Gea langsung murka, dia ingin sekali menjawab omongan wanita yang jelas lebih tua darinya itu. Tapi di cegah oleh ayahnya.


"Sudahlah tidak perlu berdebat, pokoknya aku tidak mau tahu. Alika tidak bisa bercerai begitu saja dari Alvino. Kalau tetap nekat, kalian harus mengembalikan uang 500 juta." Ucap Brata yang kemudian meninggalkan tempat bersama dengan Gea.


Flashback off


**


Alika sudah sampai di Bandung. Dia juga sudah mendengar cerita dari Bibinya tentang masalah yang menyangkut dirinya. Danish pun merasa geram mendengar semuanya.


"Kau jangan turuti perintah pamanmu yang jahat itu Al, dia hanya mengambil keuntungan darimu saja." Ucap Danish


"Iya mas, paman Brata memang sangat licik. Tapi ini pasti ada sangkut pautnya dengan mas Alvino." Ucap Alika


"Bukankah perceraianmu ini kesepakatan kalian berdua?" Tanya Bibi Halimah


"Iya bi, kita sepakat bercerai dan mas Alvino juga akan segera menikah lagi dengan kekasih lamanya." Jawab Alika


"Kok aneh sekali ya, tentu saja ini ada hubungannya dengan Albino eh Alvino, Karena kan jelas kalian berdua sudah sepakat bercerai, pamanmu nggak akan mungkin heboh kalau tidak dapat tekanan dari pihak Alvino.


"Iya mas, apa lagi maunya mas Alvino itu. Tapi lebih baik kita temui paman Brata dulu. Dia tidak bisa semena-mena seperti ini. Dia saja sudah mengingkari janjinya dengan tidak memberikan sebagian lahan kebun padaku." Ucap Alika


Danish pergi bersama Alika menuju rumah paman Brata. Mereka berjalan kaki, karena rumah paman Brata tidak jauh dari sana. Di jalan kebetulan sekali mereka berpapasan dengan Adi. Pria yang masih mencintai Alika itu pun teramat senang dan langsung berhenti untuk menyapa Alika. Dia menstandarkan motornya dan kemudian mendekat pada Alika.


Danish memberikan tatapan tajam pada Adi. Tapi nampaknya mantan kekasih Alika itu malah menganggap Danish tidak ada di sana.


"Al aku dengar kamu bercerai dengan suamimu? Apakah dia menyakitimu? Dimana dia sekarang, biar aku beri pelajaran." Ucap Adi dengan ekspresi khawatir yang berlebihan.


Danish yang mendengar itu tersenyum sinis. "Ck,, Tidak usah menjadi pahlawan ke sorean deh." Ucap Danish mencibir Adi.


"Kamu siapa sih perasaan nyaut terus, saya ini nanya sama Alika bukan kamu!" Tiba-tiba saja Adi emosi, padahal Danish masih biasa saja.


"Oh kau mau berkenalan denganku, perkenalkan namaku Danish. Aku teman dekat Alika." Ucap Danish sembari mengulurkan tangan tapi tidak di sambut baik oleh Adi.


"Al jawab pertanyaanku," Adi malah fokus pada Alika yang hanya diam seakan malas bertemu dengannya.


"Rumah tanggaku itu urusanku mas, jadi kamu tidak perlu tahu. Lebih baik mas Adi pergi saja, aku tidak mau Gea salah paham dan menuduhku yang tidak-tidak." Ucap Alika dengan tegas tapi Adi malah memegang tangannya. Tentu hal Danish tidak suka melihatnya. Dia ingin menyingkirkan tangan Adi. Tapi ternyata Alika sudah lebih dulu mengibaskannya.


"Ayo mas Danish kita saja yang pergi." Alika menggandeng tangan Danish dan mereka melangkah pergi dari sana. Danish melambaikan tangan dan tersenyum penuh arti kepada Adi.


Adi menendangi batu yang tidak bersalah itu. Dia merasa sangat kesal di abaikan oleh Alika.


.


.


Alika dan Danish sampai di rumah milik paman Brata. Kebetulan sekali orang yang mereka cari sedang duduk di teras bersama Gea.


"Oh jadi ini alasanmu meminta cerai dari suamimu, kau memang tidak tahu malu." Ucap Gea yang langsung menghakimi Alika. Padahal Alika baru saja menginjakkan kaki di rumah itu. Alika juga belum berucap satu katapun.


Danish merasa sangat geram, dia ingin sekali memplaster mulut Gea yang lèmes itu.


"Kamu tidak tahu apa-apa lebih baik diam saja." Ucap Alika dengan tatapan tajam. Kini dia tidak akan mau lagi di tindas oleh sepupunya yang jahat itu.


"Oh kau sudah berani padaku ya!" Gea membentak Alika. Dia merasa tidak suka Alika menjawab perkataannya seperti itu.


"Gea aku kemari bukan untuk berdebat denganmu. Jadi kamu diamlah. Aku kemari untuk meminta penjelasan dari paman Brata." Ucap Alika


Gea berdecak kesal mendengar Alika menyuruhnya diam.


"Apa maksud paman meminta sejumlah uang kepada bibi Halimah?" Tanya Alika langsung to the point.


"Ya karena kau bercerai dari Alvino. Kalau tidak mau mengembalikan uang itu ya gampang, kau rujuk saja dengan suamimu." Jawab Brata dengan santainya.


"Ini semua nggak masuk akal. Saya bercerai dari mas Alvino karena dia berselingkuh dan saya tidak akan pernah rujuk dengannya." Ucap Alika dengan tegas.


"Ya sudah kembalikan uangku sekarang juga." Ucap Paman Brata dengan entengnya.


"Tidak bisa!" Seru Danish yang sejak tadi diam. "Di awal pernikahan anda janji pada Alika untuk memberi sebagian lahan milik orang tua Alika yang anda kuasai seluruhnya. Tapi janji itu tidak anda tepati. Jadi anggap saja uang itu sebagai gantinya dan anda tidak berhak memintanya lagi." Ucap Danish dengan lantang membela Alika.


"Oh ya, dan satu lagi memangnya biaya rumah sakit berapa sih, juga biaya pernikahan Alika apakah mencapai ratusan juta? Kalau memang habis sebanyak itu mungkin pernikahannya bisa mewah, bahkan bisa dilaksanakan di gedung. Tapi kemarin acaranya biasa-biasa saja." Ucap Danish yang membuat Brata geram.


"Kau.."


"Husst.. Anda tidak usah mengelak lagi, saya tahu anda pasti sudah menerima banyak uang dari keluarga Alvino kan, lalu sekarang tukang selingkuh itu meminta kembali uangnya dan anda membebankan semuanya pada Alika." Ucap Danish yang semuanya benar sampai Brata sudah tidak bisa berkata-kata lagi.