Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 28


Ceplasss,,


Cipratan air mengenai tepat di wajah Danish. Ada seorang anak kecil yang sedang membawa ember berisi ikan berlarian hingga menabrak orang yang sedang berbelanja disana. Ember yang anak itu bawa terguncang hingga tumpah. Sialnya karena guncangan yang begitu keras, air itu sampai mengenai wajah Danish. Tentu saja pria berpakaian rapi itu langsung memasang raut wajah kesal. Sementara anak kecil itu kabur begitu saja.


"Yaampun mas, aduh anak kecil super aktif memang suka bikin ulah." Ucap Alika, dengan cepat Alika mengambil tisu dari dalam tasnya. Karena tangan Danish penuh dengan belanjaan, Alika pun mengusapkannya.


"Aduh maaf ya mas ini gara-gara saya ngajak ke pasar." Ucap Alika sembari mengusap-usap wajah Danish yang lumayan basah.


Danish yang tadinya merasa kesal, kini seketika kembali semringah. Bagaimana tidak, saat ini wanita pujaan hatinya berada sangat dekat sekali dengannya. Dirinya bisa melihat jelas wajah cantik Alika yang tengah mengusap-usap wajahnya.


"Keguyur air comberan pun aku rela Al kalau setelahnya kau usap-usap dengan tangan lembutmu ini." Batin Danish


Merasa sudah kering, Danish memegang tangan Alika untuk berhenti. "Sudah Al terimakasih. Ini juga bukan salahmu kok." Ucap Danish dengan senyuman penuh arti.


"Mari kita pulang." Ajak Danish, kemudian mereka pun lanjut menuju mobil.


***


Sampai dirumah Danish juga membantu Alika memasukkan belanjaan ke dalam rumah. Kemudian Danish pamit karena harus ke kantor lagi. Ada berkas yang harus ia tanda tangani.


Bak seorang istri, Alika mengantarkan Danish hingga kedepan. Tak lupa dia mengucapkan terima kasih. Kemudian mereka berdua saling melambaikan tangan.


Adegan itu disaksikan oleh Jenny yang berada di balkon teras lantai dua. "Sepertinya sebentar lagi aku akan benar-benar mempunyai kakak ipar." Gumam Jenny seraya tersenyum tipis.


Alika melambaikan tangan pada Jenny. Karena memang keberadaan Jenny terlihat jelas oleh Alika.


"Hai mbak Alika," Sapa Jenny dari atas.


"Hai Jen, kamu lagi ngapain?" Tanya Alika berbasa-basi ntuk membalas sapaan Jenny.


"Lagi santai aja nih mbak, suntuk aja nggak ada teman. Tunggu aku turun kesana. Kayanya nggak enak ngobrol teriak-teriak gini." Ucap Jenny sembari tertawa kecil. Adik kandung Danish itu berlari menuruni tangga untuk pergi kerumah Alika.


"Nona anda mau pergi kemana? Mari saya antar." Sapa Felix yang tadinya duduk di teras.


"Apaansih, aku cuma mau ke depan situ. Lebih baik kau pulang saja sana. Hari ini aku tidak akan pergi kemana-mana. Jadi kau tidak perlu mengawalku." Tegas Jenny pada Felix. Kemudian dia berlalu begitu saja menuju rumah Alika.


***


Disinilah kedua wanita cantik yang mungkin akan menjadi saudara ipar itu berada. Di dapur rumah yang ditinggali oleh Alika. Karena merasa tidak ada pekerjaan, Jenny dengan senang hati membantu Alika memasak.


"Hemm kalau punya kakak ipar seperti mbak Alika aku oke aja sih, daripada si nenek sihir itu. Belum apa-apa saja dia sudah ingin menyakitiku dengan kuku tajamnya." Ucap Jenny yang kembali mengingat saat Isabel datang kerumahnya. Memaksa untuk bertemu Danish.


"Ah kamu ini, mas Danish bisa mendapatkan yang lebih dari saya. Tapi nenek sihir yang kamu maksud itu siapa Jenny?" Tanya Alika merasa penasaran.


"Namanya Isabel, wanita yang sangat tergila-gila dengan kakakku. Tapi hati kak Danish itu sudah jatuh kepadamu mbak," Jawab Jenny dengan jujur.


Alika sudah tahu tentang perasaan Danish. Tapi dia merasa tidak pantas untuk Danish. Mereka berdua itu berbeda. Danish dari keluarga kaya, sementara dirinya hanya orang biasa. Terlebih statusnya bukan perawan lagi.


"Jadi mas Danish itu sudah banyak melukai banyak hati wanita dong," Ucap Alika


"Ya begitulah mbak kelakuan kakakku. Tapi sekarang sudah ada yang membuka kunci hatinya, yaitu mbak Alika." Ucap Jenny seraya tersenyum. "Kak Danish sangat terpuruk saat tahu mbak Alika menikah. Baru sekali itu aku melihatnya patah hati."


Alika merasa kasihan setelah mendengar cerita dari Jenny. Tapi Jika saja dia jadi dengan Danish, kemungkinan akan banyak sekali pihak yang tidak menyukai hubungan mereka. Terutama wanita-wanita yang pernah memiliki hubungan dengan Danish.


"Halo mbak Alika kok bengong sih?"


"Eh enggak kok, saya mendengarkan kamu berbicara kok."


"Emhh,, mbak Alika punya perasaan enggak buat kak Danish? Aku setuju loh kalau mbak Alika jadi kakak iparku." Ucap Jenny


"Untuk saat ini tidak. Lagipula saya masih belum resmi bercerai dengan mas Alvino. Dan seperti yang saya katakan tadi, saya itu tidak pantas masuk ke dalam keluarga kalian." Ucap Alika yang sadar akan status sosialnya yang berbeda jauh dengan Danish.


"Kalau boleh tahu kenapa mbak Alika bercerai?" Tanya Jenny yang memang belum tahu soal rumah tangga Alika.


"Pernikahan saya dengan suami memang tidak didasari cinta. Suami saya mencintai wanita lain. Jadi saya harus rela melepasnya." Jawab Alika dengan tanpa menjelekkan nama suaminya.


Jenny pun tidak melanjutkan pertanyaannya. Karena rasanya tidak baik jika terlalu mengulik kehidupan rumah tangga Alika yang menyedihkan. Gadis yang belum tahu menahu masalah pernikahan itu, hanya bisa mengusap lembut bahu Alika.


***


Saat makan malam tiba Danish ingin langsung pergi ke rumah pujaan hatinya. Namun sayang sekali niatnya itu harus gagal karena dihentikan oleh mamanya. Mau tidak mau Danish pun bergabung duduk di meja makan.


"Danish kamu sudah dua malam ini loh nggak ikut makan bareng. Mau kemana sih?" Tanya Mama Vella


"Kemana lagi mah kalau bukan ke rumah depan." Celetuk Jenny


"Memangnya siapa tetangga depan? Bukannya tetangga depan kita itu sudah pindah mah," Ucap Papa Bima


"Rumah itu sekarang sudah ada yang menempati pah, namanya Alika. Dia gadis yang dulu ingin dinikahi Danish." Ucap mama Vella menjelaskan.


"Jadi Danish berhubungan dengan istri orang gitu maksudnya!" Seru papa Bima yang masih salah paham.


"Biar aku jelaskan ya pah, Alika itu sedang proses bercerai dengan suaminya. Aku sama dia juga tidak punya hubungan. Aku hanya membantu dia mencarikan tempat tinggal." Jelas Danish sebelum papanya emosi karena salah pengertian.


"Tapi cerainya bukan karena kamu kan?" Tanya Papa Bima dengan serius.


"Astaga papa, aku memang mencintai Alika. Tapi aku tidak serendah itu untuk merebut istri orang. Suami Alika berselingkuh dan berniat memadunya." Ucap Danish yang akhirnya membuat papanya kembali menstabilkan emosi.


"Kasihan ya Alika, padahal dilihat dari orangnya sepertinya Alika itu gadis yang baik." Ucap mama Vella yang sudah melihat Alika secara langsung.


Obrolan mereka pun terhenti saat tiba-tiba seseorang datang ke sana.


"Selamat malam om, tante, Jenny dan my baby eh Danish." Sapa wanita berpakaian seksi yang tidak lain adalah Isabel. Kedatangannya membuat mood Danish langsung down.