
Hari sudah berganti petang, lantunan adzan magrib terdengar di telinga Alika yang masih berada di taman. Ya, dia tidak langsung pulang ke rumah setelah kejadian tadi. Dirinya merasa malu untuk pulang ke rumah. Berita tentangnya yang berciuman dengan Danish pasti sudah tersebar luas.
"Aku malu untuk pulang ke rumah, bagaimana kalau Pak Bima dan Bu Vella sudah mendengar hal ini? Akan dianggap wanita apa aku oleh mereka,"
"Tapi aku tidak kuat juga lama-lama di sini, period hari pertama rasanya sangat nyeri. Untung saja aku selalu sedia pembalut di tasku." Ucap Alika dengan memegangi perutnya yang terasa nyeri. Tapi dia masih ragu untuk melangkah pulang.
Sejak tadi ponsel Alika terus berdering, tapi di abaikannya. Karena itu panggilan dari Danish. Sebenarnya dia tidak marah dengan Danish. Dia hanya tidak sanggup bicara pada pria yang sudah menciumnya hari ini.
"Maafkan saya mas Danish, saya belum siap bertemu dan berbicara dengan mas Danish." Ucap Alika
Dan lagi-lagi dia teringat kejadian saat bibirnya menyatu dengan Danish tadi. Jantungnya langsung berdegup kencang. Pipinya pun memerah.
"Ciuman mas Danish rasanya beda dari yang kurasakan saat dulu dengan mas Alvino." Ucap Alika tanpa sadar. Di detik berikutnya dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Astagfirullah Alika, apa yang ada dalam pikiranmu ini. Bisa-bisanya kamu memikirkan itu. Ini itu masalah besar buar kamu." Ucap Alika pada dirinya sendiri.
Alika berdiri dan mengambil nafas panjang. Dia meyakinkan diri sendiri bahwa hal ini tidak akan membawa masalah.
"Ya, aku harus pulang sekarang. Aku tidak mungkin terus menghindar. Nanti malah di kiranya aku marah dengan mas Danish. Jika nanti pak Bima ataupun Bu Vella tahu tentang ini, pastinya mas Danish akan membantu menjelaskannya. Ya, aku akan pulang sekarang. Tapi pertama-tama aku akan mengirim pesan pada mas Danish agar dia tidak menghawatirkanku." Ucap Alika bermonolog.
Mas maaf, saya tidak marah kok. Sebentar lagi saya pulang. Nanti kita bicara di rumah saja. Saya baik-baik saja.
Pesan Alika terkirim kepada Danish. Setelah itu dirinya menghentikan sebuah taksi.
"Pak ke griya cendana ya," Ucap Alika pada sopir taksi
"Baik mbak," Balas sopir taksi
Taksi pun melaju menuju kompleks perumahan griya cendana.
Triiing.. Triing..
Ponsel Alika berbunyi. Tertulis nama Gea di layar ponselnya.
"Tumben sekali Gea menelefonku, oh iya dia kan masih ada di Jakarta. Apa mungkin dia butuh bantuanku?"
"Halo Gea ada apa?"
"Alika suamimu pingsan."
"Mas Alvino pingsan, pingsan kenapa?"
"Aku juga tidak tahu, kau kemarilah. Aku sangat takut. Aku share locationnya sekarang."
"Tapi Gea .." tutt tut... Telefon terputus. Pesan Dari Gea yang berisi lokasi dimana Alvino pingsan, masuk ke ponsel Alika.
"Aduh,, ini beneran enggak ya? Apa jangan-jangan ini bagian dari rencana mereka untuk menjebakku," Ucap Alika yang merasa ragu datang kesana.
Ting ...
Satu foto di kirimkan oleh Gea. Terlihat kondisi Alvino yang pucat dan tergeletak di lantai. Kelihatannya seperti asli.
^Alika cepat kemari, aku takut suamimu mati. Aku tidak mau di salahkan.^ isi pesan Gea pada Alika
"Pak maaf saya ganti tujuan ya, ke hotel Grand ya pak." Ucap Alika
"Baik mbak."
...****************...
Alika sampai di hotel Grand, saat ini dia sudah berdiri di depan pintu kamar nomor 507. Rasanya berat sekali melangkah masuk ke dalam. Karena memang Gea sudah berkata jika pintunya tidak di kunci.
Tiba-tiba Gea membuka pintu dan menariknya ke dalam. Tapi kemudian Gea keluar. Gea mengunci pintu kamar hotel itu dengan kartu yang di bawanya.
"Target masuk perangkap. Selamat bersenang-senang sepupuku." Ucap Gea tersenyum penuh kemenangan.
Sementara di dalam kamar hotel Alika berusaha membuka pintu kamar itu. Tapi dia gagal. Pintu sudah terkunci rapat dan hanya dapat di buka dengan kartu akses kamar tersebut.
"Alika, akhirnya kamu datang juga." Ucap Alvino yang berjalan mendekat pada Alika. "Aku sangat merindukanmu Alika," Alvino mencoba memeluk Alika. Tapi wanita yang masih berstatus istrinya itu menghindar.
"Kenapa kamu menghindar Al, tidak salah bukan seorang suami memeluk istrinya,"
"Salah mas, kita dalam proses bercerai tidak boleh begini. Buka pintunya mas, aku tidak mau di sini." Ucap Alika dengan tegas.
"Kenapa tidak boleh Al, kita belum resmi bercerai jadi kamu masih halal untukku." Alvino malah menghimpit tubuh Alika di dinding.
"Mas jangan begini, lepaskan aku!" Teriak Alika
"Tidak akan aku lepaskan waulupun kamu berteriak sekencang-kencangnya. Aku sangat merindukanmu sayang." Ucap Alvino, kemudian dia ingin mencium bibir Alika.
Jedug....
Alika menendang area sensitif Alvino, hingga membuat pria itu kesakitan dan jatuh tersungkur.
"Aaahh,," Pekik Alvino seraya memegangi miliknya yang terasa sakit.
"Alika! Kenapa kamu menendangku? Oh ... Kamu lebih suka di cium pria lain ketimbang aku suamimu sendiri!" Seru Alvino dengan nada membentak. Tapi kemudian dia tersenyum licik, berdiri dan kembali mendekat pada Alika.
"Pokoknya malam ini kamu harus melayaniku. Kalau pria lain bisa mendapatkan ciumanmu, aku sebagai suamimu harus mendapatkan lebih dari itu. Malam ini rasakan hukumanmu!" Ucap Alvino dengan tatapan yang membuat Alika takut.
"Apa yang kamu lakukan mas, mundur!Jangan mendekat." Teriak Alika seraya terus mencoba menghindar dari Alvino.
Namun sialnya Alika malah tersandung dan terjatuh. Hal itu cukup menguntungkan Alvino. Dengan cepat pria itu menindih tubuh Alika agar tidak dapat berkutik lagi. Kemudian Alvino terus mencoba menciumi Alika, tapi Alika terus memalingkan wajahnya dan berusaha keras mendorong tubuh Alvino.
"Diam Alika!" Bentak Alvino dengan suara sangat keras. Hingga membuat Alika ketakutan dan menangis. "Aku ini suamimu, kamu tidak boleh menolak ini. Diam dan nikmati saja." Ucap Alvino sembari mencoba melepaskan celana yang di kenakan Alika.
"Mas jangan, kita tidak boleh begini. Lagipula aku sedang berhalangan. Tolong jangan lakukan." Ucap Alika memohon.
"Alah kamu pasti hanya alasan agar aku tidak melakukannya. Aku akan tetap melakukannya." Ucap Alvino dengan tetap berusaha melepaskan celana Alika. Tapi dia kesulitan membuka ikat pinggang yang di pakai Alika.
"Arrgh,, Sial, kenapa susah sekali!" Umpat Alvino dengan rasa tidak sabarnya.
Setelah lama berusaha, akhirnya ikat pinggang itu terlepas. Alvino tersenyum senang. Namun dia menemui kesulitan berikutnya. Resleting celana Alika juga susah sekali di buka. Kemudian dia mencoba merobek celananya, tapi kain celana itu sangat kuat. Sehingga susah untuk di robek dengan tangan kosong.
"F*ck! Susah sekali ini dibuka." Umpat Alvino merasa sangat kesal.
Alika memanfaatkan situasi ini, dia memberontak dengan sekuat tenaga mendorong Alvino. Usahanya itu berhasil. Tapi dia masih belum bisa keluar dari sana. Karena kamar masih terkunci.
"Kau mau lari kemana Al, kau tidak akan bisa kabur dariku. Kuncinya ada padaku." Ucap Alvino dengan senyum liciknya. Alvino kembali bangkit. "Kemarilah sayang, ayo lah kita bersenang-senang. Kita buat gantinya anak kita yang sudah meninggal itu."
"Ya Allah, tolong aku." Batin Alika sudah merasa sangat takut. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Tasnya di rebut oleh Gea tadi. Jadi untuk menelefon meminta pertolongan, tidak bisa dia lakukan.