Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
PHCP Bab - 61


Dekorasi bunga-bunga dan lampu-lampu bertebaran menghiasi halaman belakang Villa milik keluarga Argantara. Pernikahan Danish akan di selenggarakan di Villa itu.



Hanya dalam hitungan kurang dari satu jam, Danish dan Alika akan resmi menjadi suami istri. Hari ini merupakan hari paling bahagia bagi keduanya. Setelah lika-liku yang mereka lewati akhirnya tiba juga hari yang di nanti.


Dengan setelan beskap berwarna putih, di padukan dengan kain jarit yang menghiasi pinggang hingga lutut, membuat Danish terlihat begitu sempurna.


"Door.." Untuk kesekian kalinya Miko mengagetkan sepupunya yang tengah tegang itu.


"Kau ini.." pekik Danish sembari mengelus dada.


"Eist.. Pengantin tidak boleh emosi. Apakah kau sudah menghafal kata-kata untuk ijab kabulnya kak?" Tanya Miko.


"Itu sudah sangat di luar kepala." Jawab Danish dengan penuh percaya diri.


"Ya baguslah. Tadi barusan aku ke ruangan Alika di make up. Dia benar-benar sempurna." Ucap Miko penuh ekspresi.


"Apa kau ada fotonya?" Danish langsung bersemangat ingin melihatnya.


"Ada sih, tapi kau tidak boleh melihatnya. Nanti kau juga akan tahu. Aku mau icip-icip makanan dulu, daah." Ucap Miko seraya berlalu pergi.


"Ck,, dasar menyebalkan!" Seru Danish merasa kesal.


Danish pun sendiri lagi, dia menatap ke kaca. Rasanya masih sulit percaya jika hari ini dia akan resmi menjadi suami Alika. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya tiba-tiba saja bergetar berkeringat.


"Kenapa aku jadi gugup begini," Gumam Danish. Kemudian dia menghela nafas dalam dan menghembuskannya dalam beberapa kali.


**


Acara akad nikah pun tiba. Saat ini Danish sudah duduk berhadapan dengan bapak penghulu. Terlihat sekali ketegangan di wajahnya.


Mama Vella mengusap pundak putra tercintanya itu dan berbisik menyemangatinya. Danish pun mengangguk saja. Dia menegakkan posisi duduknya dan mengukir senyum untuk menutupi ketegangannya.


Ijab kabul pun di mulai. Dengan satu nafas Danish berhasil memperistri pujaan hatinya.


"Bagimana para saksi?"


"SAH.. SAH.." Semuanya serempak menjawab.


Suasana bahagia campur haru biru pun tercipta. Mama Vella tak kuasa membendung air matanya. Begitu pula dengan Bibi Halimah yang merasa terharu akhirnya Alika dinikahi oleh pria yang benar-benar mencintainya. Dia berharap semoga ini pernikahan terakhir untuk keponakannya itu.


Dan inilah yang paling di tunggu oleh Danish. Acara pertemuannya dengan Alika yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Di dampingi oleh si kembar Mazaya Mazayra, Alika berjalan menuju pelaminan. Aura kecantikannya terpancar dengan balutan kebaya putih. Alika tersenyum cerah sangat terlihat pancaran kebahagiaan di matanya.


Sementara itu di sisi lain Danish menatap Alika dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata bahagianya tidak dapat terbendung lagi.


Pertama-tama Alika langsung mencium tangan Danish yang kini sah menjadi suaminya. Lalu kemudian Danish mencium kening Alika dengan penuh cinta.


Acara terus berlanjut, suasana haru biru kini sudah lewat. Kini semua terlihat senang menikmati hiburan yang ada di dalam acara pernikahan Danish dan Alika.


Miko asik berduet dengan penyanyi yang memang di undang untuk memeriahkan acara. Dan yang lainnya asik berjoget ria. Ada juga yang masih menikmati hidangan yang tersedia. Felix pun yang notabene bodyguard kaku, hari ini ikut berjoget karena di tarik oleh Miko.


Sementara Jenny berusaha untuk tetap anggun tidak mau ikut berjoget ria seperti sepupu dan temannya. Karena saat ini dia sedang ingin mengambil hati keluarga Arkala yang turut hadir di sana.


"Astaga joget macam itu si kaku." Gumam Jenny seraya tersenyum getir saat melihat Felix.


"Jen ternyata bodyguardmu lucu juga kalau lagi begitu." Ucap Arka yang sejak tadi berdiri di sebelah Jenny.


"Ah dia memang aneh kak." Balas Jenny seraya tertawa kecil. "Lucuan kau kak Arka, my crush." Sambung Jenny dalam hati.


Akhirnya sampai di penghujung acara, yaitu acara pelemparan bunga. Untuk kali ini Jenny adalah orang yang paling semangat. Dia meyakini jika mendapatkan bunga itu jodohnya sudah dekat yaitu Arka.


"Satu, dua, tiga..." Hitung semua kompak.


HAP ..


Dengan sigapnya Jenny mengikuti kemana bunga itu terlempar. Dia berhasil mendapatkannya. Tapi, bukan dia sendiri yang mendapatkannya. Bunga itu jatuh pada Felix. Jadi secara bersamaan Jenny dan Felix memegang bunga itu.


"Wah di tangkap bersamaan gaess, mungkinkah mereka berjodoh?" Ujar pembawa acara.


Jenny langsung menjauh dan merelakan buket untuk Felix saja. Dia juga memberikan penolakan atas perkataan pembawa acara.


Di tengah-tengah kebahagiaan acara pernikahan Danish dan Alika, ada satu orang yang terlihat sangat iri kepada Alika. Orang itu tidak lain, tidak bukan adalah Gea.


"Dia janda tapi pernikahannya mewah sekali. Nggak sepadan sekali." Gumam Gea merasa kesal sendiri.


"Kenapa? Kau menyesal menikah denganku hanya di KUA saja," Sahut Adi yang mendengar apa yang di bicarakan istrinya.


"Tidak, aku tidak berbicara seperti itu." Ucap Gea dengan perasaan dongkolnya.


Gea dan Adi sudah menikah beberapa bulan yang lalu, tepatnya setelah Alika resmi bercerai dengan Alvino. Tentu saja pernikahan itu terjadi bukan atas kemauan suka rela dari Adi. Pernikahan itu terjadi atas paksaan Brata dan juga drama bunuh diri yang dilakukan Gea waktu itu.


Mereka menikah hanya di KUA atas permintaan khusus Adi. Dia mau menikahi Gea, tapi dia tidak mau menggunakan sepeserpun uang milik Brata dalam acarnya. Karena Adi bukan berasal dari orang kaya, pernikahan pun hanya sederhana tanpa ada acara besar.


****


Taburan bunga mawar merah bertebaran di semua sudut kamar. Kamar yang di desain khusus untuk pengantin baru itu bersuasana romantic. Kamar itu juga terletak di villa belakang. Yang memang di khususkan untuk Danish dan Alika saja. Keluarga lain yang tidak langsung pulang ke Jakarta sudah di sediakan tempat masing-masing.


Saat tiba di dalam kamar, tiba-tiba saja ada rasa canggung antara Danish dan Alika. Malam ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri.


"Mas aku yang mandi duluan ya," Ucap Alika.


"Iya sayang." Ucap Danish.


"Eh tapi minta tolong lepaskan gaun berat ini mas, resletingnya ada di belakang." Ucap Alika sembari membelakangi Danish.


Bukannya langsung melakukannya, Danish malah terdiam. Tangannya gemetar dan jantungnya berdegup kencang.


"Mas ayo bukain." Pinta Alika lagi.


"Iya sayang sebentar." Ucap Danish kelabakan.


Resleting di turunkan sampai ke bawah sehingga gaun yang di kenakan Alika pun mulai mengendur. Dengan santainya Alika menanggalkan gaun itu. Seketika Danish berbalik badan. Dulu saat belum sah saja dia sangat ingin melihat keindahan tubuh Alika, tapi sekarang dia malah gemetaran sendiri.


Usai Alika mandi, lanjut Danish yang bergantian mandi. Saat ini Alika duduk di tepian kasur dengan segala pemikiran di dalam otaknya. Ini bukan kali pertama untuk dirinya, namun ini yang pertama untuk Danish. Alika merasa takut jika akan mengecewakan suaminya malam ini.


"Aku bukan perawan lagi, aku jadi takut jika tidak akan seperti espektasi mas Danish." Gumam Alika dengan penuh kekhawatiran.