Penakluk Hati CEO Playboy

Penakluk Hati CEO Playboy
Sibuk


Pekerjaannya sebagai CEO membuat Danish disibukkan dengan kegiatannya. Baru sampai di jakarta dia langsung meeting dengan klien. Sekitar jam delapan malam meeting selesai. Klien pergi dari restoran yang menjadi tempat meeting malam ini.


Danish masih berada disana, dia memasukkan berkas dan juga laptopnya dalam satu tas dan kemudian hendak pergi dari tempat. Tapi saat itu seorang wanita menghampiri dan mencegahnya untuk pergi.


"Hai, buru-buru banget mau kemana sih?" Sapa wanita itu.


"Mau kemana bukan urusanmu." ketus Danish.


"Oh sekarang jadi ketus banget ya, dulu aja selalu baby sweeti honey temenin jalan yuk. Kamu nggak lupa kan sama aku baby," Ucap wanita yang berpakaian seksi itu seraya membelai pipi Danish.


"Ya aku ingat karena aku tidak amnesia." Ucap Danish menatap datar kepada wanita itu.


"Danish kenapa sih kamu jadi berubah gini, aku sudah terlanjur cinta sama kamu. Kamu nggak bisa ninggalin aku begitu saja."


"Isabel stop ya, sudah kuingatkan kita itu dari dulu tidak pernah ada hubungan. Kenapa kau harus mengejarku? Bukannya pacarmu banyak, sudah aku capek. Jangan ganggu aku lagi."


Danish melangkah pergi dari sana. Dia sudah tidak menghiraukan lagi panggilan dan juga ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Isabel untuk mencegahnya pergi.


"Haah.. Sial! Awas aja ya, suatu hari nanti kau akan bertekuk lutut padaku." Isabel mendengus kesal.


🍁🍁🍁


Danish pulang kerumah disambut oleh mamanya. Dia langsung menghamburkan pelukan pada mamanya.


"Aduh aduh tumben sekali mau peluk mama," Ucap Vella


"Aku rindu sekali dengan mama. Aku lihat mama semakin cantik." Ucap Danish yang kin sudah melepaskan pelukannya.


"Ehmm.. Pasti ada maunya tuh mah." Celetuk Jenny yang duduk di kursi sofa dengan mata yang fokus menatap majalah.


"Thats right, Hmm." Ucap Danish seraya tersenyum memperlihatkan giginya.


"Jadi gini loh mah, permintaanku kali ini sangat serius." Ucap Danish kemudian dia membisikkan permintaanya pada mamanya. Jenny menatapnya intens, dia penasaran apa keinginan kakaknya itu.


"Kamu serius sayang?" Tanya Vella pada putranya.


"Ya aku sangat serius mam."Jawab Danish dengan mantap.


"Mah kakak minta apa sih?" Tanya Jenny yang kepo.


"Husst anak kecil jangan ikutan. Sebaiknya kau ke kamar cuci muka cuci kaki terus tidur." Ucap Danish, Jenny menatapnya sinis dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.


"Hmm mama bicarakan dulu dengan papa. Lebih baik kamu istirahat sekarang." Ucap Vella, kali ini dia tidak bisa asal mengiyakan keinginan putranya.


"Okey mam, good night."


Di dalam kamarnya, Danish belum juga bisa memejamkan matanya. Dia terus menatap fotonya bersama Alika.


"Alika entah mengapa setiap melihatmu jantungku selalu berdetak lebih kencang. Alika tidak tahu mengapa dengan mudahnya kau mengambil hatiku ini." Gumam Danish hingga akhirnya dia tertidur.


🍁


🍁


Jam lima pagi, Danish sudah terlihat segar. Dia bangun sejak jam empat pagi kemudian mandi dan melakukan kewajibannya. Sinar matahari sudah mulai terlihat. Tapi adiknya belum terlihat bangun. Danish pun mencoba membangunkannya. Kebetulan kamar Jenny tidak terkunci.


"Cantik-cantik tidurnya berantakan juga." Gumam Danish melihat pola tidur sang adik.


"Apaan sih bisa nggak, nggak usah ganggu-ganggu. Udah cukup ya seharian kau mengikutiku!" Umpat Jenny, dia mengigau seakan yang membangunkan dirinya adalah Felix.


"What? Kaya nggak punya kesibukan lain aja aku mengikutimu. Cepetan bangun, subuhnya keburu abis."


"I'm on my period. Keluar sekarang juga." Ucap Jenny dengan masih memeluk guling dan memejamkan matanya.


"Itu bukan alasan untuk bangun siang. Ayo temani aku lari pagi. Aku tahu kau belum mulai kuliah kan, Ayo jangan malas." Danish menarik tangan Jenny agar ia mau bangun.


"Felix stop! Sudah kukatakan aku tidak mau. Pergi dari kamarku Felix. Atau aku akan teriak!"


"What? Felix? Hei nona aku kakakmu. Kau amnesia? Makanya buka dulu matamu lebar-lebar sebelum kau menyebut nama seseorang. Ow jangan-jangan kau suka dengan Felix?"


"Hei jaga bicaramu kak! Kau tahu dia itu sangat menyebalkan. Gara-gara dia cowok-cowok takut dekat denganku." Jenny langsung terduduk dan meluapkan kekesalannya. Tapi Danish malah tertawa dengan lantagnya membuat adiknya semakin kesal.


"Itu kan bagus, berarti dia berhasil menjagamu. Cepat bangun, temani aku lari pagi." Ucap Danish seraya mengusap kasar kepala sang adik membuat rambutnya semakin berantakan.


"Lari pagi saja sendiri. Sana keluar dari kamarku!" Jenny mendorong kakaknya hingga keluar dari kamarnya. Dia mendengus kesal mengingat tentang Felix yang super ketat menjaganya.


🍁🍁🍁


Kini di meja makan satu keluarga sudah berkumpul. Disela makan Danish mempertanyakan tentang permintaannya semalam.


"Mam jadi gimana permintaanku semalam? Mama dan papa bisa mengabulkannya kan?"


"Bisa, tapi ada syaratnya." Jawab Bima.


"Syaratnya apa pa?" Tanya Danish dengan serius. Sementara Jenny hanya diam menyimak. Karena dia belum tahu apa permintaan kakaknya. Terlihat begitu serius.


"Kamu harus mengikuti perjalanan bisnis di Malaysia dan menangkan tender terbesar disana." Jawab Bima


"Dan setelah itu mama akan mengurus lamaran kamu untuk gadis yang kamu cintai." Ucap Vella


Uhukkk. Jenny langsung tersedak mendengar ucapan sang mama. Kemudian dia menatap intens kakaknya yang duduk tepat disebelahnya. Dia merasa tidak percaya kakaknya ingin melamar seorang wanita.


"What? Jangan bilang kau mau melamar wanita gila itu," Seru Jenny


"Isabel maksudmu? Ya bukanlah," Jawab Danish dengan tegas.


"Lalu siapa?" Tanya Jenny penasaran.


"Kau tahu kok dia siapa," Jawab Danish seraya tersenyum, tapi membuat Jenny berfikir keras. Dia langsung teringat sosok gadis pembantu di villa milik orang tua Arka. Tapi belum sempat mengutarakannya, Danish sudah meninggalkan meja makan karena dia ada meeting pagi. Danish berangkat bersama sang papa.


"Jenny, Isabel itu siapa?" Tanya Vella pada putrinya.


"Dia itu wanita gila mam." Jawab Jenny yang kemudian berlalu pergi dari meja makan. Jawabannya membuat mamanya mengerutkan kening.


🍁🍁🍁


Meeting selesai jam sebelas siang. Setelah itu Danish berada diruangan papanya membicarakan tender yang harus dia dapatkan di Malaysia nanti. Dia akan berada disana kurang lebih satu bulan. Dia akan ditemani oleh Azel dan juga Miko. Ya, sepupunya itu bekerja di perusahaan milik papanya. Memang Miko masih baru, tapi pekerjaannya cukup memuaskan bagi Danish. Bukan karena dia termasuk keluarga lalu diperlakukan khusus, itu semua murni karena keahliannya.


"Seperti sebelum-sebelumnya aku harap kau bisa diandalkan wahai sepupuku yang tampan." Ucap Danish pada Miko.


"Kak kau tidak sedang demam kan? Tumben sekali memujiku seperti itu." Ucap Miko seraya menautkan kedua alisnya. Dia merasa aneh dipuji oleh sepupunya yang notabene sering menjaili dan dijailinya.


"Sudahlah, Pokoknya kita harus memenangkan tender itu. Karena perjalanan cintaku tergantung pada ini." Ucap Danish dengan tegas tapi Miko tetap saja tidak mengerti. Tapi dia enggan bertanya karena tahu yang akan didapatkannya bukan jawaban, tapi bentakan.